Share

Cinta yang Tak Mungkin Kembali
Cinta yang Tak Mungkin Kembali
Author: Riqah

Bab 1

Author: Riqah
Setelah ayah meninggal, aku memutuskan untuk bercerai dari suamiku yang seorang komandan batalion, dan menetap selamanya di desa pegunungan kecil ini.

Hari pertama, aku menipu suamiku agar menandatangani surat permohonan cerai.

Hari kelima, aku mengajukan surat pengunduran diri ke unit tempatku bekerja sebelumnya.

Hari ketujuh, aku memasak semeja penuh hidangan lezat untuk berpamitan dengan semua teman.

Declan mengerutkan kening dan menyalahkanku karena memasak hidangan yang tidak disukai oleh cinta pertamanya sejak kecil. Aku berdiri, mengangkat gelas, dan bersulang dengan cinta pertamanya itu.

Mulai sekarang, Declan dan aku tidak lagi memiliki hubungan apa pun.

Setengah bulan kemudian, aku bertemu kembali dengan Declan yang baru pulang dari tugas di desa pegunungan kecil ini. Hanya saja kali ini, angin malam pedesaan membuat kedua matanya memerah.

....

Hari ketiga setelah ayah meninggal, Declan masih juga tidak datang.

"Pak Kades, aku sudah pikirkan dengan matang. Aku ingin meneruskan wasiat Ayah dan tinggal di sini untuk mengajar anak-anak," kataku dengan tegas setelah membereskan barang-barangku.

Pria itu tertegun sejenak, lalu membujuk, "Anak bodoh, kamu susah payah ikut suami ke militer. Kenapa malah kembali ke tempat miskin seperti ini untuk menderita?"

Aku menggeleng pelan dan menatap jam tangan tua peninggalan ayah di pergelangan tanganku. "Aku nggak takut menderita. Beri aku tujuh hari, aku akan mengajukan cerai darinya."

Pukul tujuh malam, aku akhirnya kembali ke rumah dinas di kawasan militer. Hidangan di atas meja masih ada, persis sama seperti saat aku pergi.

Baru saja aku meletakkan koper, suara langkah kaki terdengar dari pintu. Declan yang mengenakan seragam hijau rapi dan tubuh tinggi tegap, masuk sambil berkata dengan dingin, "Masih ada makanan? Kantin sudah tutup. Panaskan sedikit dan masukkan ke kotak makan, aku mau mengantarkannya ke Safira."

"Dia sedang sakit dua hari ini, nggak enak kalau harus masak sendiri."

Aku berbalik dan memperlihatkan wajahku yang pucat dan lelah. "Aku baru pulang, nggak sempat memasak."

Declan mengerutkan kening, tapi tidak bertanya ke mana aku pergi, juga tidak peduli pada keadaanku. Setelah mendapat jawaban, dia langsung menuju dapur.

Pikirannya saat ini hanya dipenuhi kondisi tubuh cinta pertamanya.

Aku berdiri di tempat, memandangi punggungnya yang canggung saat menggoreng telur. Selama lima tahun pernikahan, ini adalah pertama kalinya dia masuk dapur.

Sejak Safira bercerai dari suaminya dan kembali ke Kota Joran, perubahan seperti ini sudah terlalu sering kulihat. Setelah memasukkan mi ke dalam kotak makan aluminium, Declan hendak melewatiku untuk keluar, tetapi aku menghentikannya.

"Beberapa hari lagi aku harus pulang ke kampung halaman. Tolong bantu aku tandatangani formulir permohonan ini, supaya aku bisa mengurus surat pengantar."

Aku mengeluarkan surat permohonan cerai yang bahkan belum terisi, lalu memberi isyarat agar dia menandatangani bagian yang masih kosong.

Declan tertegun sesaat, lalu langsung menandatangani tanpa melihat isinya sama sekali.

"Beberapa hari lalu Safira sakit, aku nggak ada waktu. Nanti setelah dia sembuh, aku akan menemanimu pulang."

Aku menundukkan pandangan, menahan sudut mataku yang mulai memerah. "Mm."

Saat kami berpapasan, aku mencium aroma krim di tubuhnya. Krim yang selama ini tidak tega kubeli untuk diriku sendiri, tetapi sering dipakai oleh cinta pertamanya.

