Short
Menikahi CEO, Penyesalanku

Menikahi CEO, Penyesalanku

بواسطة:  Alyssa Jمكتمل
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
27فصول
100وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

"Bu Santi Tania, apa Anda yakin ingin mengakhiri pernikahan dua puluh tahun ini dan menyerahkan hak asuh anak?" "Ya. Ajukan saja permohonan perceraian. Saya sudah memutuskan," ucap aku dengan tenang melalui telepon sambil menggosok noda minyak di meja dapur granit. Selama dua puluh tahun, aku telah menyerahkan seluruh hidup aku untuk keluarga ini. Aku mengurus segala urusan rumah tangga, memastikan pendidikan anak-anak berjalan dengan baik, dan selalu berada di sisi suami aku, mendukungnya hingga ia berhasil naik ke puncak karier di sebuah konglomerat besar tanpa ada sedikit pun keluhan. Tapi suami aku, Arif Winata, malah membawa adik perempuan angkatnya, Chintya Winata, ke dalam sebuah wawancara media, lalu berkata dengan lantang, "Kesuksesan saya hari ini semua berkat bantuan saudara angkat saya." Bahkan anak-anak aku sendiri pun merendahkan aku. Mereka menyebut aku sekadar ibu rumah tangga yang biasa saja dan kasar. Mereka pun lebih memilih berpihak pada “Bibi” Chintya, wanita yang selalu ada di rumah itu, seolah-olah dia adalah nyonya rumah yang sesungguhnya. Jadi aku menandatangani surat perceraian dan pergi meninggalkan mereka, membiarkan mereka menjadi "keluarga yang sempurna" seperti mereka inginkan. Namun, sejak kepergian aku itulah, keluarga itu mulai panik ….

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

“Bu Santi, apa Anda sudah memeriksa syarat-syarat penceraian? Setelah Anda menandatangani, pernikahan dua puluh tahun ini akan resmi berakhir. Apa Anda yakin ingin meninggalkan semuanya, termasuk hak asuh anak?”

Aku sedang menggosok noda minyak di meja dapur granit, menahan telepon di telinga dengan bahu aku. Suara aku terdengar tetap tenang. “Ya. Ajukan saja permohonan penceraiannya. Aku sudah memutuskan.”

Pengacara itu tampak ragu-ragu. Nadanya sedikit melunak sebelum kembali ke profesionalisme yang dingin. “Baiklah, Bu Santi. Setelah kita mendapatkan tanda tangan Pak Arif, kita hanya perlu menunggu masa jeda wajib pengadilan sebelum putusan menjadi final.”

Aku pun mematikan panggilan dan menatap spons berbusa di tangan aku. Rasanya sungguh ironis, aku mengakhiri pernikahan dua puluh tahun sambil membersihkan meja dapur.

Sementara itu, layar televisi berukuran 85 inci di ruang tamu menayangkan saluran bisnis yang sedang menyiarkan wawancara dengan “Wirausaha Tahun Ini”.

Di layar, Arif tampak begitu sempurna dengan jas karya tangan yang sangat pas di tubuhnya, ia memancarkan kekuasaan dan karisma. Orang yang duduk tepat di sampingnya adalah saudara angkat sekaligus sekretaris pribadinya, Chintya. Dia tampil begitu sempurna, dengan riasan wajahnya natural namun memikat perhatian, dan menatap Arif dengan pandangan penuh kekaguman yang tulus dan murni.

Sang MC tersenyum. “Pak Arif, pada siapa Anda berterima kasih atas kesuksesan luar biasa Anda ini?”

Arif tidak ragu. Ia langsung menoleh ke arah Chintya, tatapan matanya langsung melunak. “Chintya, asisten eksekutif aku sekaligus saudara perempuan aku. Selama sepuluh tahun terakhir ini, aku tidak akan berada di posisi aku hari ini tanpa dukungannya.”

Ia mengucapkan terima kasih kepada para mitra. Dan ia mengucapkan terima kasih kepada para karyawan.

Namun istri yang telah mengurus rumahnya, membesarkan anak-anaknya, dan mendukungnya dari balik layar selama delapan belas tahun? Bagi dia, aku hanyalah bayangan hantu, sosok tak terlihat yang tak memiliki arti apa pun.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka lebar. Anak-anak pulang dari sekolah.

Anak laki-laki aku, Rio Winata, langsung mengernyitkan hidung begitu melangkah masuk ke rumah, lalu menutup wajahnya dengan berlebihan. “Ibu, masakan apa yang kamu buat? Seluruh rumah bau minyak. Nggak enak!”

Anak perempuan aku, Maya Winata, bahkan tidak melepas sepatu bermereknya. Ia langsung berlari ke depan televisi, menunjuk layar sambil berteriak kegirangan. “Astaga! Lihat! Ayah dan Bibi Chintya di TV! Bibi Chintya terlihat sangat cantik hari ini. Jauh lebih cantik daripada Ibu dengan pakaiannya yang kuno itu.”

“Benar.” Rio menyahut setuju, dengan kedua matanya yang penuh rasa hina. “Bibi Chintya benar-benar wanita hebat. Sementara Ibu hanya tahu bagaimana masak.”

Aku keluar dari dapur sambil membawa piring. Hati aku berubah muram saat mendengar kata-kata suami dan anak-anak aku sendiri.

Orang tua Arif meninggal di usia muda, sehingga ia selalu menjaga Chintya, saudara angkatnya, dengan sangat protektif.

Dia selalu berkata, "Chintya memiliki hidup yang sulit. Aku adalah kakaknya. Jika aku tidak menjaganya, siapa yang akan menjaga dia?”

Namun aku tahu kenyataannya tidak sesederhana itu. Mereka pernah menjalin hubungan asmara semasa SMA. Kini, Chintya telah bertransformasi menjadi asisten eksekutif yang tak pernah bisa dipisahkan darinya.

Setiap kali aku mengungkapkan rasa ketidaknyamanan aku terhadap batasan yang nyaris tidak ada di antara mereka, Arif selalu menggunakan kalimat manipulatif yang sama. “Mengapa pikiran kamu begitu kotor? Dia hanyalah saudara perempuan aku! Jangan terlalu paranoid. Sangat menyedihkan.”

Di rumah ini, tampaknya seolah Arif dan anak-anak mencintai aku. Namun setiap tindakan mereka justru membuktikan bahwa kesetiaan mereka sepenuhnya milik Chintya.

Aku diam-diam meletakkan kaserol di atas meja makan, sekilas melirik “pasangan yang sempurna” itu di layar televisi. Senyum sinis muncul di bibir aku.

Jika kalian berempat adalah keluarga yang sesungguhnya, maka aku akan menyingkir dengan senang hati.

Aku pun berbalik badan dan naik ke kamar tidur utama. Dari laci lemari, aku mengambil surat perceraian yang telah aku cetak beberapa hari lalu.

Aku menandatangani nama aku di bawah nama pemohon dengan tangan yang stabil.

Delapan belas tahun menjadi ibu rumah tangga tanpa bayaran. Aku sudah tidak kuat menahan ini semua.

Aku melipat dokumen itu dengan hati-hati dan menyelipkannya di antara tumpukan formulir perpanjangan asuransi jiwa, lalu meletakkannya tepat di tengah meja tamu.

Sudah lewat tengah malam ketika Arif pulang, membawa udara malam yang dingin bersamanya.

Ia bahkan tidak melepas sepatu. Tubuhnya langsung jatuh ke sofa kulit, sementara tangannya melonggarkan dasi sutra di lehernya.

Aku mendekat dan mencium aroma minuman keras yang mahal dari napasnya, bercampur dengan wangi parfum bermerek milik Chintya, itu tak mungkin salah. Selain itu, di kerah bajunya, terlihat jelas ada noda lipstik merah.

“Kenapa kamu minum begitu banyak?” tanya aku, meskipun aku sudah tahu jawabannya.

Arif mengibaskan tangan dengan tidak sabar, dan menghindari tatapan aku. “Chintya sedang mengikuti acara tambah koneksi dan terlalu banyak minum koktail. Aku hanya membantunya.”

Saat berbicara, ia dengan sembarang mendorong sebuah kardus di lantai ke arah aku.

“Aku membeli ini untuk kamu.”

Aku melihat ke bawah. Itu adalah model terbaru dari robot penyedot debu kelas atas.

Sambil membuka kancing bajunya, Arif berbicara dengan santai, “Aku membelinya saat membantu Chintya pindah ke apartemen barunya. Aku pikir karena kamu menghabiskan seluruh hari menyapu dan mengepel, ini akan cocok untuk kamu.”

Cocok untuk aku?

Jadi, dalam pandangannya, aku hanya pantas membersihkan lantai, sementara Chintya pantas dibantu pindah ke apartemen mewah secara pribadi.

Aku tidak marah. Aku hanya tertawa singkat dan dingin, lalu menyerahkan dokumen dari meja tamu kepadanya.

“Ini. Untuk kamu.”

Arif mengernyitkan kening. “Ini apa? Dokumen? Di jam begini?”

“Perpanjangan polis asuransi jiwa,” kebohongan aku meluncur tanpa rasa ragu. “Agen bilang harus ditandatangani hari ini untuk menjaga perlindungan anak-anak tetap aktif.”

Begitu mendengar kata anak-anak, kekesalan di matanya sedikit mereda. Tanpa membaca sepatah kata pun, ia langsung membuka halaman belakang.

“Baiklah, baiklah. Aku akan tanda tangan.”

Dia pun menuliskan tanda tangannya di halaman itu, lalu melemparkan pulpen ke samping, dan segera berdiri menuju ke arah dapur.

“Perut Chintya tidak enak karena alkohol. Aku perlu membuat sup hangat untuknya dan mengantar ke rumahnya.”

Aku menatap punggungnya saat ia sibuk di dapur, pria yang bahkan tak akan mengangkat satu jari jika botol minyak zaitun terjatuh, kini menggulung lengan baju untuk memasak demi wanita lain.

Aku lalu menunduk menatap polis asuransi di tangan aku, yang kini telah berubah menjadi perjanjian perceraian bertanda tangan lengkap, lalu mengetuk perlahan tepi kertas itu.

Arif, semoga kamu tetap sama cerobohnya saat pengadilan mengirimkan putusan perceraian kamu dua minggu lagi.
توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
27 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status