"Alhamdulillah, aspal kampus! Rasanya aku pengen sujud syukur mencium paving block depan rektorat ini!" seru Farhan, suaranya parau. Farhan merosot turun dari tangga bus sewaan, kaki gemetar, nyaris jatuh kalau tangannya tidak mencengkeram erat pinggiran pintu.Kukuh yang berjalan tepat di belakangnya hanya tertawa kecil, menggelengkan kepala. Kukuh menenteng ransel carrier besar dengan satu tangan, melangkah turun ringan seolah baru pulang dari jalan-jalan sore."Lebay kamu, Han. Baru juga mendaki gunung sekali, gayamu sudah kayak habis ikut wajib militer saja," canda Kukuh, menepuk punggung sahabatnya."Biarin lebay, Kuh! Ototku ini didesain buat duduk di kelas AC sambil baca buku, bukan buat dikejar-kejar kabut dan dengerin suara setan di tengah hutan!" rutuk Farhan, masih memijat pahanya yang kaku. "Sumpah ya, kalau tahun depan ada junior nanya gimana rasanya Diksar Mapala, aku bakal suruh mereka mikir seribu kali!"Pelataran Fakultas Kedokteran pagi itu ramai oleh puluhan mahasis
Baca selengkapnya