Pagi itu, ruang kerja Pak Broto terasa lebih dingin dari biasanya. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari sebuah meja kayu jati panjang di mana dua map berwarna biru tua sudah terletak rapi. Pak Hendra berdiri di samping meja dengan pena emas di tangannya, wajahnya datar tanpa emosi, layaknya malaikat pencabut hubungan.Pintu terbuka. Arumi melangkah masuk dengan gaun hitam yang elegan namun tertutup. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sembab, meskipun ia telah menutupinya dengan riasan yang tebal. Di belakangnya, Pak Darman menyusul. Ia tidak lagi mengenakan baju tukang kebun, melainkan kemeja batik yang pernah dibelikan Arumi, batik yang sama yang ia kenakan saat mereka bangun bersama untuk pertama kalinya.Pak Broto duduk di kursinya, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kepuasan bisnis. "Kalian telah melakukan tugas yang luar biasa. Publik sudah tenang, Kevin sudah mulai melunak, dan nama baik Atmodjo pulih total. Sekarang, saatnya kita menyelesaikan admi
Terakhir Diperbarui : 2026-01-07 Baca selengkapnya