"Pak Pri, cepat sedikit! Napas Kukuh makin pelan, Pak!" jerit Ratih dari kursi belakang. Tangannya tak henti-hentinya mengusap keringat dingin yang membanjiri dahi suaminya, sangat berhati-hati agar tidak menyentuh urat-urat yang menyala kemerahan di leher Kukuh."Sudah maksimal ini, Non! Bapak nggak berani injak gas lebih dalam lagi, jalanan aspalnya licin banget sehabis hujan!" sahut Pak Supri dengan mata terbelalak menatap jalanan gelap di balik sorot lampu depan SUV. Tangannya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. "Kita sudah masuk Jalan Randu Alas, Non! Sebentar lagi sampai di ujung jalan!"Di kursi belakang, udara terasa sangat sumpek dan panas, seolah mereka sedang membawa sebuah tungku api yang siap meledak. Dada Kukuh yang kancing kemejanya sudah terlepas sepenuhnya, memperlihatkan retakan kulit yang semakin melebar. Uap tipis berbau anyir darah terus mendesis keluar dari celah retakan tersebut. Pemuda itu sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran."Kuh, bertahan..
Baca selengkapnya