Alasannya masih sama seperti dulu: urusan pekerjaan, rapat, lembur.Namun sekarang, semua itu tidak ada artinya bagiku.Aku dan sahabatku mulai menyiapkan keberangkatan untuk studiku ke luar negeri.Besok, aku akan benar-benar meninggalkan tempat yang sudah aku tinggali lebih dari dua puluh tahun ini.Tak kusangka, malam terakhirku harus kulewati di rumah sakit.Tengah malam, pintu bangsal dibuka perlahan.Hugo mendekati tempat tidurku, menatap wajahku yang terlelap.Dengan nada penuh rasa bersalah, ia berbisik, “Mora, maafkan aku ….”Ia berdiri cukup lama di sana, seolah menungguku memberinya satu jawaban.Aku sebenarnya tidak berniat ingin berpura-pura tidur. Aku pun membuka mata dan menatapnya tenang.“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah berlalu.”“Ya … semuanya sudah berlalu,” ulangnya.Ia mengira aku sudah memaafkannya. Suaranya terdengar lega, bahkan sedikit bergetar karena senang. “Mora, aku akan menebus semuanya. Aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik.”Ia masih
Read more