ANMELDENBelum resmi menyandang status janda, malah pergi ke klub malam dan berakhir dengan pria tampan yang tidak dikenal di hotel. “Permainannya luar biasa..” Namanya Raana, tapi bukan kepanjangan dari ‘merana’, tapi kenapa hidupnya merana. Ah.. Sudah diceraikan suami karena selingkuh dengan temannya sendiri, kini Raana harus menghidupi dirinya, dengan bekerja. Dia cantik, hanya saja menikah lima tahun sibuk dirumah. Terlena dengan kemageran, tidak sadar suaminya main gila dibelakang. Menjadi janda tanpa anak, dengan dompet yang menipis karena tidak mau menerima sesenpun dari mantan suami. Raana mencari pekerjaan, namun dia harus merubah penampilannya dulu yang membesar akibat terlalu lama berleha-leha. Raana cantik setelah resmi bercerai, mendapat pekerjaan dan harus berurusan dengan pria antagonis yang sempat menjadi teman tidurnya satu malam. “What, dia boss di sini. Alamat langsung dipecat gue!” seru Raana melihat mantan teman kencannya. Mampukah Raana bertahan bekerja di sana, tidak mau jadi pengangguran, dia pun memilih bertahan. **
Mehr anzeigenDi ruang rapat utama, Perusahaan Kharis.Emir sudah duduk dengan Raana di sampingnya. Juga Roni dan tim legal di seberang.Pintu terbuka, Vina masuk. Nampak terkejut karena semua lengkap, habislah dia ini.Langkahnya pelan, tapi matanya langsung bertemu dengan Emir.Satu detik.Dua detik.Emir tidak menatap dengan marah, tidak juga dengan hangat. Hanya tenang bahkan terlalu tenang.Dan itu justru membuat Vina semakin takut.“Silakan duduk, Bu Vina,” kata Roni.Vina duduk.Sunyi.Lalu Emir membuka suara pertama. “Vina…”Suara itu membuatnya sedikit menegang.“Saya tidak di sini untuk menghukum kamu.”Vina menatapnya cepat. “Ma-maksud kamu?”Emir melanjutkan pelan. “Saya hanya ingin tahu satu hal. Apa yang sebenarnya terjadi di Singapura?”Ruangan itu hening.Dan untuk pertama kalinya…Vina tidak langsung menjawab. Tangannya gemetar di bawah meja.Karena ia sadar…Kalau ia bicara sekarang…Semua orang yang selama ini bersembunyi di baliknya akan ikut jatuh.Dan jika ia diam…Emir akan m
Pintu Ruang Rapat C terbuka perlahan. Vina langsung berhenti di ambang pintu, perasaannya sungguh tidak enak.Di dalam ruangan itu, Roni duduk bersama dua orang dari tim Legal dan HRD. Suasana tidak lagi seperti “evaluasi biasa”.Ini terlalu sunyi.Terlalu resmi.Terlalu dingin.“Silakan duduk, Bu Vina,” ujar kepala HRD perusahaan Khalis.Vina melangkah masuk perlahan. Tangannya dingin, tapi wajahnya dipaksa tetap tenang.“Ada apa ya, Pak?” tanyanya pelan.Kepala HRD membuka map di depannya.“Kami sedang melakukan klarifikasi terkait perjalanan dinas ke Singapura.”Vina mengangguk kecil, “Saya sudah jelaskan semua yang saya tahu kemarin.” Vina memang sempat ditanya, namun tidak detail.“Ini hanya evaluasi, kan?” tanyanya kembali.Tidak ada yang langsung menjawab.Kepala HRD menatapnya cukup lama sebelum berkata, “Bu Vina… kami ingin menanyakan sesuatu yang lebih spesifik.”Vina menelan ludah. “Silakan.”Roni menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Kenapa nama anda baru masuk dalam daftar pes
Di sisi lain...Vina duduk sendirian di kamar hotel, koper miliknya sudah terbuka. Tangannya gemetar saat melipat pakaian. Ponselnya kembali berdering.Nomor yang sama.Kali ini ia tidak langsung mengangkat. Namun dering itu terus berbunyi, dengan napas memburu, akhirnya ia menekan tombol hijau."Halo..."Suara di seberang terdengar dingin."Pulanglah ke Indonesia.""Apa?""Perjalananmu di Singapura selesai.""Tapi kantor belum...""Ikuti saja instruksinya."Vina menggigit bibir. "Apa... apa mereka mulai curiga?"Tak ada jawaban selama beberapa detik.Kemudian suara itu berkata pelan."Ingat.""Kalau ada yang bertanya...""Katakan kamu tidak tahu apa-apa."Sambungan telepon kembali terputus.Vina memejamkan mata. Untuk pertama kalinya...Ia merasa benar-benar sendirian.Sore harinya.Dokter kembali memasuki ruang perawatan."Selamat sore.""Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok?" tanya Raana.Dokter membuka berkas di tangannya. "Kondisi Pak Emir sudah jauh lebih baik."Raana mengembuska
Di rumah sakit, dokter spesialis penyakit dalam mulai memeriksa Emir. Beberapa sampel darah diambil.Setelah pemeriksaan selesai, dokter menatap Raana dan Emir bergantian. "Untuk sementara kondisi pasien sudah stabil."Raana mengembuskan napas lega. “Ah syukurlah.”"Namun kami tetap akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan."Emir yang sudah sadar sepenuhnya mengangguk pelan. “Ya, saya mengerti."Dokter menutup map pemeriksaan. "Karena gejala yang muncul cukup mendadak, kami ingin memastikan tidak ada faktor lain yang memengaruhi kondisi Bapak."Raana bertanya pelan, "Berapa lama hasilnya keluar, Dok?""Sebagian hasil laboratorium bisa kami terima malam ini. Sisanya mungkin besok pagi.""Baik."Setelah dokter keluar, ruangan kembali sunyi.Raana duduk di tepi ranjang, lebih baik suaminya diperiksa seluruhnya. Jangan sampai meninggalkan penyakit, sungguh Raana takut sekali.Ia mengusap rambut Emir yang sedikit berantakan."Mas.""Hm?""Kamu istirahat saja."Emir mengangguk pelan.Na


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen