로그인”Dasar! Merepotkanku saja!” Aldric berdecih pelan, namun terdengar jelas oleh Marielle.Punggung tegap Aldric perlahan menjauh dan menghilang di belokan lorong. Marielle berdiri di ambang pintu untuk waktu yang cukup lama, menatap ruang kosong yang ditinggalkan Grand Duke itu sebelum akhirnya melangkah mundur dan menutup pintu rapat-rapat."Lady..." Diana mendekat dengan wajah cemas luar biasa. Tangannya gemetar pelan saat memegang lengan gaun Marielle. "Apakah ucapan Grand Duke tadi benar? Raja... benar-benar bermaksud ingin meracuni Anda?"Marielle memejamkan mata sejenak, menghembuskan nafas panjang. Ketika ia membuka matanya kembali, sorot perak itu memancarkan tekad yang tak tergoyahkan."Aku tidak tahu. Tapi untuk sekarang kita harus lebih berhati-hati," sahut Marielle dingin. "Yang Mulia Raja memang tidak pernah berubah. Tapi aku tidak menyangka jika dia akan berbuat sejauh ini untuk menahanku."Marielle berdiri mematung sejenak. Pikirannya terus menuju sang Raja dimana a
"Pergi dari hadapanku sebelum aku benar-benar memindahkannmu ke kandang kuda, Tristan!" usir Aldric dengan nada menahan geram.Tristan membungkuk tegak bagai papan lalu buru-buru melangkah keluar, meninggalkan sang Grand Duke yang masih mengusap wajahnya kasar.Aldric menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya agak memerah campuran antara gengsi yang tersenggol dan rasa takut kalau Marielle menganggapnya terlalu mencampuri urusannya.”Ini tidak bisa dibiarkan,” batin Aldric kaku. “Kalau aku tidak meluruskan ini, wanita itu akan makin besar kepala.”Dengan langkah lebar dan jubah hitam yang melambai tegas, Aldric akhirnya memutuskan untuk mendatangi paviliun Marielle sendiri. Masa bodoh jika orang-orang istana melihatnya. Keadaan sudah terlalu gawat mengingat Cassian punya waktu kurang dari dua hari untuk melancarkan rencananya agar Marielle tidak jadi meninggalkan istana.Sesampainya di depan pintu kamar Marielle, ia mengetuk pintu sedikit kencang. Marielle yang sedang mem
”Pagi ini Lady harus makan yang bergizi agar cepat sembuh hihihi…” Diana bergumam sendirian sambil menyiapkan sarapan untuk Marielle.Di lorong istana, Diana berjalan terburu-buru membawa nampan berisi sarapan hangat dan segelas cangkir teh untuk Marielle.Namun, tepat di depan pintu kamar Marielle, seorang ksatria berbadan tegap dengan jubah serigala perak khas Valerante mendadak melangkah keluar dari balik pilar dan menghadang jalan Diana."Tunggu sebentar," ujar ksatria itu dengan raut wajah sangat serius. Tangannya langsung terulur ingin memeriksa piring sarapan di atas nampan. Diana yang masih memendam trauma dan ketakutan mendalam pada pihak Grand Duke seketika membelalakkan mata. Ia menarik nampannya mundur dengan nafas memburu."Apa-apaan ini?!" bentak Diana setengah berbisik, matanya menatap tajam ksatria itu. "Mau apa kau menyentuh makanan Lady Marielle?!""Saya harus memeriksa semua makanan dan minuman
”Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia.” Marielle membungkuk sedikit karena lega diberi izin untuk keluar istana tanpa tahu rencana apa yang sedang dipersiapkan Raja untuknya.Makan malam yang dibalut kesepakatan semu itu akhirnya usai. Masing-masing dari mereka melangkah meninggalkan meja makan dengan beban pikiran yang berbeda. Dua hari adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah kepulangan, namun bagi Cassian, dua hari adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membalikkan keadaan.Langkah tegap Cassian membawanya kembali ke ruang kerja pribadinya. Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran. Senyum manis Elira, tatapan dingin Aldric, dan keteguhan mata perak Marielle berputar-putar di kepalanya, memicu amarah obsesif yang kian membara.Ia memanggil Rowan, asisten pribadinya. “Ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?” Pria itu refleks membungkuk ketika memasuki ruangan.“Panggilkan dokter yang menangani Marielle sekarang. Ada hal yang
“Apa kamu bilang?” Cassian mencoba memastikan sekali lagi.“Saya akan pulang ke Valerante bersama Lady Marielle besok,” ulang Aldric sekali lagi.Cassian meletakkan cangkir anggurnya ke atas meja porselen dengan tekanan yang begitu kuat hingga cairan merah di dalamnya berkecak dan meluap, menodai taplak meja yang putih bersih. Suara benturan itu menggema tajam di ruang makan yang seketika berubah mencekam.Tatapan Cassian yang semula tenang kini mendingin, terpaku lurus pada Grand Duke di hadapannya."Tidak," potong Cassian dengan suara rendah yang sarat akan penolakan mutlak. "Kau boleh pergi kapan pun kau mau, Aldric. Tapi Marielle... dia akan tetap tinggal di istana ini."Suasana di ruangan itu seketika membeku. Namun, Alih-alih gentar atau berdebat langsung dengan sang Raja, Aldric dengan tenang mengalihkan pandangannya dari Cassian. Mata hitamnya kini terkunci pada Marielle yang duduk di seberang meja."Lady Marielle," panggil Aldric dengan suara datar namun tegas, sengaja
“Apa yang harus aku lakukan?” Kedua tangan Elira saling menggenggam erat sambil mondar-mandir di kamarnya.Dayang Elira yang terus melihat perlahan bertanya, “Yang Mulia Ratu, apakah Anda baik-baik saja?”Tatapan kalut Elira sudah menjawab semuanya. Meski sang Ratu bicara tidak, tapi raut wajahnya tak bisa menipu sang dayang.“Sungguh Anda tidak apa-apa? Maukah saya panggilkan Grand Duke? Biasanya Anda lebih tenang jika setelah berbincang dengan beliau,” ucap Dayang pelan.Mendengar kata Grand Duke, Elira langsung teringat Aldric. Pria yang selalu menuruti semua keinginannya.“Kau benar. Antarkan aku menemui Grand Duke segera.”Langkah kaki Elira terburu-buru menembus lorong menuju paviliun sayap barat, kediaman Grand Duke Valerante. “Aku ingin menemui Grand Duke. Dia ada di dalam kan?” tanya Elira berusaha bersikap tenang.Pengawal di depan pintu sempat ragu, namun atas wibawa sang Ratu, mereka terpaksa membiarkannya masuk tanpa pengawalan.“Silahkan, Yang Mulia Ratu.”Di dalam ru
“Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k
“Lady Marielle!” Suara Enzo menggema di antara pepohonan.Ia berlutut di samping wanita itu, satu tangan menopang bahu Marielle, sedangkan tangan yang lain otomatis mencabut pedang dari sarung di pinggang untuk membentuk pertahanan. Tatapannya bergerak liar ke segala arah, mencari bayang
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







