LOGINSetelah ayah meninggal, aku memutuskan untuk bercerai dari suamiku yang seorang komandan batalion, dan menetap selamanya di desa pegunungan kecil ini. Hari pertama, aku menipu suamiku agar menandatangani surat permohonan cerai. Hari kelima, aku mengajukan surat pengunduran diri ke unit tempatku bekerja sebelumnya. Hari ketujuh, aku memasak semeja penuh hidangan lezat untuk berpamitan dengan semua teman. Declan mengerutkan kening dan menyalahkanku karena memasak hidangan yang tidak disukai oleh cinta pertamanya sejak kecil. Aku berdiri, mengangkat gelas, dan bersulang dengan cinta pertamanya itu. Mulai sekarang, Declan dan aku tidak lagi memiliki hubungan apa pun. Setengah bulan kemudian, aku bertemu kembali dengan Declan yang baru pulang dari tugas di desa pegunungan kecil ini. Hanya saja kali ini, angin malam pedesaan membuat kedua matanya memerah.
View MoreOrang-orang lainnya pun tak bisa menahan diri untuk mulai berbisik-bisik."Orang macam apa itu, masih pantas disebut guru?""Safira benar-benar keterlaluan. Pantas saja dia sampai bercerai.""Mulai sekarang lebih baik kita menjauh darinya. Perempuan seperti itu apa bedanya dengan ular berbisa."....Wajah pimpinan unit tampak muram, dia kemudian berkata, "Bu Safira, masalah ini akan aku laporkan ke pimpinan sekolah. Sekolah di lingkungan militer kami tidak sanggup menampung orang sepertimu."Freyda juga menatapnya dengan penuh kebencian, di matanya terlintas secercah kepuasan.Menghadapi kebencian semua orang, Safira tidak sanggup menerima kenyataan itu dan akhirnya pingsan. Namun kali ini, tidak ada seorang pun yang ingin menolongnya.....Saat Safira sadar kembali, semua perbuatannya sudah tersebar ke seluruh lingkungan militer.Pimpinan sekolah bukan hanya memecatnya, tetapi juga mencatat pelanggaran moral di arsip pribadinya. Mulai sekarang, dia tidak akan pernah bisa menjadi guru
Raut wajah Safira seketika diliputi ketakutan dan kepanikan, meski hanya sesaat."Pa ... Pak Usman, apa maksud perkataan Anda?"Para rekan yang ikut masuk pun berdiri di sisi ruangan. Ruang perawatan yang semula tenang mendadak terasa sempit dan penuh sesak.Semua tatapan tertuju pada pimpinan unit. Bahkan dokter dan perawat yang sedang mengobati tanpa sadar menahan napas.Freyda mencibir dingin, "Safira, minggu lalu aku suruh anakku menyampaikan pesan ke Kapten Declan bahwa ayah Bu Brenda meninggal dan menyuruhnya segera pulang ke kampung halaman untuk melayat.""Anak itu bilang kamu bilang akan menyampaikannya ke Kapten Declan, lalu menyuruhnya pulang dulu untuk makan. Benar nggak?"Suasana menjadi hening seketika.Wajah Safira pucat pasi. Dia menggigit bibirnya, lalu memutuskan untuk mati-matian menyangkal, "Bu Freyda, aku benar-benar nggak tahu soal ini. Declan, kamu harus percaya padaku."Tidak ada yang menyahut. Safira lalu melirik Cody yang sedang menggigit jarinya, nadanya mend
Cody yang baru tujuh tahun ditarik dari tempat tidur dan hampir menangis. Melihat ibunya semarah itu, tangisnya langsung tertahan. Dia menggaruk kepalanya dan berkata pelan, "Aku sudah bilang.""Awalnya aku ke kantor Paman Declan. Mereka bilang Paman Declan pergi ke rumah sakit menjenguk Bu Safira, jadi aku pergi ke rumah sakit."Pimpinan unit mengerutkan kening. "Cody, lalu kamu ketemu Paman Declan nggak?"Cody menggeleng. "Aku cuma ketemu Bu Safira. Bu Safira bilang Paman Declan pergi beli makanan. Dia tanya aku ada urusan apa cari Paman Declan, lalu aku bilang semuanya."Hati Declan terasa mencelos. Wajahnya langsung tampak suram. "Lalu?"Cody terkejut ketakutan, lalu bersembunyi di balik tubuh Freyda sambil tergagap, "Lalu Bu Safira suruh aku pulang dulu buat makan. Katanya dia yang akan menyampaikannya ke kamu."Wajah pimpinan unit langsung menjadi gelap. Dengan gigi terkatup, dia bertanya, "Terus kamu langsung pergi?"Cody hampir menangis. "Aku sebenarnya nggak mau pulang, tapi B
Freyda mendengus. "Memangnya dia nggak punya keluarga? Sampai harus dirawat sama pria yang sudah menikah?"Wajah Declan tampak kurang nyaman."Lagian, waktu Bu Brenda pulang ke kampung halaman, kenapa kamu nggak temani dia?" Saat mengatakan itu, dada Freyda naik turun hebat karena marah. Nada suaranya penuh kejengkelan.Declan refleks mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti kenapa Freyda bisa semarah ini. "Brenda bilang mau pulang mendadak. Kebetulan aku ada urusan, jadi aku nggak ikut. Aku sudah janji sama dia, setelah urusanku selesai aku akan menemaninya pulang."Raut wajah Freyda sedikit melunak. "Lalu, kamu sibuk apa beberapa hari itu? Kamu sudah menjelaskannya ke Bu Brenda belum?"Declan mengangguk. "Safira sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku menemaninya beberapa hari. Hal-hal itu juga sudah aku jelaskan ke Brenda.""Kamu!"Freyda berdiri dan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia menunjuk Declan dengan wajah penuh amarah."Akhirnya aku mengerti kenapa Bu Brenda lebi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.