Declan melangkah masuk. Begitu membuka mulut, yang dilontarkannya adalah teguran. "Brenda, cuma taruh sedikit barang saja. Sejak kapan kamu jadi sepelit ini?"Safira menarik lengan bajunya, berkata dengan wajah penuh rasa kasihan, "Maaf, Bu Brenda. Aku cuma berpikir karena kamu nggak ada di sini beberapa hari ini, jadi aku pakai sementara saja. Aku nggak menyangka kamu akan marah, sampai melempar barang-barangku ke lantai ...."Sambil berkata demikian, dia bahkan hendak membungkuk padaku.Declan segera menahannya, sorot matanya tajam dan dingin. "Brenda, jangan keterlaluan. Safira juga bukan sengaja. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan."Ini sudah keberapa kalinya dia marah padaku demi Safira? Aku sendiri sudah tidak ingat lagi. Karena tidak ingin terlibat dalam sandiwara ini, aku memeluk kotak dan langsung pergi.Saat melewati Safira, tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu. Sorot mata Declan berubah, dia berusaha menarikku, tetapi tetap terlambat. Aku terjatuh ke lantai. Isi kotak berserak
Read more