Pagi itu, meja makan mansion terasa lebih sunyi dari biasanya. Nares duduk di kursinya, punggung tegak, pandangan sesekali melirik ke arah tangga. Biasanya, pada jam segini Anya sudah turun dengan wajah setengah mengantuk, rambutnya masih sedikit berantakan, lalu duduk tanpa banyak bicara sambil mengambil roti. Namun hari ini, tak ada langkah kaki itu. Yang ada hanya Rosa, duduk santai di seberangnya, mengenakan pakaian yang selalu mencolok, tersenyum seolah ia adalah penghuni paling sah di tempat itu. “Selamat pagi, Nares,” sapa Rosa manis. Nares sama sekali tidak menoleh. Tangannya hanya mengaduk kopi, matanya tetap tertuju ke arah tangga yang kosong. Rosa mengeratkan senyum, menahan kesal. “Kamu nunggu Anya?” tanyanya, pura-pura santai. Tak ada jawaban. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung, hingga langkah kaki terdengar dari arah pintu samping. Jhon masuk dengan raut biasa. Nares langsung menoleh. “Kamu dari mana?” “Saya baru mengantar Nona
Last Updated : 2026-01-20 Read more