MasukBelum resmi menyandang status janda, malah pergi ke klub malam dan berakhir dengan pria tampan yang tidak dikenal di hotel. “Permainannya luar biasa..” Namanya Raana, tapi bukan kepanjangan dari ‘merana’, tapi kenapa hidupnya merana. Ah.. Sudah diceraikan suami karena selingkuh dengan temannya sendiri, kini Raana harus menghidupi dirinya, dengan bekerja. Dia cantik, hanya saja menikah lima tahun sibuk dirumah. Terlena dengan kemageran, tidak sadar suaminya main gila dibelakang. Menjadi janda tanpa anak, dengan dompet yang menipis karena tidak mau menerima sesenpun dari mantan suami. Raana mencari pekerjaan, namun dia harus merubah penampilannya dulu yang membesar akibat terlalu lama berleha-leha. Raana cantik setelah resmi bercerai, mendapat pekerjaan dan harus berurusan dengan pria antagonis yang sempat menjadi teman tidurnya satu malam. “What, dia boss di sini. Alamat langsung dipecat gue!” seru Raana melihat mantan teman kencannya. Mampukah Raana bertahan bekerja di sana, tidak mau jadi pengangguran, dia pun memilih bertahan. **
Lihat lebih banyakDeg!
Jantung Raana berdegup kencang saat matanya tertuju pada sebuah foto box yang terselip di antara tumpukan pakaian dalam koper suaminya. Dalam foto itu, suaminya, Ghani berdampingan dengan Batari —teman lama Raana—terlihat berdiri akrab bersama suaminya, senyum mereka terlihat terlalu lepas untuk sekadar kenalan biasa. Lebih menyayat hati adalah kedua wajah mereka saling menempel.“Kok ada foto Mas Ghani sama Batari sih. Ini mereka di mana?” tanya Raana lebih ke dirinya sendiri.
Mereka memang saling mengenal, namun Raana tidak tahu mereka seakrab itu.
“Ih kok bisa sih..”
Raana menggenggam foto itu dengan tangan gemetar, napasnya tercekat oleh rasa penasaran yang membuncah sekaligus ketakutan yang merayap di dada. "Ini gimana bisa ada foto Mas Ghani..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
Dia menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengemasi barang, tapi keberanian untuk bertanya belum juga datang. Raana takut, takut jika pertanyaan itu membuka tabir sebuah kebenaran yang selama ini dia coba abaikan.
Matanya kembali menatap foto itu, bayangan-bayangan keraguan mulai menggerogoti hatinya. Dalam diam, dia merasakan kegelisahan yang menusuk, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum ramah dalam foto itu—sesuatu yang bisa mengubah segalanya.
“Kamu lama banget sih ambil koper aku!” seru Ghani melihat istrinya hanya diam saja dengan tangan yang sudah memegang koper miliknya.
Raana terperangah, lalu dengan gugup dia memberikan koper itu. “Lelet kamu lama-lama,” cemooh Ghani akan cara bekerja istrinya.
Seolah sudah biasa dengan hal itu, Raana diam saja. Malah bertanya hal lain, “Kamu berapa lama Mas, dinasnya?” tanya Raana pelan.
“Dua minggu.”
“Hah, kok lama Mas. Biasanya paling lama kamu cuma satu minggu saja Mas.”“Aku lagi dalam masa percobaan naik pangkat. Jadi lebih lama memang, dari biasanya. Lagi kamu ngapain sih nanya-nanya!”
“Aku kan istri kamu Mas. Ya wajar dong aku tanya,” cebik Raana kesal, suaminya malah mempermasalahkan pertanyaannya.Malas membahas lebih lagi, Raana membantu suaminya.
“Sama siapa saja Mas ke Surabaya?”
Tuh Raana malah bertanya lagi, masih penasaran dia dengan suaminya.“Ya sama rekan kerja aku yang lain. Masa aku sendirian.” Ghani masih nyolot dalam menjawab istrinya.
Tidak mau memikirkan hal lain, Raana kembali mendiamkan. Lebih baik, nanti dia ceri tahu saja sendiri. Ada hubungan apa suaminya dengan Batari, teman kuliahnya dulu.
*
*
Suaminya dinas keluar kota, sudah biasa memang Ghani pergi bekerja. Selama ini paling lama hanya satu minggu, mungkin benar kata suaminya jika dia sedang dalam masa percobaan naik pangkat.
Ghani bekerja di sebuah perusahaan besar, meski masih di cabang perusahaan. Tapi kantor suaminya besar dan megah. Ghani menjabat sebagai supervisor area, karir Ghani merangkak dari bawah. Dimulai dari magang dan ditarik bekerja di sana, setelah lulus kuliah. Sejak itu, kehidupan mereka membaik.
Merasa masih penasaran dengan suaminya dan temannya. Raana berencana kerumah Batari. Raana sering kerumah itu, tapi sudah lama tidak berkunjung karena Batari sudah bekerja, sedangkan Raana malah menjadi ibu rumah tangga tanpa anak, dan belum lulus kuliah.
Raana berdiri di ambang pintu rumah Batari, jantungnya berdegup kencang campur aduk antara penasaran dan cemas. “Ada dirumah nggak ya, Batari.” Tidak pakai telepon, langsung saja dia datang.
Suara tawa yang familiar menggema dari dalam, membuat langkahnya semakin mantap meski hati bergetar. Pintu rumah yang tidak terkunci membuka jalan bagi Raana masuk tanpa ragu. Di sudut ruang tamu, sebuah koper besar tersandar—seolah memberi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.
‘Ini kan koper Mas Ghani..’
Hati Raana, semakin membuncah melihat koper itu. Tiga hari lalu, suaminya pergi dinas dengan koper itu. Raana sangat mengenal koper itu, karena dia sendiri yang membeli secara online. Mana boleh dia keluar oleh suaminya. Raana dijaga layaknya berlian, hanya berdiam diri dirumah sampai tubuhnya membesar seperti ini.
Dengan napas tertahan, Raana menyelinap ke ruang belakang. Matanya langsung tertuju pada pemandangan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan: Ghani, suaminya, sedang menindih Batari di atas sofa, tatapan mereka penuh rahasia yang selama ini disembunyikan.
Dadanya sesak, suara teriakan, “Mas!” terlepas dari bibirnya tanpa sadar, menggema menghentikan tawa dan gerak-gerik mereka seketika.
“Raana!” pekik keduanya terkejut.
Wajah Ghani membeku, sorot matanya berubah dari keheranan menjadi panik. Batari yang terkejut mencoba bangkit, namun tubuhnya tampak lemas.
Raana berdiri terpaku, air mata mulai menggenang di sudut matanya, hati yang terluka tak mampu berkata apa-apa selain rasa dikhianati yang membakar setiap serat jiwanya. Ia merasa dunia runtuh dalam sekejap, sementara keheningan yang menyakitkan mengisi ruangan itu, memerangkap ketiga hati yang kini terpecah.
*
*Raana berdiri dengan dada berdebar hebat sementara matanya membara penuh luka. Di hadapannya, Ghani dan Batari berdiri canggung, tanpa sepatah kata permintaan maaf pun terlontar.
“Mas.. kamu.. gila kamu sama dia,” tunjuk Raana pada Batari.
“Kamu ngapain kesini?” Ghani malah bertanya, aneh.Saat Raana menatap Batari, teman yang dulu ia percayai, rasa sakit itu seperti belati tajam yang menusuk hingga ke dasar hati. "Kalian gila melakukan ini di belakangku!" suaranya pecah, menggema memenuhi ruangan. Tangannya gemetar, tanpa pikir panjang ia meraih gelas di meja dan melemparkannya ke dinding, pecahan kaca berhamburan bersahutan.
Prang
Prang
Prang
“Raana hentikan,” teriak Ghani mencoba menghentikan istrinya.
Namun dia tidak bisa mendekat ke Raana, karena sedang sibuk sendiri mencari pakaian yang tadi dia lempar dengan sembarangan itu.
Batari terdiam, wajahnya membeku, namun melihat Raana yang semakin kehilangan kendali, ia melangkah maju dengan suara bergetar, "Jangan gila, ini rumahku!"
Tapi Raana, dengan mata berkilat marah, menatap tajam, "Dan dia suamiku!" Raana menunjuk ke arah Ghani.
Ia merasakan dunia runtuh di sekelilingnya, pengkhianatan yang begitu nyata menelanjangi segala harapan yang pernah ia punya.
