Mag-log inHari yang seharusnya jadi momen paling bahagia dalam hidupku justru berubah menjadi awal petaka, ketika aku menyadari bahwa pria yang kunikahi adalah psikopat berkepribadian ganda.
view more"Gimana ini, Ras. Kok Arjun belum juga datang?" Tanya Ibu panik.
"Iya, Ras. Coba di telepon lagi, tanyakan rombongan keluarga mereka sudah sampai mana" ucap Ayah ikut menimpali. "Nomornya gak aktif, Yah. Kita tunggu sebentar lagi ya. Mungkin sebentar lagi dia datang" jawabku, berusaha terdengar tenang meski dadaku sendiri terasa sesak. Sudah lewat dua jam sejak waktu yang ditentukan untuk melangsungkan ijab kabul, tetapi calon mempelai priaku justru belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Padahal, hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Hari di mana aku akan menikah dengan Arjun, lelaki yang kucintai dan telah menemaniku selama lebih dari tiga tahun perjalanan hidupku. Seluruh tamu undangan dan keluarga besarku telah berkumpul di aula yang aku dan Arjun sewa untuk menggelar hari istimewa itu. Namun, suasana yang seharusnya penuh sukacita justru dipenuhi kegelisahan yang kian menebal. Pak penghulu sudah hadir sejak dua jam lalu, dan kini tampak semakin resah, berkali-kali melirik arloji kulit di pergelangan tangannya. Barangkali beliau memiliki jadwal akad lain yang menanti, tetapi terpaksa tertahan di sini karena Arjun, lelaki yang seharusnya menjadi mempelai prianya, belum juga tiba. Akhirnya, pak penghulu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arahku yang berdiri di depan pelaminan, bersama Ayah dan Ibu. “Mohon maaf, Ibu, Bapak,” ucapnya dengan nada hati-hati. “Saya sudah menunggu cukup lama sesuai waktu yang telah disepakati. Setelah ini, saya masih harus menikahkan pasangan lain di tempat lain yang tidak dapat saya tinggalkan.” Beliau berhenti sejenak, menatapku yang berdiri kaku, tanpa mampu berkata-kata. “Karena calon mempelai pria belum juga hadir, dengan sangat menyesal saya tidak dapat menunda lebih lama dan harus pamit. Akad nikah tidak dapat dilaksanakan tanpa kehadiran mempelai pria secara langsung,” lanjutnya dengan raut penuh penyesalan. “Mohon tunggu sebentar lagi, Pak,” bujuk Ibuku cepat, berusaha menahan langkah beliau yang hendak pergi. “Saya yakin calon mempelai pria masih dalam perjalanan. Mungkin dia sedang terjebak macet di jalan.” Baru saja Ibu mengucapkan kalimat itu, ponsel yang sejak tadi ada dalam genggamanku untuk menghubungi Arjun, akhirnya bergetar. Aku langsung mengangkat panggilan itu. Panggilan yang sejak tadi menjadi sumber kecemasan bagi kami semua. "Hallo Arjun, kamu di mana sih? Kok belum datang juga? Tamu undangannya udah nungguin kita dari tadi" sergahku cepat. "Laras, maaf. Aku gak bisa datang dan melakukan pernikahan itu bersamamu" ucap Arjun dari balik sambungan. "Jangan bercanda, Arjun!" bantahku semakin panik, "Mau ditaro di mana muka Ayah dan Ibuku, kalau pernikahan ini batal. Kamu gak bisa seenaknya batalin pernikahan ini gitu aja. Kita semua udah nunggu kamu dari tadi." balasku panik. Begitu pun dengan Ayah dan Ibu yang tak kalah panik denganku. "Aku gak bercanda, Ras. Aku beneran gak bisa melakukan pernikahan itu." "Alasannya apa, Ar? Kenapa tiba-tiba gini? Kemarin kamu masih baik-baik aja. Kamu bahkan datang buat ngecek persiapan di aula ini" desakku tak terima. "Maafin aku, Ras." Kata maaf itu menjadi kalimat terakhir yang keluar dari mulut