Sudut Pandang Mia:Aku menangis sampai tak ada lagi air mata tersisa, sampai mataku terasa perih dan tenggorokanku serak.Namun, aku tidak membiarkan diriku terus terpuruk. Aku masih punya anak-anakku. Aku harus memulai hidup baru. Aku tidak tahu kenapa takdir menyusun semua ini meski akulah yang menandatangani kontrak pernikahan itu. Aku harus menerima apa pun konsekuensinya. Mungkin semuanya palsu, tetapi setidaknya anak-anakku nyata."Cukup, Mia," bisikku pada diri sendiri.Tanganku bergerak ke perutku yang semakin membulat, kini tidak mungkin lagi disembunyikan bahkan dengan pakaian longgar. Bayi-bayi itu terasa lebih aktif pagi ini dengan tendangan kecilnya. Aku mengusap perlahan bagian yang tadi bergerak.Gasol merengek pelan dari tempatnya di dekat pintu kamar mandi, matanya penuh kekhawatiran."Terima kasih, Gasol. Anak baik." Aku menepuk kepalanya.Ponselku bergetar di meja dapur. Pesan dari Starla, mungkin untuk yang keseribu kalinya sejak bulan madunya dimulai.[ Lagi menikm
Baca selengkapnya