Ghani, dengan ekspresi dingin dan wajah tertunduk, buru-buru mengenakan pakaiannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tidak ada penjelasan, hanya ketakutan yang terpancar jelas dari gerak-geriknya.
“Jelaskan Mas!” jerit Raana.
Baginya ini adalah perselingkuhan terkejam. Suaminya main gila dengan temannya sendiri, teman yang sering ia bantu. Teman yang Raana selalu merasa, jika ia ada dalam hidup Batari dalam suka dan duka. Namun ini balasan yang harus Raana terima.
“Apa yang mau aku jelaskan. Kamu sudah melihat sendiri.” Ghani tidak mengelak, cenderung mengakui perbuatan bejat mereka.
“Dia teman aku, Mas.” Raana menangis.
Batari berdecak, malu juga jika ada tetangga yang mendengar teriakan Raana.
“Raana, biar Mas Ghani yang jelaskan ke kamu.” Batari buka suara.
Raana menatap sinis ke arah temannya itu, “Gila.. Tega kalian sama aku, tega kalian!”
Raana menatap suaminya yang kini tampak asing, napasnya tersengal antara marah dan kecewa, seolah semua yang ia kenal selama ini hancur dalam sekejap. Suasana menjadi sunyi, penuh luka yang belum siap disembuhkan.
“Aku sudah lama berhubungan dengan Batari. Maaf Raana, kami bermain dibelakangmu.” Ghani menyesali mereka tertangkap dengan cara seperti ini.
Niat hati memang ingin melepas Raana, namun tidak dengan mengakui perselingkuhan mereka.
“Kamu selingkuh Mas. Apa kurangnya aku, sampai kamu jahat begini sama aku?” Raana berlari ke arah Ghani, dia memukuli dada pria yang iakira menjadi malaikat pelindungnya. Siapa sangka, pria yang merupakan cinta pertamanya itu, malah menyakiti hatinya.
Ghani menahan tangan Raana, tidak mau kalah, sang istri makin beringas memukuli Ghani. Tidak tahan akan emosi, dengan kasar Ghani malah mendorong Raana hingga sang istri jatuh ke lantai.
“Suami tidak tahu diri,” jerit Raana. **
Udara di kamar terasa berat. Raana duduk di pinggir ranjang, tangannya meremas ujung selimut sampai kusut. Usai ia mendengar Vina bicara di ruang makan tadi.“Padahal dulu aku siap, kalau kamu mau punya anak.”Kalimat itu masih berdengung di kepala Raana. Sakitnya bukan main.Pintu kamar terbuka pelan. Emir masuk, wajahnya langsung berubah begitu melihat Raana. Ia tahu, pasti Vina ucapan Vina tadi membekas di pikirannya.“Sayang..” Emir memanggil. Raana yang mendengar suara suaminya, langsung memalingkan wajahnya.Emir kian mendekat, duduk di samping Raana dan mengusap kepalanya. “Jangan dipikirin dong,” pintanya, lembut.Raana tidak menoleh. "Jadi bener? Dulu kamu mau minta kakaknya yang hamilin anak kamu?"“Bukan aku, Naa..”“Terus siapa? Jangan bohong Mas, jelas dia bilang tadi begitu. Apa gimana yah, ah aku lupa saking syoknya.” Raana menyindir suaminya.Emir menghela napas panjang. Ia duduk di lantai, tepat di depan Raana, agar matanya sejajar. "Nggak, Raana sayang. Dengarin aku
Emir memberitahu Raana, jika Sofia akan menginap beberapa hari. Tentu Raana tidak keberatan, bagaimana pun Sofia adalah Mama Emir, meski tiri.“Kamu nggak masalah?” tanya Emir memastikan.“Nggak Mas, santai saja. Dia kan Mama kamu.”“Mama tiri.”“Mas, jangan begitu. Kata kamu dia yang ngerawat Papa kamu, waktu sekaratnya dulu.” Emir akhirnya memang menceritakan pada Raana, bagaiamana Sofia ketika masih menjadi istri papanya.“Dia begitu karena mau harta Papa, sayang.” Emir dengan pendapatnya.Raana menyentuh bahu sang suami, “Mas, kalau Tante Sofia mau harta Papa saja. Dia akan pergi waktu Papa sakit, Mas. Kenyataannya enggak kan?”“Kalau dia pergi, justru dia nggak akan dapat hartanya, sayang.”“Mas ih, kamu pikirannya negative saja.”“Enggak ada yang positif di dia, sayang.”Raana tergelak, terlalu lucu wajah sang suami saat sedang kesal.“Kok kamu malah ketawa sih,” Emir mencebik, namun tangannya menggelitiki pinggang sang istri.“Mas ih,, udah ah geli.. Mas..” jerit Raana karena E
