Benar saja, hari-hari berlalu dan Emir selalu pulang tepat waktu. Seperti hari ini, pulang jam lima sore, dan langsung mengajak Raana makan malam diluar.“Katanya jangan terlalu capek. Ini malah dibuat capek,” rajuk Raana saat Emir terus mengecupi leher jenjangnya yang mulus.“Kalau di ranjang boleh, kalau di jalan tidak boleh. Kan beda,” kikik Emir, kalau sudah maunya dia, Raana harus menurut.“Mas, sudah.. capek,” desah Raana karena tangan Emir kini sudah meremas pabrik susu untuk anak mereka nanti.“Sekali lagi,” bisik Emir.Raana melotot, sudah selesai dua putaran masih mau lagi. Bukan Raana menolak, dia juga ingin tapi tubuh ini tidak bisa dikondisikian, lelah sekali.“Kasihan ih anaknya. Mamanya dihajar terus!”“Mamanya daritadi diam saja kok,” ujar Emir, membela diri.“Kamu ada saja balasnya. Tahu gitu, kamu pulang malam saja deh,” canda Raana.“Yakin, nanti telepon terus bilang nggak diperhatiin,” goda Emir.Raana langsung merebahkan kepalanya ke dada sang suami, “Aku sepi tah
Read more