Share

Bab 2

Author: Riqah
Sampai ayah dimakamkan, Declan yang katanya sedang sibuk masih tetap tak kunjung datang.

Yang kudapatkan hanyalah pesan terakhir ayah sebelum mengembuskan napas terakhir, saat dia menggenggam tanganku dan berpesan, "Declan itu anak yang baik. Tugasnya membela negara dan melindungi rakyat, wajar kalau dia sibuk. Ayah nggak menyalahkannya. Setelah kamu pulang, jangan sampai bertengkar dengannya."

'Tapi, Ayah, Declan sibuk bukan karena urusan dinas, melainkan karena dia sedang menemani Safira.'

Aku mengeringkan air mata, lalu mencuci dan merapikan peralatan makan di atas meja.

Saat menghitung mundur waktu, hanya tersisa enam hari sebelum aku pergi.

....

Hari pertama, aku datang sendirian ke kantor pimpinan unit.

"Ini adalah surat permohonan cerai antara aku dan Declan. Aku berharap pihak unit bisa segera menyetujuinya."

Tangan pimpinan unit yang sedang memegang cangkir teh terhenti. Dia segera mengambil berkas itu dan memeriksanya dengan saksama. Setelah melihat tanda tangan tanganku dan Declan di atasnya, dia menghela napas panjang.

"Kalian berdua kelihatannya baik-baik saja. Kenapa bisa sampai ke tahap bercerai?"

Ya, bagaimana bisa sampai sejauh ini?

Aku dan Declan diperkenalkan melalui perantara. Dia adalah kapten dengan masa depan yang cerah di militer, sementara aku adalah guru sekolah dasar yang lembut dan penyabar. Semua orang bilang kami pasangan yang serasi.

Namun sejak Safira kembali, kalimat yang paling sering kudengar justru adalah, "Kapten Declan benar-benar baik sama Bu Safira."

Aku menggelengkan kepala untuk menyingkirkan semua pikiran itu, lalu menjawab pertanyaan pimpinan unit, "Urusan perasaan nggak bisa dipaksakan. Kami hanya ingin berpisah dengan baik."

Pimpinan unit tidak berkata apa-apa lagi. Dia memasukkan surat permohonan itu ke dalam laci. "Datanglah lagi dua hari lagi untuk mengambilnya."

Setelah keluar dari kantor, aku pergi membeli beberapa keperluan.

Begitu sampai di konter, aku langsung melihat krim yang terpajang di rak.

Selama lima tahun menikah, aku tidak pernah tega membelinya untuk diriku sendiri.

Mengikuti arah pandanganku, kakak pegawai koperasi tersenyum sambil bercanda, "Beberapa hari lalu aku lihat Kapten Declan membeli lima atau enam kaleng krim. Cepat sekali habisnya? Bu Brenda, Kapten Declan benar-benar baik padamu."

Tanganku yang memegang barang, langsung menegang.

Beberapa hari ini aku tidak ada di rumah dan Declan sama sekali tidak pernah memberiku krim.

Mengingat aroma yang kucium tadi malam, aku langsung mengerti. Krim itu dibelikan untuk Safira.

Krim yang tidak bisa kudapatkan meski aku mengurus rumah, mencuci pakaian, dan memasak selama lima tahun untuknya. Begitu Safira kembali, dia bisa langsung mendapat lima atau enam kaleng.

Aku tidak tahu perasaan mana yang lebih dominan, entah itu rasa perih atau amarah. Menghadapi tatapan iri kakak itu, aku berkata, "Tolong ambilkan satu kaleng krim, aku beli sendiri."

Hari kelima aku berada di rumah.

Aku pergi ke kantor pimpinan unit untuk mengambil surat permohonan cerai yang sudah disetujui, lalu langsung ke sekolah untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Karena belum masuk masa ajaran baru, tidak banyak guru yang berada di kantor.

Aku datang ke mejaku untuk membereskan barang, tetapi mendapati meja itu sudah dipenuhi benda-benda yang bukan milikku. Semua tertata penuh, menutupi seluruh permukaan meja.

Buku catatanku tertekan di bagian bawah. Saat kutarik keluar, buku itu sudah rusak parah, meninggalkan bekas lipatan yang tidak mungkin dirapikan lagi.

