MasukBelum resmi menyandang status janda, malah pergi ke klub malam dan berakhir dengan pria tampan yang tidak dikenal di hotel. “Permainannya luar biasa..” Namanya Raana, tapi bukan kepanjangan dari ‘merana’, tapi kenapa hidupnya merana. Ah.. Sudah diceraikan suami karena selingkuh dengan temannya sendiri, kini Raana harus menghidupi dirinya, dengan bekerja. Dia cantik, hanya saja menikah lima tahun sibuk dirumah. Terlena dengan kemageran, tidak sadar suaminya main gila dibelakang. Menjadi janda tanpa anak, dengan dompet yang menipis karena tidak mau menerima sesenpun dari mantan suami. Raana mencari pekerjaan, namun dia harus merubah penampilannya dulu yang membesar akibat terlalu lama berleha-leha. Raana cantik setelah resmi bercerai, mendapat pekerjaan dan harus berurusan dengan pria antagonis yang sempat menjadi teman tidurnya satu malam. “What, dia boss di sini. Alamat langsung dipecat gue!” seru Raana melihat mantan teman kencannya. Mampukah Raana bertahan bekerja di sana, tidak mau jadi pengangguran, dia pun memilih bertahan. **
Lihat lebih banyakI think that everyone reaches a moment in their lives when they ask themselves 'is this right?' This moral question is reserved for those with a conscience. The majority of the people that walk the streets of this town don't have this faculty called a conscience. I fear that at this moment, I am part of the majority that don't have a conscience.
Laurie Bancroft narrowed her green eyes at me. She looked over her shoulder with the pretense that she doesn't know I am talking to her. Some people never change. Over seven years later and she still behaves like this is high school. In my defense, I apologized for the last rough encounter we had.
"I don't think there are that many Bancrofts running around in this town. You guys are as rare as rain in the Sahara." She made a face. I don't know what this face means. I have to say something to end the awkward silence. "How have you been?"
"Fine. Thank you." The last part of her response was definitely thought about.
Laurie Bancroft thinks that adding polite niceties to her sentences makes her a nice person. Honestly, it just makes her polite but she has a way of saying the meanest things in the nicest ways. Her angelic face is the reason she gets away with it.
"I was just grabbing some groceries when I saw you and I thought I should say hello." Come to think of it, why is Laurie Bancroft at a grocery store? Doesn't her family have people for that? She belongs in one of those high end fashion boutiques that have things that cost more than all I have accumulated in ownership all my life.
The Bancrofts are the wealthiest family in this town and probably the country but no one really knows. We just know they are wealthy. There is no door their name can't open. They are like the royal family of this town.
"Thanks." She looked towards a man with a hoodie on. He beckoned her over. She clenched her jaw tightly. "Excuse me."
I have known Laurie since the first day of high school when she laughed at me after I fell on my face. I can never forget that mean wicked laughter. It still echoes in my mind. Seven years later and I haven't forgotten. Something about her is off. I debated between following the rich girl or doing what I came here to do.
My journalistic instincts are telling me to follow her.
The man who called her over has his hand wrapped around her arm. I stayed behind a wall, quickly adjusting my camera. I angled my phone and took several pictures before I filmed the rest. He is shouting at her. Never have I seen her in a state where she is not fighting back. She looks subdued and probably scared.
He opened the car door and shoved her in. In seconds the car drove off and I ended the recording.
"Strange..." I mattered to myself and replayed the video again.
This could be big. I think it could be. Where there is smoke, there is fire, right?
With a big smile on my face, I hurried away.
It is impossible to catch the Bancrofts in a scandal.
Emir merebahkan tubuhnya di kursi kerja sambil mengembuskan napas panjang.Akhirnya.Kasus Vina dan Hendra yang selama berminggu-minggu menguras tenaga, rapat sampai tengah malam, negosiasi yang nyaris membuat seluruh direksi saling lempar map, akhirnya selesai.Sudut bibir CEO muda itu terangkat."Sudah waktunya istirahat."Ia mengambil ponsel dan langsung menghubungi istrinya.Tak sampai dua kali dering."Halo, Papa." Suara Raana terdengar ceria.Emir tersenyum tanpa sadar, "Halo sayang. Lagi apa?""Lagi nyuapin Alesha. Kenapa, Papa kapan pulang?"“Ini sedang siap-siap, tunggu Papa di rumah ya.”“Oke Papa, bye.”Emir menutup sambungan teleponnya, dan memanggil Roni.“Iya pak Emir,” sapa Roni di dalam ruangan Emir Kharis.Emir terdiam sejenak sebelum buka suara, “Ron, kalau saya tinggal sekitar satu minggu, apa aman?” tanyanya.Kening Roni mengerut, heran dengan pertanyaan tersebut. “Hmm, mulai kapan pak? Karena agenda meeting akan padat minggu ini.”“Tepat sekali!” seru Emir tertawa
Beberapa hari kemudian, setelah kelengkapan berkas dan semua bukti yang ada. Hendra resmi ditahan, sedangkan Vina tidak dipenjara, tapi ditempatkan dalam pengawasan hukum dan rehabilitasi perusahaan. Kantor Emir tidak lagi ramai dengan bisik-bisik investigasi. Semua kembali berjalan… tapi tidak benar-benar sama.Karena beberapa nama sudah hilang dari sistem, Vina dan Hendra.Hukuman yang Vina terima ini, atas permintaan Emir, karena dia tidak mau merusak hubungan baik dengan keluarga mantan istri. Namun dengan konsekuensi, Vina pindah dari semua asset Emir.Di luar gedung, hujan turun pelan, Raana berdiri di samping Emir. “Akhirnya selesai juga.”“Ya sayang, aku hanya ingin hidup tenang sama kamu dan Alesha. Aku sangat merindukannya, jadi jarang bermain dengannya karena masalah ini.”Raana memeluk suaminya, dia tahu bagaimana suaminya merindukan masa dengan sang putri. Sayang, kesibukan Emir yang satu ini tidak bisa diganggu gugat. Bahkan oleh Raana sekalipun.“Oke, bagaimana kalau k
Hendra berdiri pelan dari aura wajahnya tidak tergesa, tidak panik. Malah terlalu tenang dalam pikiran Emir. Seolah semua yang terjadi di ruang direksi itu sudah ia perhitungkan sejak lama.Emir menatapnya tanpa berkedip.Raana merasakan udara di ruangan itu berubah—lebih berat, lebih dingin, seperti seseorang baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci.Hendra tersenyum tipis, “Jadi ini akhirnya.”Roni langsung memberi isyarat ke tim legal di belakang. “Pak Hendra, kami masih butuh klarifikasi Anda.”Hendra mengangkat tangan sedikit. “Tidak perlu formalitas.”Ia duduk kembali, lalu menatap Emir. “Kamu selalu seperti ini, Emir. Cepat percaya pada data… tapi lambat melihat pola.”Emir tidak terpancing, “Aku tidak datang untuk debat. Aku datang untuk kebenaran.”Hendra mengangguk pelan. “Dan kamu sudah menemukannya.”Hening.Raana menatap Emir sekilas, lalu kembali ke Hendra.“Kenapa semua ini?” suara Raana tenang, tapi tegas.Hendra meliriknya. “Kamu istri yang menarik.”Emi
Di ruang rapat utama, Perusahaan Kharis.Emir sudah duduk dengan Raana di sampingnya. Juga Roni dan tim legal di seberang.Pintu terbuka, Vina masuk. Nampak terkejut karena semua lengkap, habislah dia ini.Langkahnya pelan, tapi matanya langsung bertemu dengan Emir.Satu detik.Dua detik.Emir tidak menatap dengan marah, tidak juga dengan hangat. Hanya tenang bahkan terlalu tenang.Dan itu justru membuat Vina semakin takut.“Silakan duduk, Bu Vina,” kata Roni.Vina duduk.Sunyi.Lalu Emir membuka suara pertama. “Vina…”Suara itu membuatnya sedikit menegang.“Saya tidak di sini untuk menghukum kamu.”Vina menatapnya cepat. “Ma-maksud kamu?”Emir melanjutkan pelan. “Saya hanya ingin tahu satu hal. Apa yang sebenarnya terjadi di Singapura?”Ruangan itu hening.Dan untuk pertama kalinya…Vina tidak langsung menjawab. Tangannya gemetar di bawah meja.Karena ia sadar…Kalau ia bicara sekarang…Semua orang yang selama ini bersembunyi di baliknya akan ikut jatuh.Dan jika ia diam…Emir akan m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan