Sudut Pandang Mia:Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah koridor yang sama sekali tak menyerupai lorong rumah sakit steril di lantai bawah. Dindingnya dilapisi panel kayu mahoni yang kaya warna, dengan karya seni orisinal tergantung dalam susunan yang tertata rapi. Tumit sepatuku tenggelam di karpet empuk saat aku melangkah menuju kantor Nanda, map portofolioku kupeluk di dada seperti perisai.Aku berhenti di depan pintu ganda yang berat, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Lewat kaca buram, tampak bayangan bergerak, sosok tinggi yang mondar-mandir sambil berbicara di telepon, tangannya sesekali berisyarat.Sebelum sempat mengetuk, pintu itu terbuka. Nanda berdiri di sana, ponsel masih menempel di telinganya, tetapi wajahnya langsung berseri saat melihatku. Dia memberi isyarat agar aku masuk, bibirnya membentuk kata "sebentar", sambil menuntaskan panggilannya."Nggak, bilang saja hari Kamis nggak bisa," katanya, suaranya membawa wibawa santai yang mulai kukenal. "Peralata
Read more