Selama pembicaraan itu, Arumi melirik Pak Darman yang sedang merapikan meja. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada kilat kesedihan dan rasa bersalah di mata tua Pak Darman, namun Arumi membalasnya dengan tatapan penuh kebencian dan peringatan agar pria itu tetap tutup mulut."Ayo, Vin, kita ke depan saja," ajak Arumi sambil menarik lengan Kevin dengan sedikit tergesa.Di teras depan, Kevin mulai mengeluarkan brosur dan foto-foto dekorasi. Ia berbicara panjang lebar tentang bagaimana ia ingin altar pernikahan mereka nanti dikelilingi ribuan bunga mawar. Namun, pikiran Arumi melayang jauh. Setiap kali Kevin menyebut kata 'pernikahan', 'suami', atau 'istri', hati Arumi terasa seperti ditusuk sembilu."Arumi? Kamu melamun?" tanya Kevin heran karena Arumi tidak memberikan tanggapan pada pilihan bunganya."Ah, maaf, Vin. Aku... aku hanya merasa sedikit pusing. Mungkin karena belum sarapan," dalih Arumi."Ya ampun, maafkan aku. Ayo, kita makan bubur ayam yang kubawa tadi," Kevin dengan tela
Last Updated : 2026-01-02 Read more