LOGIN"Apakah aku akan mati untuk yang kedua kali?" Aku terbangun dalam tubuh Marielle De Aubrey, seorang tokoh antagonis yang berakhir mengenaskan, dihukum gantung akibat dosa yang diperbuat. Marielle seorang budak yang ditemukan Raja ketika berburu, dan menjadikannya selir di istana. Dia merebut posisi Ratu dan menjadi seorang diktator agar semua orang merasakan apa yang pernah ia rasakan, dan itu membuat dirinya jatuh dalam kematian. Aku yang mengetahui akhir tragis dari novel "Mawar yang Kembali Merekah" tidak ingin merasakan rasanya mati di tiang gantung dan disoraki oleh semua orang. Aku berusaha mengubah nasib Marielle yang kini juga menjadi nasibku. Namun, terkadang mengubah garis takdir yang telah tertulis bisa mendatangkan hal-hal diluar dugaan, karena semesta tak menyukai rencananya berantakan.
View More“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.”
Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia biasa yang setiap hari bekerja, tertawa, dan mengeluh tentang hidupnya sendiri. Tapi sekarang? Dirinya terjebak dalam tubuh wanita lain di dunia fiksi. “Wajar sih... dia cantik, berwibawa, dan juga pintar.” Matanya masih mengikuti setiap gerak-gerik Ratu dari kejauhan yang terlihat begitu pandai mengatur orang-orang di depan pintu masuk istana. Wanita itu masih duduk di kursi dekat jendela sambil menikmati beberapa biskuit dan seduhan teh hangat yang baru saja disajikan oleh para pelayan. “Aku tidak menyangka jika hidup di istana sangat nyaman dan menyenangkan seperti ini,” ucapnya sambil meneguk teh hangat dan tubuhnya bersandar di kursi kayu. Hidup dalam kemewahan adalah impiannya sejak kecil. “Tapi…” ada ragu dalam suaranya, mengingat apa saja yang telah ia lalui dan berakhir seperti ini. Beberapa hari yang lalu, wanita itu mati akibat peluru sasar saat melakukan demonstrasi dan saat sadar dirinya telah memasuki tubuh Marielle—seorang tokoh antagonis sekaligus selir pelakor yang berakhir mati di tiang gantung karena menghianati Raja. Jujur saja, dia sangat kesal. Dari sekian banyak tokoh dalam novel itu, kenapa justru dirinya harus masuk ke tubuh wanita antagonis perebut suami orang? Hal ini membuat harga dirinya sebagai wanita jatuh sejatuhnya. “Benar!" Tangannya mengepal menyadari sesuatu. "Pokoknya aku tidak boleh mati. Apalagi merebut suami orang. Ugh! Aku harus membuat rencana hidup yang bagus.” Marielle menggigit kukunya berusaha berpikir keras bagaimana caranya selamat dan bertahan selama mungkin dalam tubuh ini. Rasa sakit mati akibat tertembak masih membekas di kepalanya, dia tak mau lagi merasakan mati akibat digantung. Memikirkannya saja membuat nafasnya sudah sesak. "Padahal aku belum selesai membaca novel itu, tapi udah mati duluan, hufft!" keluhnya kesal. Mengingat masih ada seratus halaman yang belum ia baca setelah kematian Raja Cassian dalam novel. "Bahkan aku tidak tau akhir ceritanya bagaimana. Apakah Ratu Elira dan Grand Duke berakhir bahagia?" sorot matanya penuh tanda tanya. Di Kejauhan terlihat iring-iringan kereta kuda. Dia mengingat, jika sang Raja akan tiba di istana setelah melakukan perjalanan dinas di kerajaan sahabat untuk memperkuat kerjasama dalam bidang perdagangan maupun keamanan. Kereta kuda itu berhenti, Ratu Elira sudah berdiri disana untuk menyambut sang Suami yang baru saja tiba. Semua rombongan turun, begitu banyak orang dan barang