Emir mendesah kesal dan malas melihat siapa tamunya, mengganggu sekali, niatnya habis main panas dengan sang istri mau langsung tidur. Tapi pelayan mengatakan ada tamu, ia kira penting.Berdiri dingin, matanya menatap tajam ke arah Mama tirinya yang baru saja melangkah masuk ke ruang tamu. Wajah Emir datar, bibirnya mengerut tipis seolah menahan rasa jengkel."Mau apa lagi?" suaranya datar, tanpa sedikit pun menyembunyikan ketidaksukaannya. Sofia hanya tersenyum tipis, senyum yang tak pernah bisa menenangkan hati Emir."Mama cuma mau nengok istri kamu, kan lagi hamil," jawab Sofia dengan suara lembut tapi penuh kepura-puraan, seolah itu alasan satu-satunya.Emir menghela napas panjang, matanya berkeliling mencari alasan agar bisa segera mengakhiri pertemuan ini. Ia tahu betul, di balik perhatian itu tersimpan maksud lain yang tak pernah tulus dari mama tirinya.Sofia berjalan perlahan menuju sofa dan duduk dengan anggun, tangan terlipat di pangkuannya. "Oh ya, Emir," katanya sambil me
Emir tiba-tiba membuka pintu kamar dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya penuh kehangatan, matanya berbinar saat melihat Raana yang tengah duduk di sofa dengan perutnya yang mulai membuncit.Tanpa ragu, dia langsung merangkul pinggang istrinya, menariknya ke pelukan yang lembut tapi penuh rasa rindu. “Hi Mama,” sapanya bersuara lucu.“Hi Papa,” balas sang istri.Cup!Emir mengecup bibir Raana, lembut. “Capek banget.”“Iya capek mikirin kamu,” gurau Raana.“Jangan mikirin aku. Aku saja yang mikirin kamu.”“Huuuh gombal mode on,” balas Raana.“Kangen.” Emir menarik Raana, lalu mendudukkan ia tepat di depannya. Dan Emir leluasa memeluk istri dan anaknya, dari belakang.Raana tertawa kecil, menepuk punggung tangan Emir yang masih menggenggam erat lehernya dari belakang. "Mas, kok manja banget sih," ujarnya sambil berusaha berdiri, tapi pelukan Emir membuatnya tak bisa bergerak bebas."Aku masih kangen, Naa," bisik Emir sambil menurunkan kecupan demi kecupan hangat di l
Tidur di ruang depan, beralasan tikar membuat tubuh Raana sakit. Namun dia tidak mengeluh, tidak enak pada Mbak Ning yang sudah mau menampungnya.“Ran, aku mau kerja nanti sore. Sekarang mau antar anak sekolah dulu, kamu kalau mau nyarap di dapur sudah ada.”Raana jadi tidak enak hati, dia bisa bel
Malam itu, udara di ruang tamu terasa dingin meski lampu-lampu temaram menyala redup. Emir Zayn Kharis, CEO Kharis Company, terkulai lemah di sofa kulit hitam, wajahnya yang biasanya tegas kini pucat pasi.Tiba-tiba, tubuhnya berguncang hebat, lalu muntah tanpa henti di lantai kayu mengkilap. Pemba
“Ada apa pak?” tanya Roni yang melihat Emir gelisah, padahal mereka sudah sampai rumah.Emir hanya menoleh sejenak, lalu menggeleng. “Suruh bibik buatkan kopi,” pintanya.Hari sudah malam, tidak mau mengganggu pelayan, Roni sendiri yang membuatnya. Meski heran, sudah malam bukan tidur malah ngopi.
Emir menundukkan kepala, napasnya memburu saat bayangan malam itu kembali mengusik pikirannya. Ber cinta dengan seorang wanita tidak dikenal, yang tidak akan pernah mungkin ia lakukan.Emir gila, dia memang sudah gila.Di sudut kamar yang remang, wajah Raana muncul jelas—senyum tipisnya yang penuh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan