"Han, kamu yang bawa kendi sesajennya, aku yang pegang kompas. Kukuh, kamu yang pegang lilin dan jaga barisan di belakang," instruksi Gisella sambil merapatkan ritsleting jaket gunungnya."Lah, kok aku yang disuruh bawa kendi klenik ini sih, Gis? Aku kan nggak biasa pegang barang-barang mistis begini!" protes Farhan, suaranya tertahan. Kacamata Farhan sedikit berembun kena uap napasnya sendiri yang memburu karena gugup."Karena kendi itu barang yang paling ringan, Farhan," balas Gisella, nadanya pragmatis. "Tanganmu dari tadi gemetar terus. Kalau kamu yang pegang lilin, apinya bisa mati tertiup angin dari tanganmu yang gemetaran itu. Lilin mati berarti kita melanggar aturan senior. Logis, kan?"Farhan mengerucutkan bibir, tak bisa membantah logika tajam Gisella. Farhan menoleh ke Kukuh dengan tatapan memelas. "Kuh, kamu aja deh yang bawa kendinya. Kamu kan anak desa, pasti udah biasa sama bau-bau kembang telon begini, kan?"Kukuh tersenyum kecil, memainkan perannya natural. "Nggak apa
Read more