Begitu pintu halaman tertutup rapat, aku berjalan menuju meja makan dan melipat kertas itu dengan hati-hati.

Seminggu yang lalu, kepala desa meneleponku dan berkata bahwa ayahku tiba-tiba terkena pendarahan otak saat sedang mengajar, lalu dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan.

Aku langsung panik, berlari pulang dan menarik Declan yang hendak keluar rumah.

"Bisa nggak kamu temani aku pulang ke kampung halaman? Ayahku dia ...."

Kalimatku belum selesai, suara Safira sudah terdengar dari luar pintu. "Declan, cepatlah. Kamu 'kan sudah janji mau temani aku belanja."

Begitu mendengar suaranya, Declan langsung kehilangan kesabaran. Dia melepaskan genggamanku dan keluar begitu saja, hanya meninggalkan satu kalimat.

"Aku ada urusan. Kamu pulang saja dulu, nanti kalau aku ada waktu aku akan mencarimu."

Penantian itu pun berlangsung selama tujuh hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 10

    Orang-orang lainnya pun tak bisa menahan diri untuk mulai berbisik-bisik."Orang macam apa itu, masih pantas disebut guru?""Safira benar-benar keterlaluan. Pantas saja dia sampai bercerai.""Mulai sekarang lebih baik kita menjauh darinya. Perempuan seperti itu apa bedanya dengan ular berbisa."....Wajah pimpinan unit tampak muram, dia kemudian berkata, "Bu Safira, masalah ini akan aku laporkan ke pimpinan sekolah. Sekolah di lingkungan militer kami tidak sanggup menampung orang sepertimu."Freyda juga menatapnya dengan penuh kebencian, di matanya terlintas secercah kepuasan.Menghadapi kebencian semua orang, Safira tidak sanggup menerima kenyataan itu dan akhirnya pingsan. Namun kali ini, tidak ada seorang pun yang ingin menolongnya.....Saat Safira sadar kembali, semua perbuatannya sudah tersebar ke seluruh lingkungan militer.Pimpinan sekolah bukan hanya memecatnya, tetapi juga mencatat pelanggaran moral di arsip pribadinya. Mulai sekarang, dia tidak akan pernah bisa menjadi guru

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 9

    Raut wajah Safira seketika diliputi ketakutan dan kepanikan, meski hanya sesaat."Pa ... Pak Usman, apa maksud perkataan Anda?"Para rekan yang ikut masuk pun berdiri di sisi ruangan. Ruang perawatan yang semula tenang mendadak terasa sempit dan penuh sesak.Semua tatapan tertuju pada pimpinan unit. Bahkan dokter dan perawat yang sedang mengobati tanpa sadar menahan napas.Freyda mencibir dingin, "Safira, minggu lalu aku suruh anakku menyampaikan pesan ke Kapten Declan bahwa ayah Bu Brenda meninggal dan menyuruhnya segera pulang ke kampung halaman untuk melayat.""Anak itu bilang kamu bilang akan menyampaikannya ke Kapten Declan, lalu menyuruhnya pulang dulu untuk makan. Benar nggak?"Suasana menjadi hening seketika.Wajah Safira pucat pasi. Dia menggigit bibirnya, lalu memutuskan untuk mati-matian menyangkal, "Bu Freyda, aku benar-benar nggak tahu soal ini. Declan, kamu harus percaya padaku."Tidak ada yang menyahut. Safira lalu melirik Cody yang sedang menggigit jarinya, nadanya mend

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 8

    Cody yang baru tujuh tahun ditarik dari tempat tidur dan hampir menangis. Melihat ibunya semarah itu, tangisnya langsung tertahan. Dia menggaruk kepalanya dan berkata pelan, "Aku sudah bilang.""Awalnya aku ke kantor Paman Declan. Mereka bilang Paman Declan pergi ke rumah sakit menjenguk Bu Safira, jadi aku pergi ke rumah sakit."Pimpinan unit mengerutkan kening. "Cody, lalu kamu ketemu Paman Declan nggak?"Cody menggeleng. "Aku cuma ketemu Bu Safira. Bu Safira bilang Paman Declan pergi beli makanan. Dia tanya aku ada urusan apa cari Paman Declan, lalu aku bilang semuanya."Hati Declan terasa mencelos. Wajahnya langsung tampak suram. "Lalu?"Cody terkejut ketakutan, lalu bersembunyi di balik tubuh Freyda sambil tergagap, "Lalu Bu Safira suruh aku pulang dulu buat makan. Katanya dia yang akan menyampaikannya ke kamu."Wajah pimpinan unit langsung menjadi gelap. Dengan gigi terkatup, dia bertanya, "Terus kamu langsung pergi?"Cody hampir menangis. "Aku sebenarnya nggak mau pulang, tapi B

