Amanda baru saja kembali dari rumah sakit. Tubuhnya lelah, kepalanya penuh, namun langkahnya tetap tegap saat memasuki rumah tua keluarga Mahesa. Di ruang tengah, Rosa sudah menunggu. Begitu melihat Amanda, Rosa langsung berdiri dan bergelayut di lengannya. “Bagaimana, Tante?” tanya Rosa dengan suara dibuat selembut mungkin. Amanda menepis tangan itu dengan satu gerakan cepat. Tatapannya tajam, dingin, jauh berbeda dari biasanya. Rosa tertegun. “Tante… kenapa?” Amanda menatapnya lurus. “Kamu yang kenapa, Rosa?” suaranya berat. “Kenapa kamu menyakiti Anya?” Rosa langsung menggeleng, ekspresinya berubah panik. “Enggak, Tante. Jangan bilang Tante juga percaya omongan mereka?” Amanda menarik napas panjang. “Gara-gara kamu, kondisi Anya makin buruk.” “Enggak, Tante,” Rosa menggeleng lagi, kali ini dengan mata berkaca-kaca. “Dia jatuh sendiri, bukan aku...” Mendengar itu, raut wajah Amanda berubah. Keraguan yang sempat muncul perlahan terkikis. Hanya satu kalimat
Last Updated : 2026-01-04 Read more