Menjelang jam makan siang, Acha akhirnya menyerah, ancaman Rafael sebelumnya sudah cukup membuat pikirannya buyar total.Ia tahu, kalau tidak dituruti, Rafael mungkin akan benar-benar nekat datang ke kantornya. Kalau sampai itu terjadi, ia bisa mati malu.Ia mengembuskan napas berat, saat meraih tas kecilnya sebelum menoleh pada Esther yang sedang menyusun berkas di meja sebelah.“Esther, saya makan di luar sebentar, ya. Nggak jauh, di restoran dekat kantor. Kalau ada apa-apa, telepon saya.”Esther mendongak cepat. “Oh, sama siapa, Kak?”“Sama teman.”“Oh.” Esther mengangguk santai. “Kirain sama Pak Elvano lagi.”Pernyataan itu membuat Acha hampir saja tersedak liurnya sendiri.“Esther!”Alih-alih merasa bersalah, gadis itu malah cekikikan melihat reaksi Acha yang mendadak salah tingkah. Entah kenapa, ia selalu tak bisa bersikap biasa saja jika mendengar nama Elvano disebut.“Bercanda, Kak.”Acha mendesah panjang sambil menggeleng pelan. “Saya pergi dulu.”Namun, begitu membalikkan
Read more