Arif mengemudi tanpa tujuan di jalan-jalan kota, pikirannya kosong, tidak tahu harus mulai mencari aku dari mana.Akhirnya, dikalahkan oleh kelelahan dan keputusasaan, ia kembali ke rumah, rumah yang kini hampa, seperti cangkang kosong tanpa kehidupan.Mendengar ia pulang, Chintya bersembunyi di kamar tamu lantai atas, menahan napas, terlalu takut untuk membuat satu suara pun. Arif tidak mencarinya. Ia langsung menuju ruang kerja, lalu berjalan ke arah dapur.Ia menolak mempercayai kenyataan bahwa perceraian itu sungguh terjadi, bahkan dengan dokumen resmi yang masih tergeletak di atas meja mahoni.Sebaliknya, ia mulai memanipulasi pikirannya sendiri, tenggelam dalam khayalan yang menenangkan. ‘Santi hanya marah besar. Dia pernah seperti ini sebelumnya. Aku hanya perlu menenangkannya.’“Benar,” gumamnya pada diri sendiri. “Aku akan memasak makan malam. Saat Santi pulang dan melihat aku memasak untuknya, dia akan melunak. Dia selalu begitu.”Dengan keyakinan rapuh itu, Arif menggulung l
더 보기