Guru di meja sebelah memberitahuku, "Barang-barang itu milik Bu Safira yang baru datang. Waktu kamu nggak ada, Kapten Declan sendiri yang memindahkannya ke sini. Katanya meja ini kosong juga percuma."

Orang yang dimaksudnya, tentu adalah Safira, cinta pertama Declan.

Sebulan lalu, Safira bercerai dari suaminya dan kembali bekerja di Kota Joran. Sekarang dia mengajar sebagai guru pengganti di sekolah ini, statusnya masih guru kontrak.

Aku menyeringai tipis, lalu memindahkan semua barang di atas meja ke lantai dan mulai beres-beres. Saat hampir selesai, tiba-tiba terdengar seruan kaget dari belakang.

Safira berdiri di ambang pintu, dan di belakangnya ada Declan yang katanya akan menemaniku.

"Declan, lihat ini. Kenapa barang-barangku dibuang ke lantai?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 10

    Orang-orang lainnya pun tak bisa menahan diri untuk mulai berbisik-bisik."Orang macam apa itu, masih pantas disebut guru?""Safira benar-benar keterlaluan. Pantas saja dia sampai bercerai.""Mulai sekarang lebih baik kita menjauh darinya. Perempuan seperti itu apa bedanya dengan ular berbisa."....Wajah pimpinan unit tampak muram, dia kemudian berkata, "Bu Safira, masalah ini akan aku laporkan ke pimpinan sekolah. Sekolah di lingkungan militer kami tidak sanggup menampung orang sepertimu."Freyda juga menatapnya dengan penuh kebencian, di matanya terlintas secercah kepuasan.Menghadapi kebencian semua orang, Safira tidak sanggup menerima kenyataan itu dan akhirnya pingsan. Namun kali ini, tidak ada seorang pun yang ingin menolongnya.....Saat Safira sadar kembali, semua perbuatannya sudah tersebar ke seluruh lingkungan militer.Pimpinan sekolah bukan hanya memecatnya, tetapi juga mencatat pelanggaran moral di arsip pribadinya. Mulai sekarang, dia tidak akan pernah bisa menjadi guru

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 9

    Raut wajah Safira seketika diliputi ketakutan dan kepanikan, meski hanya sesaat."Pa ... Pak Usman, apa maksud perkataan Anda?"Para rekan yang ikut masuk pun berdiri di sisi ruangan. Ruang perawatan yang semula tenang mendadak terasa sempit dan penuh sesak.Semua tatapan tertuju pada pimpinan unit. Bahkan dokter dan perawat yang sedang mengobati tanpa sadar menahan napas.Freyda mencibir dingin, "Safira, minggu lalu aku suruh anakku menyampaikan pesan ke Kapten Declan bahwa ayah Bu Brenda meninggal dan menyuruhnya segera pulang ke kampung halaman untuk melayat.""Anak itu bilang kamu bilang akan menyampaikannya ke Kapten Declan, lalu menyuruhnya pulang dulu untuk makan. Benar nggak?"Suasana menjadi hening seketika.Wajah Safira pucat pasi. Dia menggigit bibirnya, lalu memutuskan untuk mati-matian menyangkal, "Bu Freyda, aku benar-benar nggak tahu soal ini. Declan, kamu harus percaya padaku."Tidak ada yang menyahut. Safira lalu melirik Cody yang sedang menggigit jarinya, nadanya mend

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 8

    Cody yang baru tujuh tahun ditarik dari tempat tidur dan hampir menangis. Melihat ibunya semarah itu, tangisnya langsung tertahan. Dia menggaruk kepalanya dan berkata pelan, "Aku sudah bilang.""Awalnya aku ke kantor Paman Declan. Mereka bilang Paman Declan pergi ke rumah sakit menjenguk Bu Safira, jadi aku pergi ke rumah sakit."Pimpinan unit mengerutkan kening. "Cody, lalu kamu ketemu Paman Declan nggak?"Cody menggeleng. "Aku cuma ketemu Bu Safira. Bu Safira bilang Paman Declan pergi beli makanan. Dia tanya aku ada urusan apa cari Paman Declan, lalu aku bilang semuanya."Hati Declan terasa mencelos. Wajahnya langsung tampak suram. "Lalu?"Cody terkejut ketakutan, lalu bersembunyi di balik tubuh Freyda sambil tergagap, "Lalu Bu Safira suruh aku pulang dulu buat makan. Katanya dia yang akan menyampaikannya ke kamu."Wajah pimpinan unit langsung menjadi gelap. Dengan gigi terkatup, dia bertanya, "Terus kamu langsung pergi?"Cody hampir menangis. "Aku sebenarnya nggak mau pulang, tapi B

