“Lady, Anda tadi sangat berani bicara tegas depan Raja. Anda tidak takut jika Yang Mulia Marah?” Diana mendekat pada Marielle saat dalam kereta kuda.“Justru itu. Aku harus membuatnya membenciku agar rumah tangga Raja dan Ratu bertahan lebih lama. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang,” balas Marielle enteng dengan pandangan yang terus melihat keluar jendela.“Begitu… bagi saya, Lady tadi sangat keren.” Diana menyunggingkan senyum sumringah.Marielle membalas senyum itu sebentar, lalu kembali menatap jalanan yang mereka lalui.Di dalam kereta, Marielle bersandar pada bantalan beludru, menatap pepohonan pinus tinggi yang mulai menggantikan deretan bangunan megah ibukota. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, dadanya tak lagi terasa sesak.Sesekali, pandangan Marielle bertemu dengan Aldric yang menunggang kuda. Namun setiap mata mereka bertemu, keduanya langsung memalingkan muka. Seolah menghindari satu sama lain.Memasuki senja, kabut tebal khas daerah pegunungan mulai turu
Read more