yang dibawa. Halaman istana menjadi ramai oleh para pelayan yang sibuk menurunkan peti-peti besar dari kereta kuda. “Lihat! Padahal mereka terlihat serasi." Dia mengomentari. "Kenapa Raja malah tergoda dengan wanita seperti ini?” pikirnya tak mengerti. “Raja Cassian dan Ratu Elira. Pasangan yang seharusnya berakhir bahagia tapi terhalang karena kehadiran manusia satu ini,” ujarnya sambil melihat tubuh yang kini ia tempati. Tubuh Marielle tersentak kaget saat tatapannya bertemu dengan Raja. Wanita itu ingin menarik tirai jendela kamar, tapi tak berani. “Sial, bagaimana ini? Apakah dia melihatku?” Marielle merutuki dirinya sendiri. Dia refleks bersembunyi, duduk di bawah meja agar untuk melindungi tubuhnya dari pandangan Raja. Perlahan ia mengintip dari balik tembok dan hanya memperlihatkan kepalanya. Sial memang tak bisa diprediksi, Raja masih melihat ke arahnya. Bahkan, pria itu mulai berjalan cepat. Tapi, dirinya lebih kaget saat tatapan Ratu juga tertuju padanya. Tatapan tajam menusuk, membuatnya ngeri dan merinding. “Ya Tuhan, dia menuju kesini!” Marielle langsung panik lalu bergegas menuju tempat tidur. Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Seorang pria tinggi besar dan berambut hitam berlari menuju tempat tidur. Sorot mata coklat itu terlihat ketakutan. Sejenak pria itu berdiri memandangi tubuh Marielle, dengan cepat pria itu memeluknya erat. “Marielle, kekasihku… akhirnya kau bangun juga dari tidurmu,” ucap Cassian lega. Raja, sekaligus suami Marielle. Dirinya langsung bergidik, karena seorang laki-laki memeluk tubuhnya begitu saja. Ingin sekali dia menendangnya, tapi sebisa mungkin harus menahan diri. Perlahan tubuhnya meronta sedikit, memberi tanda untuk segera melepaskan pelukan, tapi Raja Cassian semakin memeluknya erat. “Apa badanmu masih sakit? Aku baru saja kembali. Apakah ada yang terluka?” ucap Cassian pelan, pandangannya memeriksa tubuh Marielle mencari luka yang berbekas di tubuh sang Selir. “Saya baik-baik saja Yang Mulia,” jawab Marielle lirih, meski dalam hati ia ingin sekali menjauh dari pria ini. “Syukurlah,” ucapnya lega. Bahunya turun disertai hembusan nafas panjang. Suara langkah kembali terdengar, seorang pria mendadak muncul. Rambut hitam, mata biru, dan ada pin lambang serigala di dada. Wanita itu sangat tau siapa yang berada di depannya sekarang. “Lady, akhirnya anda siuman juga,” ucap pria itu sambil membungkuk sedikit memberi hormat. Mata Marielle membulat, seakan tak percaya siapa yang dia lihat. “Kau…?” Pria itu menegakkan tubuhnya, sorot mata dia selaras dengan sorot mata Marielle. “Apa kabar Lady Marielle? Saya harap anda baik-baik saja,” ujarnya santun. Pria yang membuat Marielle asli dihukum gantung. “Kau, Duke Aldric?!”Suasana di dalam tenda yang semula panas oleh adu mulut antara Marielle dan Aldric, seketika membeku begitu otoritas tertinggi Minerva melangkah masuk. Cassian berjalan dengan anggun namun pasti, zirah emasnya memantulkan cahaya senja yang temaram, menciptakan kesan agung sekaligus mengintimidasi.Aldric membalikkan tubuhnya perlahan, menghadapi sang Raja dengan rahang yang kembali mengeras. Rasa bersalah yang baru saja menghantam dadanya akibat ucapan Marielle seketika tersamarkan oleh topeng keangkuhannya yang dingin."Yang Mulia Raja," ujar Aldric, membungkuk formal dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah. "Fasilitas darurat ini berada di bawah pengawasan wilayah saya. Wajar jika saya memastikan langsung bahwa... rakyat saya tidak kehilangan nyawanya karena kelalaian dokter.""Dia terluka karena melindungiku, Grand Duke. Itu menjadikannya tanggung jawab mutlak kerajaan, bukan sekadar urusan domestik Valerante," balas Cassian dingin. Mata elangnya beralih dari Aldri