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 7

    Freyda mendengus. "Memangnya dia nggak punya keluarga? Sampai harus dirawat sama pria yang sudah menikah?"Wajah Declan tampak kurang nyaman."Lagian, waktu Bu Brenda pulang ke kampung halaman, kenapa kamu nggak temani dia?" Saat mengatakan itu, dada Freyda naik turun hebat karena marah. Nada suaranya penuh kejengkelan.Declan refleks mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti kenapa Freyda bisa semarah ini. "Brenda bilang mau pulang mendadak. Kebetulan aku ada urusan, jadi aku nggak ikut. Aku sudah janji sama dia, setelah urusanku selesai aku akan menemaninya pulang."Raut wajah Freyda sedikit melunak. "Lalu, kamu sibuk apa beberapa hari itu? Kamu sudah menjelaskannya ke Bu Brenda belum?"Declan mengangguk. "Safira sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku menemaninya beberapa hari. Hal-hal itu juga sudah aku jelaskan ke Brenda.""Kamu!"Freyda berdiri dan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia menunjuk Declan dengan wajah penuh amarah."Akhirnya aku mengerti kenapa Bu Brenda lebi

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 6

    "Menurut kalian, apa jangan-jangan Bu Brenda dengar ucapan kita barusan?"Beberapa orang tanpa sadar menoleh ke arah Mino yang sejak tadi diam saja.Mendapat tatapan para rekannya, wajah Mino memerah. "Nggak mungkin. Permohonan cerai Bu Brenda sudah disetujui beberapa hari lalu, itu nggak ada hubungannya denganku!"Gilang menundukkan kepala, suaranya sangat pelan, "Bagaimanapun juga, Bu Brenda-lah pasangan seperjuangan Kak Declan. Bu Brenda sebaik itu sama kita semua. Ucapan kita siang tadi ... memang nggak seharusnya dikatakan."....Pada saat yang sama, Declan membawa surat permohonan cerai itu dan mengetuk pintu rumah pimpinan unit.Tok, tok, tok!Tok, tok, tok!Lampu di halaman menyala, istri pimpinan unit, Freyda, keluar membuka pintu."Kapten Declan? Masuklah cepat. Ada perlu apa cari Pak Usman?"Melihat wajah Declan yang penuh kecemasan, Freyda segera membuka gerbang dan mempersilakannya masuk. Declan bahkan tidak sempat memberi salam. Dia langsung bergegas masuk ke dalam rumah.

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 5

    Declan yang sedang menopang Safira di belakang, tidak mendengar dengan jelas. "Apa kamu bilang?"Rekan setim itu membuka mulut, tetapi tidak punya keberanian untuk membacakan lagi. Setelah lama terdiam, barulah dia berkata terbata-bata, "Ka ... Kak Declan, di atas meja ada surat permohonan cerai yang ditinggalkan Bu Brenda untukmu ...."Kali ini, dia mendengarnya dengan jelas.Tangan Declan yang menopang Safira seketika terlepas. Safira yang sedang lengah, langsung kehilangan keseimbangan dan terkilir."Ah ... Declan."Suaranya terdengar lembut dan manja, tetapi pria itu sama sekali tidak menoleh.Declan mendorong orang-orang yang berdesakan di dalam ruangan, lalu mencengkeram kerah baju rekan yang tadi berbicara. "Apa kamu bilang? Ulangi!"Wajahnya tampak muram. Aura tajam yang hanya dimiliki oleh orang yang pernah turun ke medan perang pun langsung menyeruak dari tubuhnya. Para rekan di sekeliling terdiam, tidak ada satu pun yang berani bersuara.Rekan itu menelan ludah, lalu berkata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status