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 7

    Freyda mendengus. "Memangnya dia nggak punya keluarga? Sampai harus dirawat sama pria yang sudah menikah?"Wajah Declan tampak kurang nyaman."Lagian, waktu Bu Brenda pulang ke kampung halaman, kenapa kamu nggak temani dia?" Saat mengatakan itu, dada Freyda naik turun hebat karena marah. Nada suaranya penuh kejengkelan.Declan refleks mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti kenapa Freyda bisa semarah ini. "Brenda bilang mau pulang mendadak. Kebetulan aku ada urusan, jadi aku nggak ikut. Aku sudah janji sama dia, setelah urusanku selesai aku akan menemaninya pulang."Raut wajah Freyda sedikit melunak. "Lalu, kamu sibuk apa beberapa hari itu? Kamu sudah menjelaskannya ke Bu Brenda belum?"Declan mengangguk. "Safira sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku menemaninya beberapa hari. Hal-hal itu juga sudah aku jelaskan ke Brenda.""Kamu!"Freyda berdiri dan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia menunjuk Declan dengan wajah penuh amarah."Akhirnya aku mengerti kenapa Bu Brenda lebi

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 6

    "Menurut kalian, apa jangan-jangan Bu Brenda dengar ucapan kita barusan?"Beberapa orang tanpa sadar menoleh ke arah Mino yang sejak tadi diam saja.Mendapat tatapan para rekannya, wajah Mino memerah. "Nggak mungkin. Permohonan cerai Bu Brenda sudah disetujui beberapa hari lalu, itu nggak ada hubungannya denganku!"Gilang menundukkan kepala, suaranya sangat pelan, "Bagaimanapun juga, Bu Brenda-lah pasangan seperjuangan Kak Declan. Bu Brenda sebaik itu sama kita semua. Ucapan kita siang tadi ... memang nggak seharusnya dikatakan."....Pada saat yang sama, Declan membawa surat permohonan cerai itu dan mengetuk pintu rumah pimpinan unit.Tok, tok, tok!Tok, tok, tok!Lampu di halaman menyala, istri pimpinan unit, Freyda, keluar membuka pintu."Kapten Declan? Masuklah cepat. Ada perlu apa cari Pak Usman?"Melihat wajah Declan yang penuh kecemasan, Freyda segera membuka gerbang dan mempersilakannya masuk. Declan bahkan tidak sempat memberi salam. Dia langsung bergegas masuk ke dalam rumah.

  • Cinta yang Tak Mungkin Kembali   Bab 5

    Declan yang sedang menopang Safira di belakang, tidak mendengar dengan jelas. "Apa kamu bilang?"Rekan setim itu membuka mulut, tetapi tidak punya keberanian untuk membacakan lagi. Setelah lama terdiam, barulah dia berkata terbata-bata, "Ka ... Kak Declan, di atas meja ada surat permohonan cerai yang ditinggalkan Bu Brenda untukmu ...."Kali ini, dia mendengarnya dengan jelas.Tangan Declan yang menopang Safira seketika terlepas. Safira yang sedang lengah, langsung kehilangan keseimbangan dan terkilir."Ah ... Declan."Suaranya terdengar lembut dan manja, tetapi pria itu sama sekali tidak menoleh.Declan mendorong orang-orang yang berdesakan di dalam ruangan, lalu mencengkeram kerah baju rekan yang tadi berbicara. "Apa kamu bilang? Ulangi!"Wajahnya tampak muram. Aura tajam yang hanya dimiliki oleh orang yang pernah turun ke medan perang pun langsung menyeruak dari tubuhnya. Para rekan di sekeliling terdiam, tidak ada satu pun yang berani bersuara.Rekan itu menelan ludah, lalu berkata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status