Malam itu, setelah Arlan tertidur pulas di kamarnya, atmosfer di dalam rumah mewah di pinggiran kota itu tidak sepenuhnya rileks. William berdiri di ruang kerja pribadinya, menatap layar monitor yang menampilkan visual dari enam belas kamera pengawas yang mengitari perimeter luar kediamannya. Jari-jarinya bergerak lincah di atas papan ketik, memperbarui protokol enkripsi pada sistem keamanan digital rumahnya.Kehadiran dua pria bersafari di kampus Sasha sore tadi adalah peringatan keras. Aditama tidak sekadar menggertak; pria tua itu sedang memetakan rutinitas keluarganya, mencari celah sekecil apa pun untuk menyusup masuk dan menegakkan dominasinya."Hendri," panggil William saat sambungan telepon internalnya terhubung. Suaranya rendah, nyaris tidak bergetar, namun sarat akan otoritas yang mematikan."Ya, Tuan William," sahut Hendri di seberang sana, suaranya terdengar siap dan siaga penuh."Mulai besok pagi, ganti seluruh tim pengawal statis di gerbang depan dengan personel dari div
Baca selengkapnya