Share

Roti Panggang

Author: Widia
last update Last Updated: 2026-01-12 18:12:27

Terang yang samar perlahan menembus kelopak mataku. Aku mengerjap, menahan silau yang memaksa masuk, hingga akhirnya perlahan membuka mata.

Kepalaku masih berat oleh sisa-sisa kejadian semalam yang berputar dibenakku seperti bayangan mimpi buruk yang belum sepenuhnya memudar. Tubuhku kaku, seolah belum siap untuk digerakkan, sementara otakku berusaha memilah mana mimpi buruk dan mana ingatan yang nyata.

Di saat bersamaan, pandanganku menangkap sepasang mata yang menatapku dari jarak terlalu dekat.

Aku mengerjap, mendapati Mas Aksa telah menghadap ke arahku, berbaring miring dengan satu tangan menyangga kepalanya. Tatapannya tenang dan hangat, seolah ia sudah lama terjaga dalam posisi seperti itu hanya untuk menungguku membuka mata.

“Pagi,” sapanya ringan, disertai senyum ceria yang terasa asing di antara sisa ketakutan yang masih menggumpal di dadaku.

Ini adalah Mas Aksa yang tampak normal. Sosok ramah dan murah senyum yang sempat kutemui kemarin pagi. Rambutnya tergerai jatuh ke dep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Roti Panggang

    Terang yang samar perlahan menembus kelopak mataku. Aku mengerjap, menahan silau yang memaksa masuk, hingga akhirnya perlahan membuka mata.Kepalaku masih berat oleh sisa-sisa kejadian semalam yang berputar dibenakku seperti bayangan mimpi buruk yang belum sepenuhnya memudar. Tubuhku kaku, seolah belum siap untuk digerakkan, sementara otakku berusaha memilah mana mimpi buruk dan mana ingatan yang nyata. Di saat bersamaan, pandanganku menangkap sepasang mata yang menatapku dari jarak terlalu dekat.Aku mengerjap, mendapati Mas Aksa telah menghadap ke arahku, berbaring miring dengan satu tangan menyangga kepalanya. Tatapannya tenang dan hangat, seolah ia sudah lama terjaga dalam posisi seperti itu hanya untuk menungguku membuka mata.“Pagi,” sapanya ringan, disertai senyum ceria yang terasa asing di antara sisa ketakutan yang masih menggumpal di dadaku.Ini adalah Mas Aksa yang tampak normal. Sosok ramah dan murah senyum yang sempat kutemui kemarin pagi. Rambutnya tergerai jatuh ke dep

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Aku Fikir Sampah

    Ada naluri lain yang lebih kuat, naluri bertahan hidup yang memaksaku menelan kemarahan itu mentah-mentah.“Ada di mana koperku, Mas? Kenapa di bagasi tidak ada?” tanyaku begitu tiba di kamar.“Bukankah sudah aku katakan, kamu hanya perlu memakai pakaian yang ada di lemari itu selama masih berada di dalam rumah ini.” jawabnya datar.“Aku akan memakainya, tapi aku memerlukan pakaian dalamku.” sahutku cepat, menahan gemetar di suaraku.“Aku tidak mengatakan kamu harus mengenakan pakaian dalam,” katanya tanpa perubahan ekspresi. “Jika memang aku memintamu memakainya, aku pasti sudah menyediakannya.”Keningku langsung berkerut. Perasaanku bercampur antara heran, tidak nyaman, dan tertekan oleh cara berpikirnya yang sama sekali tak bisa kupahami. Meski, status kami adalah suami istri, apakah sebegitu harusnya aku terus-menerus berada di hadapannya hanya dengan balutan robe sutra itu? Namun, aku tak berani mendebat lebih jauh dan lebih memilih fokus terhadap barang milikku sendiri.“Lalu di

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Bangkai Kucing

    Aku larut dalam curhatku bersama Erlan hingga tak lagi menyadari waktu. Saat ia kembali mengantarku pulang menggunakan mobilnya, hari telah beranjak gelap. Begitu kami tiba di depan gerbang rumah Mas Aksa yang tak biasanya terbuka lebar, jantungku kembali berdegup tak karuan.“Kalau ada apa-apa, kamu harus jujur sama aku ya, Ras,” ucap Erlan saat aku meraih gagang pintu mobil, bersiap turun.Aku menoleh padanya, lalu mengangguk dengan senyum selebar yang bisa kupaksakan, seharusnya cukup untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Namun, degupan jantungku yang berpacu, membuat dadaku naik turun lebih cepat, hingga tetap tak luput dari perhatiannya. Meski begitu, Erlan memilih untuk tidak mendesakku.“Aku akan berusaha cari informasi yang kamu butuhkan. Aku usahakan lebih dari itu.” lanjutnya.Nada suaranya terdengar mantap, dan entah bagaimana, kata-kata itu terasa seperti usaha halus untuk menenangkanku.Aku mengangguk sekali lagi, lalu turun dari mobilnya. Kami sempat saling melam

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Erlan, tolong aku!

    Aku masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah kafe tempatku biasa bekerja. Bukan karena aku terlambat masuk kerja, melainkan karena aku belum membayar taksi yang kutumpangi. Aku berniat meminjam uang kepada pemilik kafe itu untuk melunasi ongkosnya.Loh, kok bisa?Sebentar, aku akan menceritakannya setelah aku benar-benar menyelesaikan urusan ini.“Pinjami aku uang dulu, cepat!” pintaku sambil menadahkan tangan ke arah Erlan.Erlan tampak sedikit bingung, tetapi tetap menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah muda tanpa banyak bertanya.Begitu uang itu kuterima, aku segera keluar dari kafe dan membayar taksi yang masih menungguku di depannya.“Jadi, berapa totalnya, Pak?” tanyaku kepada sopir taksi itu.“Tujuh puluh tiga ribu, Kak,” jawabnya.“Kembaliannya untuk Bapak aja. Terima kasih, ya, Pak,” ucapku sambil menyodorkan selembar uang yang baru saja kuterima dari Erlan.“Terima kasih, Kak.”Setelah urusan pembayaran selesai, aku kembali melangkah masuk ke dalam kafe itu. Oh ya, tadi a

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Penampilan Berbeda

    Pagi itu aku membuka mata dan menggeliat perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya dan seketika itu juga aku terkesiap. Tempat di sampingku kosong dan sosok pria itu tak ada. Mungkinkah semalam aku benar-benar sedang bermimpi? “Haii, akhirnya kamu bangun juga” Suara riang Mas Aksa terdengar tepat di belakang telingaku. Ternyata, dia benar-benar nyata dan bukan hanya sosok yang ada di dalam mimpi saja. Aku menoleh spontan dan mendapati ia telah berdiri di sana. Sejak kapan? Apakah ia sudah lama mengamatiku yang masih terlelap, atau memang berniat membangunkanku sebelumnya? Entahlah, yang jelas, penampilannya pagi ini sudah kembali rapi dan terasa sangat berbeda. Jika semalam rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut yang mengilap, menegaskan kesan berwibawa dengan kacamata yang membingkai matanya. Kini, rambut itu justru dibiarkan tergerai seadanya, jatuh lurus menutupi seluruh dahinya. Tanpa kacamata, wajahnya juga terlihat jauh lebih muda

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Peran Suami Sesungguhnya

    Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia. Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan."Tidak usah ditutup-tutupi. Untu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status