MasukBelum resmi menyandang status janda, malah pergi ke klub malam dan berakhir dengan pria tampan yang tidak dikenal di hotel. “Permainannya luar biasa..” Namanya Raana, tapi bukan kepanjangan dari ‘merana’, tapi kenapa hidupnya merana. Ah.. Sudah diceraikan suami karena selingkuh dengan temannya sendiri, kini Raana harus menghidupi dirinya, dengan bekerja. Dia cantik, hanya saja menikah lima tahun sibuk dirumah. Terlena dengan kemageran, tidak sadar suaminya main gila dibelakang. Menjadi janda tanpa anak, dengan dompet yang menipis karena tidak mau menerima sesenpun dari mantan suami. Raana mencari pekerjaan, namun dia harus merubah penampilannya dulu yang membesar akibat terlalu lama berleha-leha. Raana cantik setelah resmi bercerai, mendapat pekerjaan dan harus berurusan dengan pria antagonis yang sempat menjadi teman tidurnya satu malam. “What, dia boss di sini. Alamat langsung dipecat gue!” seru Raana melihat mantan teman kencannya. Mampukah Raana bertahan bekerja di sana, tidak mau jadi pengangguran, dia pun memilih bertahan. **
Lihat lebih banyakBik Laila, pelayan setia Emir juga Sofia sudah menengok bayi perempuan cantik itu. Kini mereka sudah pulang, membiarkan Raana beristirahat. Bersyukur Sofia tidak berbuat ulah, hanya melihat dan terdiam.“Cantik.” Satu kata yang ia ucap. Lalu matanya berkaca-kaca, “Mirip kakeknya.” Seketika tangisnya pecah.Emir sebelumnya mengatakan jika hidung anaknya, mirip mendiang Papa.Kini yang Emir lakukan adalah menjaga istri dan anaknya, di ruang rawat VVIP yang telah disiapkan Roni, asisten Emir. Beruntung Emir memiliki asisten cekatan sepertinya, karena di saat seperti ini Emir hanya mau berdekatan dengan istri dan anaknya. Tidak mau mengurusi administrasi rumah sakit.HiksBukan menangis panik kayak tadi. Nangis beneran. Tidak ada heboh, tidak ada kata-kata. Hanya air mata yang jatuh pelan.Raana kaget. “Mas… kenapa?”Emir duduk di pinggir kasur, kepala tunduk, tangan masih genggam tangan Raana. Suaranya gemetar:“Aku bahagia.”“Aku juga Mas, akhirnya anak kita lahir juga. Si bayi yang suk
Pagi hari kontraksi pertama datang.Raana bangun jam 7 pagi, keringat dingin, napas tidak teratur. Emir langsung angkat telepon ke dokter kandungan mereka, lalu mneyiapkan tasberisi perlengkapan Raana dan bayi. Belum 10 menit, klakson mobil kedengeran dari depan pagar.Emir membuka gorden. Sofia. Turun dari mobil sendiri, bawa tas kecil.Dada Emir langsung panas.Dia buka pintu, keluar tanpa alas kaki. “Tante ngapain ke sini?”Sofia angkat dagu. “Mama mau jenguk Raana. Dia mau lahiran kan? Mama ini neneknya juga.”“Mama keluarga, Emir. Mama punya hak lihat cucu,” sahut Sofia ada nada kegelisahan dalam suaranya. Berharap bisa melihat cucunya, cucu dari mendiang suami tersayangnya.Emir maju selangkah, menghalangi jalan ke pintu. “Tante ibu tiri aku, bukan ibu Raana. Tante nggak berhak masuk kalau Raana nggak mau. Dan Raana mau lahiran tenang. Cuma ada aku.”Sofia tatap mata Emir. “Emir, kamu ngusir mama kamu sendiri demi perempuan itu?”“Iya,” jawab Emir dingin. “Aku jagain istri aku
