"Kopi Dokter sudah mulai dingin," tegur Kukuh dengan nada sopan namun memecah keheningan. Ia meletakkan setumpuk kertas HVS yang penuh dengan coretan tinta di atas meja aluminium yang sedingin es."Otak saya sedang panas, jadi kopi dingin justru lebih pas, Kuh," balas Dokter Harsha tanpa menoleh. Pria berjas putih panjang itu masih menunduk, sebelah matanya fokus mengintip ke dalam lensa mikroskop elektron, sementara tangannya dengan lincah memutar tombol kalibrasi. Ruangan laboratorium rahasia di Lantai 41 itu terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh dengung mesin penyaring udara dan bunyi bip pelan dari monitor medis.Kukuh menarik sebuah kursi besi dan duduk berseberangan dengan meja kerja sang dokter. "Saya sudah berhasil memecahkan teka-teki dari buku kertas merang yang saya beli di angkot waktu itu, Dok."Mendengar itu, pergerakan tangan Dokter Harsha langsung terhenti. Ia menegakkan punggungnya, melepas kacamata pelindung, dan menatap Kukuh dengan sorot mata yang mendadak tajam. R
Read more