LOGINMalam di Paris seharusnya menjadi puncak dari segala penantian. Setelah keriuhan pesta pernikahan di Jakarta dan padatnya jadwal pertemuan bisnis di hari pertama mereka tiba, malam ini adalah waktu yang dijanjikan sebagai "penyatuan" yang sesungguhnya. Kevin telah menyiapkan segalanya dengan kesempurnaan seorang Adiwangsa: kamar Royal Suite yang dipenuhi kelopak mawar putih, aroma lilin esensial yang menenangkan, dan pemandangan Menara Eiffel yang berpendar keperakan di balik jendela besar.Arumi, yang telah memantapkan hati dengan segala keikhlasannya, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegugupan. Ia keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang anggun. Di dalam hatinya, ia sudah bersiap memberikan seluruh pengabdiannya kepada Kevin. Ia ingin malam ini menjadi fondasi baru, menghapus memori masa lalu yang pernah ia lalui secara sembunyi-sembunyi.Namun, realita seringkali memiliki cara yang pahit untuk menunjukkan wajah aslinya.
Mendengar itu, Arumi merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Kevin, dengan segala ambisinya, juga memiliki sisi empati yang dalam. Kevin menerima Arumi seutuhnya, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah diceritakan secara lisan.Arumi menggenggam tangan Kevin, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. "Terima kasih, Kevin. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku menjadi orang yang paling sulit untuk dicintai. Malam ini, aku memberikan seluruh diriku padamu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tembok."Malam itu menjadi momen di mana kasta, bisnis, dan gengsi keluarga melebur menjadi satu perasaan yang tulus: rasa memiliki. Arumi merasakan kenyamanan yang berbeda. Jika dulu ia menyerahkan diri dalam rasa takut dan sembunyi-sembunyi, kini ia menyerahkan diri dalam kedaulatan seorang istri yang sah dan terhormat.Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang banyak hal, bukan soal merger
Hari yang dinanti-nantikan oleh dua keluarga besar Atmodjo dan Adiwangsa akhirnya tiba. Langit Jakarta seolah ikut merayakan, memberikan cuaca cerah yang menyempurnakan suasana di ballroom hotel bintang lima yang telah disulap menjadi taman firdaus bernuansa putih dan emas. Wangi bunga melati dan mawar putih merebak, menyambut para tamu terhormat yang datang untuk menyaksikan penyatuan dua imperium bisnis terbesar di negeri ini.Namun, di balik kemegahan itu, ada sebuah keharuan mendalam yang menyelimuti hati setiap orang yang mengetahui perjalanan panjang sang Putri Mahkota. Pintu besar ballroom terbuka perlahan. Musik instrumen yang syahdu mulai mengalun, mengiringi langkah Arumi yang didampingi oleh Pak Broto. Arumi tampak sangat memukau dalam balutan kebaya akad nikah berwarna putih gading dengan ekor panjang yang menyapu lantai. Cadar tipis yang menutupi wajahnya tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya.Pak Broto menggenggam tangan pu
Arumi masuk ke kamarnya, melihat sekeliling ruangan yang kini tampak lebih hidup dengan vas-vas bunga segar pilihan Kevin. Ia berbaring di tempat tidurnya dengan senyuman tipis. Ia telah memilih jalannya, dan ia bertekad untuk menjadi pendamping terbaik bagi Kevin, membangun sebuah hubungan yang harmonis dan tanpa cela.Atmosfer di kediaman Atmodjo dan Adiwangsa kini berubah total, dari ketegangan yang menyesakkan menjadi binar persiapan pernikahan yang paling dinantikan tahun ini. Arumi, yang telah benar-benar melabuhkan hatinya pada keikhlasan, tidak lagi melihat persiapan ini sebagai sebuah kewajiban keluarga, melainkan sebagai perayaan atas hidupnya yang baru bersama Kevin.Pagi itu, butik pengantin paling eksklusif di Jakarta ditutup untuk umum. Arumi dan Kevin melangkah masuk ke dalam ruangan bernuansa minimalis mewah yang dipenuhi aroma bunga lili segar. Di sana, beberapa manekin telah mengenakan rancangan gaun pengantin haute couture yang dibuat khusus sesu
Setiap kali rasa rindu itu memuncak, Arumi harus menahannya sekuat tenaga. Ia ingin sekali menyuruh orang mencari keberadaan Pak Darman, ingin tahu apakah pria tua itu makan dengan teratur atau apakah ia merasa kesepian di masa tuanya. Namun, Arumi segera menepis keinginan itu."Tidak, Arumi. Jangan," ia mengingatkan dirinya sendiri. "Mencari Bapak hanya akan membawanya kembali ke dalam pusaran bahaya. Papa dan Kevin tidak akan tinggal diam jika mereka tahu hatiku masih tertinggal di sana."Ia sadar bahwa di usianya yang sudah senja, Pak Darman layak mendapatkan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan setelah pernikahan rahasaia demi menjaga martabat dan harta keluarga Atmodjo. Menghubunginya hanya akan menempatkan Pak Darman kembali di bawah pengawasan tajam mata-mata Kevin. Demi keselamatan pria yang ia cintai, Arumi memilih untuk menjadi orang asing yang paling setia menyimpan rahasia.Arumi mulai membangun benteng di sekelilingnya. Ia menjadi lebih waspada dan dingin. Jika dulu ia
Pagi itu, ruang kerja Pak Broto terasa lebih dingin dari biasanya. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari sebuah meja kayu jati panjang di mana dua map berwarna biru tua sudah terletak rapi. Pak Hendra berdiri di samping meja dengan pena emas di tangannya, wajahnya datar tanpa emosi, layaknya malaikat pencabut hubungan.Pintu terbuka. Arumi melangkah masuk dengan gaun hitam yang elegan namun tertutup. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sembab, meskipun ia telah menutupinya dengan riasan yang tebal. Di belakangnya, Pak Darman menyusul. Ia tidak lagi mengenakan baju tukang kebun, melainkan kemeja batik yang pernah dibelikan Arumi, batik yang sama yang ia kenakan saat mereka bangun bersama untuk pertama kalinya.Pak Broto duduk di kursinya, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kepuasan bisnis. "Kalian telah melakukan tugas yang luar biasa. Publik sudah tenang, Kevin sudah mulai melunak, dan nama baik Atmodjo pulih total. Sekarang, saatnya kita menyelesaikan admi