Setelah kiriman buah Vina yang ketiga, Raana tidak mau lagi menerimanya, menitip pesan pada pelayan untuk dikembalikan dan jangan menerima.“Iya Bu Raana, nanti bibik sampaikan ke satpam depan.”“Terima kasih Bik,” ucap Raana. Bik Laila mengangguk, tersenyum sopan pada majikanwanitanya.“Kenapa sayang?” tanya Emir sudah rapi dengan kemejanya.“Aku suruh jangan terima lagi kiriman buah, Mas. Enggak apa kan?” tanyanya memastikan.Emir mengangguk. Dia mengerti. Rumah ini satu-satunya tempat Raana merasa aman. Tidak bisa dibiarkan jadi pintu masuk drama.Tapi Vina nggak nyerah.Pagi berikutnya, taksi Vina parkir lagi di depan pagar. Kali ini dia bawa kotak besar. Tidak kirim kurir, datang sendiri.Raana melihat dari jendela. Tidak turun.Emir yang keluar. “Vina. Kamu ngapain lagi?”Vina senyum manis, mengangkat kotak. “Aku bawain perlengkapan bayi, Mir. Kasihan Raana, pasti belum lengkap. Aku yang udah pengalaman, kan?”“Kamu belum punya anak,” sindir Emir.Vina tertawa, “Ya memang. Tapi
Udara di kamar terasa berat. Raana duduk di pinggir ranjang, tangannya meremas ujung selimut sampai kusut. Usai ia mendengar Vina bicara di ruang makan tadi.“Padahal dulu aku siap, kalau kamu mau punya anak.”Kalimat itu masih berdengung di kepala Raana. Sakitnya bukan main.Pintu kamar terbuka pelan. Emir masuk, wajahnya langsung berubah begitu melihat Raana. Ia tahu, pasti Vina ucapan Vina tadi membekas di pikirannya.“Sayang..” Emir memanggil. Raana yang mendengar suara suaminya, langsung memalingkan wajahnya.Emir kian mendekat, duduk di samping Raana dan mengusap kepalanya. “Jangan dipikirin dong,” pintanya, lembut.Raana tidak menoleh. "Jadi bener? Dulu kamu mau minta kakaknya yang hamilin anak kamu?"“Bukan aku, Naa..”“Terus siapa? Jangan bohong Mas, jelas dia bilang tadi begitu. Apa gimana yah, ah aku lupa saking syoknya.” Raana menyindir suaminya.Emir menghela napas panjang. Ia duduk di lantai, tepat di depan Raana, agar matanya sejajar. "Nggak, Raana sayang. Dengarin aku
“Ada apa pak?” tanya Roni yang melihat Emir gelisah, padahal mereka sudah sampai rumah.Emir hanya menoleh sejenak, lalu menggeleng. “Suruh bibik buatkan kopi,” pintanya.Hari sudah malam, tidak mau mengganggu pelayan, Roni sendiri yang membuatnya. Meski heran, sudah malam bukan tidur malah ngopi.
Emir menundukkan kepala, napasnya memburu saat bayangan malam itu kembali mengusik pikirannya. Ber cinta dengan seorang wanita tidak dikenal, yang tidak akan pernah mungkin ia lakukan.Emir gila, dia memang sudah gila.Di sudut kamar yang remang, wajah Raana muncul jelas—senyum tipisnya yang penuh
Tidur di ruang depan, beralasan tikar membuat tubuh Raana sakit. Namun dia tidak mengeluh, tidak enak pada Mbak Ning yang sudah mau menampungnya.“Ran, aku mau kerja nanti sore. Sekarang mau antar anak sekolah dulu, kamu kalau mau nyarap di dapur sudah ada.”Raana jadi tidak enak hati, dia bisa bel
Malam itu, udara di ruang tamu terasa dingin meski lampu-lampu temaram menyala redup. Emir Zayn Kharis, CEO Kharis Company, terkulai lemah di sofa kulit hitam, wajahnya yang biasanya tegas kini pucat pasi.Tiba-tiba, tubuhnya berguncang hebat, lalu muntah tanpa henti di lantai kayu mengkilap. Pemba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan