Share

Bab 3

Penulis: Wani
Aku tidak melakukan apa pun.

“Apa kamu sudah memikirkan soal aku ingin putus denganmu?”

Kalimat itu seperti memicu sesuatu dalam dirinya. Raut wajahnya seketika menggelap.

“Apa maksud ucapanmu?”

“Aku sudah membelikan hadiah, merendahkan diriku, dan meminta maaf dengan baik padamu,” katanya dengan nada kesal.

“Kamu masih mau membesarkan masalah sepele hari ini, ya?”

Melihatku mengangguk dengan wajah dingin, ekspresinya makin suram.

“Mora, aku sudah cukup memanjakanmu. Jangan mengancamku dengan hal ini. Sekarang kamu sedang mengandung anakku. Sekalipun putus denganku, memangnya masih ada pria lain yang mau menerimamu?”

“Kalau kamu tidak memikirkan dirimu, setidaknya pikirkan anak di perutmu.”

“Kamu tidak mungkin ingin anak itu lahir tanpa seorang ayah, kan?”

Detik berikutnya, layar ponselnya menyala.

Sebuah pesan dengan nama kontak Lena langsung muncul.

[Pak Hugo, aku ada di rumah. Perutku sedikit nggak nyaman. Apa Anda bisa datang sebentar?]

Melihat aku membaca pesan itu, ia tampak gugup, tapi tetap menjelaskan padaku dengan nada tegas, “Dia sudah membantumu mengurus perjamuan. Dia tinggal sendiri dan sedang hamil. Aku harus pergi melihat kondisinya supaya tidak terjadi apa-apa. Kamu tenangkan dirimu di rumah.”

Setelah berkata begitu, dia bergegas pergi.

Entah karena takut aku kembali mengungkit soal putus, atau karena benar-benar mengkhawatirkan kondisi Lena. Yang jelas ia pergi dengan tergesa-gesa, tanpa menoleh sedikit pun.

Aku sama sekali tidak bisa kembali tidur.

Baru saja hendak membereskan barang-barang, ponselku bergetar karena ada pesan masuk.

[Meskipun kamu bisa menikah dengan Pak Hugo, memangnya kenapa?]

[Saat ini yang dia pedulikan adalah anakku. Sekarang aku bisa mengalahkanmu, nanti anakku juga akan seperti itu.]

[Nona Mora, mau taruhan anak siapa yang akan lahir lebih dulu?]

[Menurutmu, Pak Hugo akan lebih menyayangi anak siapa?]

Aku menatap layar ponsel dan menggenggamnya erat.

Aku pun memblokir nomornya. Lalu mengirim tangkapan layar pesan tersebut ke Hugo.

Operasi pengguguran kandunganku dijadwalkan pagi hari dan semuanya berjalan lancar.

Anak yang sudah begitu lama aku nantikan, dari sejak aku mengetahui keberadaannya hingga aku kehilangannya, semuanya hanya berlangsung dalam satu bulan.

Rasanya sangat sakit.

Lebih menyakitkan dari saat aku melihat Lena sengaja mendekati Hugo, bahkan ketika melihat Hugo yang selalu memihaknya.

Aku menopang tubuhku yang masih lemah, membawa hasil pemeriksaan rumah sakit, lalu berjalan keluar.

Tepat saat itu, aku melihat Hugo sedang memapah tubuh Lena keluar dari poli kandungan.

Keduanya tertawa, tampak seperti pasangan suami istri sungguhan.

Lena menyadari keberadaanku. Ia lalu tersenyum ke arahku dengan tatapan seperti seorang pemenang.

Sesaat kemudian, ia berpura-pura panik dan segera melepaskan tangan Hugo.

Dengan suara lemah, ia memanggil namaku, “Kak Mora ….”

Begitu mendengar namaku, Hugo langsung mengangkat kepalanya. Ia pun buru-buru melepaskan tangannya dari Lena.

“Perutnya kemarin tidak nyaman,” jelasnya cepat.

“Lagipula ini karena dia sibuk mengurus pernikahan kita. Aku hanya menemaninya periksa kehamilan. Jangan salah paham.”

Aku melirik wajah Lena yang tampak segar, sama sekali tidak terlihat seperti orang kesakitan.

Lalu aku menatap wajah Hugo yang terlihat begitu cemas padanya.

Entah dia sudah melihat pesan yang kukirim atau belum, sekarang itu sudah tidak penting lagi.

“Pak Hugo,” kataku dingin.

“Tunjangan perusahaan kalian benar-benar bagus. Sampai-sampai atasan harus turun tangan menemani asistennya untuk memeriksa kehamilan.”

Lena buru-buru mendekat dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Kak Lena, jangan salah paham,” ucapnya tergesa.

“Ini semua salahku. Tadi malam perutku memang terasa sakit. Di kantor aku tidak mengenal siapa pun, jadi aku terpaksa meminta Pak Hugo mengantarku untuk periksa kandungan … ah!”

Ia belum menyelesaikan kalimatnya.

Tiba-tiba menjadikan lenganku sebagai tumpuan, lalu tubuhnya mendadak terjatuh ke belakang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 9

    “Mora, aku salah. Maafkan aku, ya?" "Lena sudah keluar dari perusahaan. Kita bisa memulai lagi dari awal. Kamu pernah bilang akan mencintaiku seumur hidup dan nggak akan pernah meninggalkanku.”Aku tak kuasa menahan senyum sinisku.“Kita sudah putus, Pak Hugo. Sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa. Aku harap kamu bisa menjaga batas.”Kata-kataku membuat emosinya hilang kendali.“Aku cuma berniat baik! Kenapa kamu nggak mau memaafkanku?”“Aku tahu caraku mengatasi masalah itu salah, tapi aku benar-benar nggak selingkuh!”Aku hanya menatapnya dengan tenang, sampai akhirnya sorot matanya mulai goyah.“Hugo,” kataku perlahan. “Kadang perselingkuhan nggak harus melibatkan tubuh.”“Saat kamu beralasan sibuk untuk menemani wanita lain, saat itu juga kamu sudah mengkhianati hubungan kita.”“Apa tidak ada kesempatan lagi?”Hugo menatapku lama. Matanya memerah.Padahal, dialah yang mengkhianati hubungan ini dan membuatku merasakan banyak luka.Namun di saat seperti ini, raut wajahnya justr

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 8

    Menjelang dini hari, Hugo pulang ke rumah dengan langkah gontai, pikirannya kosong.Dari kejauhan, ia melihat lampu rumah menyala. Sekilas harapan melintas di matanya.Dengan penuh harap ia membuka pintu. “Mora, sudah kuduga kamu pasti tidak akan meninggalkanku.”Namun detik berikutnya, saat ia melihat sosok Lena di hadapannya, wajahnya langsung mengeras. “Ngapain kamu di rumahku?”Di atas meja, penuh dengan hidangan. Lena tersenyum lembut.“Aku dengar Kak Mora sudah pergi. Pak Hugo pasti sibuk seharian dan belum makan, jadi aku sengaja datang untuk memasakkan makanan kesukaanmu ….”Kalimatnya belum selesai ketika Hugo melangkah mendekat dan mencengkeram lehernya.Nada suaranya rendah dan dingin. “Apa kamu nggak dengar? Aku tanya … ngapain kamu ada di rumahku?”Wajah Hugo yang kejam dan dingin membuat kaki Lena gemetar. Meski begitu, ia tetap memaksakan senyum.“Dulu waktu aku bantuin kamu ambil dokumen, aku jadi tahu kata sandi rumahmu. Aku cuma berniat baik ….”Kalimat itu justru mem

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 7

    Seakan menerima pukulan bertubi-tubi, dia menggenggam erat jantungnya, hingga ia nyaris tak bisa bernapas.Saat ini, ia diliputi rasa hampa dan mati rasa. Ia berulang kali mencoba menghubungiku dengan berbagai cara. Namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tak bisa menemukan jejakku.Hugo benar-benar tidak mengerti, mengapa aku tiba-tiba memilih meninggalkannya.Ia terduduk lemas di lantai seperti anak kecil, memeluk kepalanya sendiri dan menangis tersedu-sedu.Sesaat kemudian, ia teringat sesuatu.Hugo hendak menghubungi asistennya untuk mencari tahu ke mana aku pergi.Namun sebelum panggilan itu tersambung, ponselnya lebih dulu berdering. Nama Lena tertera di layar.Dari seberang, suara Lena terdengar manja. “Pak Hugo, perutku tiba-tiba sakit sekali. Bisa temani aku ke rumah sakit sekarang?”“Pergi!”Hugo langsung memutus panggilan itu tanpa ragu.Ia pun mulai mencari sendiri keberadaanku.Seolah teringat sesuatu, Hugo berdiri dan langsung bergegas menuju rumah sakit tempat ibu sahabat

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 6

    Alasannya masih sama seperti dulu: urusan pekerjaan, rapat, lembur.Namun sekarang, semua itu tidak ada artinya bagiku.Aku dan sahabatku mulai menyiapkan keberangkatan untuk studiku ke luar negeri.Besok, aku akan benar-benar meninggalkan tempat yang sudah aku tinggali lebih dari dua puluh tahun ini.Tak kusangka, malam terakhirku harus kulewati di rumah sakit.Tengah malam, pintu bangsal dibuka perlahan.Hugo mendekati tempat tidurku, menatap wajahku yang terlelap.Dengan nada penuh rasa bersalah, ia berbisik, “Mora, maafkan aku ….”Ia berdiri cukup lama di sana, seolah menungguku memberinya satu jawaban.Aku sebenarnya tidak berniat ingin berpura-pura tidur. Aku pun membuka mata dan menatapnya tenang.“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah berlalu.”“Ya … semuanya sudah berlalu,” ulangnya.Ia mengira aku sudah memaafkannya. Suaranya terdengar lega, bahkan sedikit bergetar karena senang. “Mora, aku akan menebus semuanya. Aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik.”Ia masih

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 5

    Dokter yang menangani operasiku langsung dipanggil untuk tindakan darurat.Begitu melihat kondisiku, wajahnya berubah murka.“Kamu ini laki-laki atau bukan, sih!” bentaknya.“Nona Mora baru saja menjalani operasi pengguguran kandungan. Dia sama sekali tidak boleh melakukan aktivitas berat. Kamu tahu tidak?!”“Kamu memperlakukannya seperti ini, apa kamu sengaja mau menyiksanya?!”Hugo terpaku menatap darah yang bersimbah di lantai.Suara dokter yang memarahinya terdengar samar di telinganya.Ia berdiri kaku di tempat, sama sekali tidak bereaksi.Seolah menerima pukulan yang kuat, kedua tangannya mulai bergetar, wajahnya dipenuhi kepanikan.“Tidak mungkin ….”“Tadi malam anak kami masih baik-baik saja … bagaimana mungkin?”“Nggak mungkin dia setega itu menggugurkannya ….”Setelah lima jam penuh untuk menyelamatkanku ....Saat dokter mendorong ranjangku keluar dari ruang operasi, seseorang berlari menghampiri.Itu Hugo.Wajahnya dipenuhi amarah dan kebingungan. Raut wajahnya kelam dengan

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 4

    Perutnya menghantam lantai dengan keras.Ia langsung meringkuk kesakitan.“Lena!”Ekspresi Hugo sontak berubah drastis. Ia mendorongku kasar lalu buru-buru mengangkat Lena. Dengan wajah penuh amarah, ia membentakku, “Mora, kalau kamu mau melampiaskan amarahmu padaku, aku tidak keberatan! Tapi dia sedang hamil, sama sepertimu! Bagaimana bisa kamu tega mendorongnya?! Gimana kalau terjadi sesuatu padanya?!”Air mata memenuhi mata Lena. Ia justru membelaku dengan suara terisak, “Pak Hugo, tolong jangan salahkan kak Mora. Ini salahku karena tidak berdiri dengan benar. Kalau saja aku sedikit menjauh dari kakak, mungkin ini tidak akan terjadi.”Semakin ia menjelaskan, wajah Hugo justru semakin menggelap.“Mora, minta maaf!”“Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Dia sendiri yang pura-pura jatuh,” kataku.Aku tadi terdorong olehnya hingga oleng dan hampir terjatuh. Perutku pun terasa nyeri luar biasa pasca operasi tadi. Setelah berdiri dengan susah payah, aku melanjutkan dengan suara tertahan, “

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status