"Joshua, kamu meragukan ketulusanku?" Tubuh Anisa seketika gemetar. Air mata yang jatuh dari sudut matanya terlihat agak ironis. Dia telah berkorban sebanyak itu, tetapi Joshua masih tidak memercayainya?"Kamu bukan dia." Bibir pria itu melengkung membentuk senyum. Dalam seketika, ekspresi Anisa langsung berubah. "Apa katamu?""Aku bilang, kamu sudah bohongi aku selama sepuluh tahun penuh. Bukankah sudah cukup lama kamu aktingnya?"Entah sejak kapan, saat mengucapkan kata-kata itu, Joshua tidak dapat menahan senyumnya. Namun, kebencian di hatinya tumbuh liar seperti tanaman merambat. Melihat wanita di hadapannya, dia tidak merasakan sedikit pun belas kasihan, sakit hati, atau rasa bersalah yang pernah dia rasakan sebelumnya. Yang tersisa hanya rasa jijik, amarah, dan kebencian yang tak berujung.Jika bukan karena Anisa menipunya, lalu membimbingnya yang masih muda dan naif ke jalan yang absurd ini, bagaimana mungkin Keluarga Hartono menjadi seperti ini? Bagaimana mungkin dia melakuka
Read more