Arjun sebelum akhirnya sambungan telepon itu terputus. Aku yang tak terima dengan kenyataan itu kembali menghubungi Arjun. Namun, nomor itu sudah kembali tidak aktif seperti sebelumnya, membiarkan aku dalam keterpakuan dalam yang menyesakkan. "Gimana, Ras? Kenapa tiba-tiba Arjun ingin membatalkan pernikahannya denganmu?" tanya ibu, seraya meraih lenganku. "Iya, Nak. Apa alasan anak itu membatalkannya?" tanya Ayah menyusul. Suaranya berusaha terdengar tenang meski jelas menahan amarah. "Dia cuma bilang maaf dan gak jelasin apa-apa sama Laras" ucapku gemetar. Mataku mulai terasa panas, menahan segala rasa yang berdesakan di dada. Kecewa, marah, malu, dan kebingungan yang tak terperi. Aku tak habis pikir bagaimana sebuah keputusan sepihak bisa diambil begitu saja, begitu mudah, oleh Arjun, tanpa mempedulikan perasaanku, keluargaku, dan hari yang seharusnya menjadi awal hidup baru bagi kami. “Astagfirullah! Bagaimana ini, Yah?” lirih Ibu, masih menggenggam lenganku erat, lalu menoleh pada Ayah seolah mengharapkan jawaban. Ayah sendiri sepertinya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang Ibu lontarkan, sementara pak penghulu yang berdiri tak jauh dari kami terlihat telah bersiap melangkah pergi. “Saya turut prihatin atas apa yang terjadi, Pak, Bu, karena calon pengantin pria telah membatalkan pernikahan, saya mohon pamit undur diri.” ucapnya dengan nada penyesalan. “Tunggu, Pak Penghulu!” cegah sebuah suara dari arah belakang. Itu Bude Maryati, kakak Ayahku yang tinggal di Malang. Beliau memang turut hadir dan banyak membantu mempersiapkan pernikahan ini. Perempuan paruh baya itu tampak anggun dalam balutan kebaya berwarna burgundy. Namun, bukan Bude Maryati yang menyita perhatianku, tetapi pria yang berdiri tegap dengan tubuh tinggi dan kokoh dalam balutan tuxedo. Postur pria itu lurus dan nyaris tanpa gerakan. Kedua tangannya terkatup rapi di depan tubuh, satu tangan menggenggam pergelangan tangan yang lain dengan sikap tenang dan terkendali. Rambutnya disisir ke belakang dengan kilap yang jelas menyingkap dahi serta menegaskan garis wajahnya, sementara kacamata hitam membingkai kedua mata, melengkapi kesan tertutup, namun berwibawa. Pria itu tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala sebentar ke arah Ayah dan Ibu. Sebuah gestur sopan yang sederhana, tetapi memancarkan wibawa khas pria yang memahami tata krama dan adat dengan baik. “Pernikahan ini tetap akan berlangsung sebagaimana mestinya. Dia.... ” Bude Maryati mendongakkan pandangannya ke arah pria yang berdiri di sampingnya. Sosok yang jauh lebih tinggi darinya, seraya menepuk ringan lengan pria itu, “Maksud saya, Aksa. Dialah yang akan menggantikan posisi calon mempelai prianya.” “Apa?!” pekikku spontan.“Tentang Tiwi apa yang mau kamu sampein sama aku tadi, Ca?” tanyaku, berpura-pura tidak mengetahui apa pun yang sebenarnya telah terjadi.Sungguh, di dalam hati aku merasa sangat berdosa mengatakan hal itu pada Caca. Aku seolah telah melakukan pengkhianatan besar bukan hanya padanya, tetapi juga pada semua sahabatku. Perasaanku semakin tercekik saat kulihat mata Caca mulai berkaca-kaca, lalu perlahan menitikkan air mata. Caca pasti sudah kelimpungan mencari Tiwi selama beberapa hari terakhir ini, sementara aku justru berdiam diri di rumah ini, hidup berdampingan dengan orang yang telah merenggut nyawa sahabat kami, tanpa mampu mengetahui di mana Mas Aksa menyembunyikan jenazah Tiwi.“Tiwi meninggal, Ras,” ucap Caca tersendat di sela tangisnya.“Meninggal, Ca?” tanyaku dengan nada terkejut.Aku memang terkejut, meskipun aku telah lebih dulu mengetahui bahwa Tiwi telah meninggal. Namun, keterkejutanku bukan semata karena kabar itu, melainkan karena kenyataan bahwa Caca mengetahuinya. S
