Butuh waktu baginya untuk menyadari sepenuhnya apa yang akan terjadi.Saga mulai merobek pakaiannya, menurunkan ciuman-cupiuman ringan di kulitnya.“Tenang… Yeni. Tenang…”“…Baik.”“Yeni, apa kamu menyukainya?”“Tidak… tidak.”“Kenapa tidak? Aku ingin kamu menyukainya.”“Kamu sudah keterlaluan…”“Itu salahmu,” bisik Saga, “karena kamu terlalu cantik… terlalu menggoda…”Panas aneh menjalar di tubuh Yeni. Ia menangis—bukan hanya karena tubuhnya tak kuasa, tapi karena ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri lagi.“Janji… lakukan ini hanya di kamar,” pintanya dengan suara patah. “Jangan di tempat lain…”“Kenapa?” Saga tertawa pelan sambil menciumnya.“Dulu kita di ranjang, sofa, gedung kampus, atap… itu menarik. Aku menyukainya.”Yeni hampir kehilangan akal.Dua tahun lalu, setiap kali ponselnya berdering, ia sudah merasa ngeri.Itu suara dari neraka.“Kalau tubuhmu tidak lemah,” bisik Saga, “aku ingin menarikmu ke halaman saat hujan. Pasti sangat indah.”Yeni tak sanggup
Last Updated : 2026-02-01 Read more