Kedua orang tua itu menoleh serentak. Di ambang pintu, Arlan berdiri sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Bocah berusia lima tahun itu memeluk sebuah mainan robot kecil di tangan kirinya, melangkah dengan gontai menuju tempat tidur orang tuanya. Rupanya, suara tawa dan bisikan hangat kedua orang tuanya telah membangunkan tidurnya yang lelap."Hei, jagoan," William langsung menegakkan tubuhnya, mengulurkan tangan ke arah sang anak. "Kenapa bangun? Mimpi buruk?"Arlan menggeleng, ia naik ke atas ranjang dengan bantuan tangan kekar William, lalu menyusup ke tengah-tengah di antara ayah dan ibunya. Kehadiran bocah kecil itu seketika melengkapi lingkaran kebahagiaan malam itu. Sasha menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Arlan, lalu mengecup pipinya yang gembil."Papa sama Mama lagi cerita apa? Arlan mau ikutan," bisik Arlan, suaranya cadel dan manja, namun matanya yang bulat kini mulai terbuka lebar, penuh rasa ingin tahu yang besar.Sasha memandang William, bertukar senyum
Magbasa pa