"Aku... ingin meluruskan sesuatu. Anggap saja ini permintaan maaf dariku. Atas semua hal yang kulakukan di masa lalu, dan... karena kelalaian pasukanku yang membuat penyusup Eldora bisa melepaskan anak panah di wilayahku tadi."”Hah?!” Marielle terkejut. Ia tak percaya seorang Grand Duke yang ia kenal memiliki sikap bengis bisa minta maaf dan mengakui kesalahannya.Alis Marielle bertaut dalam, menatap Aldric dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang dipenuhi rasa sangsi. Alih-alih merasa tersentuh, bulu kuduk Marielle justru meremang.“Permintaan maaf? Dari seorang Grand Duke Aldric yang dingin dan kejam? Ini benar-benar terasa aneh dan tidak wajar,” batin Marielle. Ia langsung memperlebar jarak diantara mereka."Tunggu sebentar," potong Marielle, menatap Aldric penuh curiga. "Anda baru saja meminta maaf? Anda tidak sedang berencana untuk meracuniku secara diam-diam setelah ini, kan? Atau ini taktik baru untuk mengusirku dari Valerante?"Mendengar respons Marielle
“Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang,” ucap Marielle saat baru terbangun dari tidurnya yang singkat.Matahari perlahan mulai tergelincir ke ufuk barat, menumpahkan warna jingga di atas tanah Valerante. Setelah melewati siang hari yang riuh oleh pemeriksaan medis bertubi-tubi, tenda darurat tempat Marielle dirawat akhirnya terasa sedikit lebih tenang.“Lady Marielle!” Suara isakan familiar yang dipenuhi akan kepanikan memecah kesunyian. Tirai tenda disibak terburu-buru, dan sesosok gadis muda berlari masuk dengan air mata yang sudah membasahi seluruh pipinya. Itu Diana. Tanpa memperdulikan tatapan para asisten dokter, pelayan pribadi itu langsung menghambur dan memeluk leher Marielle dengan sangat hati-hati, takut menyentuh luka di punggung sang nona."Hiks... Lady... saya sangat takut... Saya pikir saya akan kehilangan Anda," tangis Diana pecah, tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan itu.Marielle tersenyum tipis. Tangannya yang
“Sebaiknya Lady Marielle tetap disini. Karena sekarang dia termasuk rakyatku yang berharga, Yang Mulia,” lanjut Aldric.Cassian terdiam. Ia kembali melihat Marielle yang kini punggungnya sudah diperban rapi saat kritis tadi. Akhirnya sang Raja menghela nafas.Tenda medis darurat itu mendadak diselimuti keheningan yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Cassian perlahan membaringkan Marielle dan melepaskan sanggahan tangannya di kepala Marielle setelah memastikan wanita itu berbaring dengan nyaman. Ia bangkit berdiri secara anggun, menatap Aldric dengan tinggi tubuh yang setara."Grand Duke Aldric," suara Cassian kini tidak lagi menyembunyikan otoritas mutlaknya sebagai penguasa tertinggi Minerva. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kau baru saja menolak perintah langsung dari Rajamu?"Aldric tidak gentar. Senyum tipis yang penuh provokasi dingin masih terpatri di wajah tegasnya. "Saya tidak menolak perintah, Yang Mulia. Saya
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews