"Nggak mungkin aku sembunyiin tubuh manusia di lemari, Laras," ucap Mas Aksa, masih mengamatiku dari tengah ruangan."Nggak ada yang nggak mungkin dari kamu!" jawabku ketus.Tanganku menutup lemari terakhir di ruang ganti, lalu aku beralih ke kamar mandi. Semua kabinet kuperiksa tanpa terkecuali, area kloset, tangki airnya, hingga sudut-sudut yang nyaris tak terjangkau hanya untuk memastikan aku bisa menemukan jenazah Tiwi secepat mungkin. Namun, tetap saja pencarianku tak membuahkan hasil hingga aku terpaksa keluar dari kamar mandi dengan tangan kosong, lalu melangkah meninggalkan ruang ganti, meninggalkan Mas Aksa di belakangku."Ras, kita sarapan dulu, ya. Aku khawatir demam kamu makin parah kalau nggak diobatin," ujar Mas Aksa, berusaha mengejar langkahku ketika aku baru saja membuka pintu ruang ganti yang terhubung langsung ke kamar."Kalau kamu mau ngaku di mana kamu sembunyiin Tiwi, aku nggak mungkin harus cari-cari jenazahnya kayak gini, Mas!" seruku sambil menoleh ke arah Mas
Read more