“Kak Acha ….” Deg! Acha tersentak. Kakinya yang tadi sempat naik ke kursi langsung turun cepat sampai kursinya nyaris terjungkal ke belakang. Ia buru-buru menahan meja, lalu menoleh. Ternyata Esther sudah berdiri di sampingnya, menatap dengan ekspresi polos seperti biasa. Acha menghela napas panjang. Astaga … dari ia dari tadi melamun. “Kakak mikirin apa?” tanya Esther, sedikit membungkuk, mengintip layar komputer Acha yang masih membuka siaran infotainment, meski topiknya sudah berganti. “Dari tadi bengong, dipanggil nggak denger.” “Nggak apa-apa,” jawab Acha cepat, langsung menggerakkan mouse dan mengembalikan tampilan komputernya ke halaman kerja. Esther mengangguk-angguk kecil, lalu kembali bersuara, seolah baru teringat sesuatu. “Pak Elvano … hari ini udah resmi berpisah dari Mbak Tiara, Kak.” Acha sedikit mengangkat kepala. “Hm. Mungkin itu sudah jadi jalan terbaik untuk mereka berdua.” “Kira-kira … saya masih boleh lanjut magang di sini, nggak ya?” lanjut Esther, nada
閱讀更多