Sudut Pandang Mia:Rasa mual itu datang lagi tanpa peringatan. Tadi aku masih menggantungkan jaket Nanda di lemari, memikirkan baklava yang tadi terasa begitu sempurna di rumah Nenek, detik berikutnya aku sudah berlari ke kamar mandi. Lututku membentur ubin dingin saat semua yang kumakan naik kembali tanpa ampun.Kuku Gasol beradu cepat di lantai kayu ketika dia mengikutiku, raungan cemasnya menggema di dinding kamar mandi. Dia menempel di kakiku, hangat dan kokoh, sementara aku berpegangan pada kloset."Jangan sekarang, Nak." Napasku terengah di sela-sela muntah. "Aku nggak apa-apa, benaran."Namun, dia tetap di sana dengan ekor terkulai, sementara aku rasanya seperti memuntahkan seluruh isi perutku. Daging panggang, roti hangat, bahkan baklava yang tadi terasa sempurna. Semuanya jelas jauh lebih tidak sempurna saat keluar lagi."Mia?" Ketukan lembut ibuku terdengar sebelum dia masuk. "Ya ampun, Sayang."Dia bergerak dengan cekatan, meletakkan segelas air dan membasahi kain di wastafe
Baca selengkapnya