“Ini obat yang Airin resepin buat kamu. Diminum sekarang, ya,” ujar Mas Aksa sambil menyerahkan sebuah kantong plastik berisi beberapa bungkus obat. Ia bahkan membantuku membuka satu per satu obat tersebut, memastikan aku siap meminumnya.“Dokter itu mantan pacar kamu, Mas?” tanyaku akhirnya.Mas Aksa yang tengah membuka obat terakhir seketika menghentikan gerakannya dan menatapku.“Perempuan ternyata gampang cerita, ya? Aku gak nyangka kalian bakal curhat di pertemuan pertama kalian,” balasnya.“Makanya kamu langsung semangat manggil dokter begitu tahu aku sakit?” lanjutku.Mas Aksa tersenyum kecil. “Kamu ngomong apa sih? Kamu cemburu sama dia?”“Bukan cemburu. Aku cuma sedikit tersinggung aja karena kamu gak bilang kalau bakal manggil mantan kamu ke rumah ini.”Mas Aksa terkekeh pelan mendengar ucapanku. Barangkali ia mengira semua itu lahir semata-mata dari kecemburuanku. Padahal, perasaanku lebih menyerupai rasa tersinggung atas ketidakjujurannya padaku sejak awal.“Iya udah, aku
Ia kembali melangkah keluar dari kamar. Aku mengikuti kepergiannya dengan pandangan mata hingga sosoknya menghilang di balik pintu. Aku tak pernah menyangka bahwa ia bisa sedemikian perhatian dalam merawatku, dengan tangan-tangan dinginnya itu.Dirawat oleh seseorang psikopat seperti dirinya menghadirkan sensasi yang bertolak belakang antara nyaman sekaligus mengerikan. Membayangkan bagaimana tangan yang sama mampu menyentuhku dengan lembut, namun juga begitu ringan mengusap darah yang menyiprat di wajahnya setiap kali ia selesai melakukan pembunuhan, membuatku terperangkap di antara rasa aman yang menipu dalam ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.Beberapa menit kemudian, Mas Aksa kembali memasuki kamar bersama seorang dokter. Dokter itu adalah seorang perempuan berpenampilan anggun dengan wajah yang cantik. Ia tersenyum ramah begitu pandangannya bertemu denganku.“Laras, kenalin ini Dokter Airin,” kata Mas Aksa memperkenalkannya kepadaku. Lalu ia beralih menatap dokter itu
Hampir setengah jam berlalu sebelum Mas Aksa kembali masuk ke kamar dan membangunkanku. Aroma makanan hangat segera menguar, berasal dari semangkuk bubur yang ia bawa masuk bersamanya.“Laras, bangun ya. Kamu harus sarapan dulu,” katanya sambil mengusap lenganku, mengira aku benar-benar tertidur sejak memejamkan mata tadi.“Aku gak lapar, Mas,” jawabku menolak.“Sedikit aja, Ras. Ini aku buat sendiri, loh, buburnya. Kamu kemarin juga suka masakan buatanku. Dicoba dulu ya, sedikit aja. Perut kamu gak boleh kosong.”Mas Aksa meletakkan mangkuk bubur itu di atas ranjang, lalu mendekat ke arahku. “Ayo duduk dulu,” ucapnya sembari membantu menyandarkan tubuhku pada sandaran ranjang.Setelah aku berada dalam posisi yang lebih nyaman, ia kembali meraih mangkuk tersebut dan duduk di sampingku, bersiap menyuapiku.“Kenapa sih, Mas, kamu gak taruh aja meja di kamar ini? Kan lebih gampang kalau naruh sesuatu di atas meja.”“Mungkin biar aku lebih nyaman dan gak terganggu di jam istirahatku.”“M












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.