LOGINHari yang seharusnya jadi momen paling bahagia dalam hidupku justru berubah menjadi awal petaka, ketika aku menyadari bahwa pria yang kunikahi adalah psikopat berkepribadian ganda.
View More“Tentang Tiwi apa yang mau kamu sampein sama aku tadi, Ca?” tanyaku, berpura-pura tidak mengetahui apa pun yang sebenarnya telah terjadi.Sungguh, di dalam hati aku merasa sangat berdosa mengatakan hal itu pada Caca. Aku seolah telah melakukan pengkhianatan besar bukan hanya padanya, tetapi juga pada semua sahabatku. Perasaanku semakin tercekik saat kulihat mata Caca mulai berkaca-kaca, lalu perlahan menitikkan air mata. Caca pasti sudah kelimpungan mencari Tiwi selama beberapa hari terakhir ini, sementara aku justru berdiam diri di rumah ini, hidup berdampingan dengan orang yang telah merenggut nyawa sahabat kami, tanpa mampu mengetahui di mana Mas Aksa menyembunyikan jenazah Tiwi.“Tiwi meninggal, Ras,” ucap Caca tersendat di sela tangisnya.“Meninggal, Ca?” tanyaku dengan nada terkejut.Aku memang terkejut, meskipun aku telah lebih dulu mengetahui bahwa Tiwi telah meninggal. Namun, keterkejutanku bukan semata karena kabar itu, melainkan karena kenyataan bahwa Caca mengetahuinya. S
“Ini obat yang Airin resepin buat kamu. Diminum sekarang, ya,” ujar Mas Aksa sambil menyerahkan sebuah kantong plastik berisi beberapa bungkus obat. Ia bahkan membantuku membuka satu per satu obat tersebut, memastikan aku siap meminumnya.“Dokter itu mantan pacar kamu, Mas?” tanyaku akhirnya.Mas Aksa yang tengah membuka obat terakhir seketika menghentikan gerakannya dan menatapku.“Perempuan ternyata gampang cerita, ya? Aku gak nyangka kalian bakal curhat di pertemuan pertama kalian,” balasnya.“Makanya kamu langsung semangat manggil dokter begitu tahu aku sakit?” lanjutku.Mas Aksa tersenyum kecil. “Kamu ngomong apa sih? Kamu cemburu sama dia?”“Bukan cemburu. Aku cuma sedikit tersinggung aja karena kamu gak bilang kalau bakal manggil mantan kamu ke rumah ini.”Mas Aksa terkekeh pelan mendengar ucapanku. Barangkali ia mengira semua itu lahir semata-mata dari kecemburuanku. Padahal, perasaanku lebih menyerupai rasa tersinggung atas ketidakjujurannya padaku sejak awal.“Iya udah, aku
Ia kembali melangkah keluar dari kamar. Aku mengikuti kepergiannya dengan pandangan mata hingga sosoknya menghilang di balik pintu. Aku tak pernah menyangka bahwa ia bisa sedemikian perhatian dalam merawatku, dengan tangan-tangan dinginnya itu.Dirawat oleh seseorang psikopat seperti dirinya menghadirkan sensasi yang bertolak belakang antara nyaman sekaligus mengerikan. Membayangkan bagaimana tangan yang sama mampu menyentuhku dengan lembut, namun juga begitu ringan mengusap darah yang menyiprat di wajahnya setiap kali ia selesai melakukan pembunuhan, membuatku terperangkap di antara rasa aman yang menipu dalam ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.Beberapa menit kemudian, Mas Aksa kembali memasuki kamar bersama seorang dokter. Dokter itu adalah seorang perempuan berpenampilan anggun dengan wajah yang cantik. Ia tersenyum ramah begitu pandangannya bertemu denganku.“Laras, kenalin ini Dokter Airin,” kata Mas Aksa memperkenalkannya kepadaku. Lalu ia beralih menatap dokter itu
Hampir setengah jam berlalu sebelum Mas Aksa kembali masuk ke kamar dan membangunkanku. Aroma makanan hangat segera menguar, berasal dari semangkuk bubur yang ia bawa masuk bersamanya.“Laras, bangun ya. Kamu harus sarapan dulu,” katanya sambil mengusap lenganku, mengira aku benar-benar tertidur sejak memejamkan mata tadi.“Aku gak lapar, Mas,” jawabku menolak.“Sedikit aja, Ras. Ini aku buat sendiri, loh, buburnya. Kamu kemarin juga suka masakan buatanku. Dicoba dulu ya, sedikit aja. Perut kamu gak boleh kosong.”Mas Aksa meletakkan mangkuk bubur itu di atas ranjang, lalu mendekat ke arahku. “Ayo duduk dulu,” ucapnya sembari membantu menyandarkan tubuhku pada sandaran ranjang.Setelah aku berada dalam posisi yang lebih nyaman, ia kembali meraih mangkuk tersebut dan duduk di sampingku, bersiap menyuapiku.“Kenapa sih, Mas, kamu gak taruh aja meja di kamar ini? Kan lebih gampang kalau naruh sesuatu di atas meja.”“Mungkin biar aku lebih nyaman dan gak terganggu di jam istirahatku.”“M
Aku tak menyadari entah sejak kapan akhirnya benar-benar terlelap, hingga tanpa sadar membiarkan malam berlalu begitu saja. Padahal, sebelumnya aku telah berjanji pada diri sendiri untuk tetap terjaga demi mencegah Mas Aksa kembali melakukan perbuatan keji itu. Barangkali demam yang kembali meningg
"Gimana kabarmu, Ras? Apa kamu baik-baik aja? Gimana suamimu memperlakukanmu? Ibu khawatir sekali sama kamu, apalagi nomormu gak pernah aktif. Kenapa sih? Apa ponselmu rusak?" cecar Ibu, begitu hanya ada kami berdua di sana.Aku sudah menduga Ibu akan sekhawatir ini, apalagi sejak aku tinggal bersa
Kepalaku masih terasa pening saat kusadari diriku telah terbaring di atas tempat tidur, sementara Mas Aksa duduk tepat di sampingku. Ia tampak fokus menatap layar laptopnya, jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. Sesekali, ia mendorong kacamatanya ke atas tanpa mengalihkan pandangan dari
“Happy birthday to Pak Aksa, happy birthday to you….”“Yeaaay!”Nyanyian dan sorakan itu datang dari puluhan siswa Mas Aksa yang tiba-tiba memenuhi teras rumah. Mas Aksa sendiri tampak terkejut menerima kejutan ulang tahun tersebut.“Wah, terima kasih atas surprise-nya. Saya benar-benar nggak nyang


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.