Acha menunduk sedikit, memperhatikan wajah bocah laki-laki itu sambil berusaha mengingat.Keningnya sempat berkerut beberapa detik. Namun, tak butuh waktu lama sampai wajah kecil itu terasa familiar di kepalanya.“Oh …,” gumamnya pelan. “Kamu yang lari-larian di Pantai Anyer itu, kan?”Wajah anak kecil itu langsung berbinar senang.“Iya!” jawabnya semangat. “Namaku Keano, Kak. Aku pikil Kakak udah lupa sama aku. Keano aja ingat.”Acha terkekeh kecil melihat cara bicara bocah itu yang masih saja cadel. Cukup menggemaskan, tetapi Acha ingat Elvano sempat bilang kalau Keano ini merepotkan.Ah, dasar pria. Lucu begini, dibilang merepotkan, mentang-mentang tak punya anak.Tangan Acha refleks mencubit gemas pipi Keano pelan. “Ingat, dong.”“Aku senang ketemu Kakak lagi,” lanjut Keano polos. “Waktu itu Kakak nyuluh aku pulang nanti dicaliin Mommy.”Acha langsung tersenyum mengingat kejadian saat malam itu.“Jadi Keano benar-benar pulang, kan?”“Pulang,” jawab bocah itu cepat. “Soalnya ketahu
閱讀更多