Share

Bab 2

Penulis: Wani
Aku melihat kecemasan di matanya, lalu mengulurkan tangan ke arahnya.

“Tidak perlu mengantar cincin lagi. Antar aku pulang saja.”

Di perjalanan, setelah Lili mengetahui semuanya, ia sangat marah dan ingin kembali menghancurkan pesta pernikahan Hugo.

Namun aku menghentikannya.

Dalam hubungan 7 tahun ini, setidaknya aku ingin mengakhirinya dengan bermartabat.

Lili merasa kasihan padaku. Amarahnya justru semakin menjadi-jadi.

“Waktu Hugo melamarmu, dia bilang akan memberimu yang terbaik. Mencintaimu seumur hidup, menjaga dan melindungimu!”

“Sekarang dia malah bersama wanita lain menindasmu. Orang seperti dia pasti bakal ada balasannya!”

Dadaku seperti ditusuk jarum. Wajahku tak mampu tahan tekanan dan mulai memucat, aku hanya bisa terdiam.

Aku seorang yatim piatu. Aku sudah bersamanya selama tujuh tahun sejak aku berusia delapan belas tahun.

Saat itu ia berkata, ada banyak orang yang lebih kaya dan berkuasa darinya. Tapi selama dia masih hidup, tak akan ada yang bisa menyakitiku.

Saat aku berusia dua puluh dua tahun, setelah lulus kuliah, dia berkata perusahaannya belum stabil. Dia belum bisa memberikanku sebuah pernikahan. Dia memintaku untuk menunggunya, berjanji akan secepat mungkin meraih kesuksesan dan menikahiku.

Saat berusia dua puluh lima tahun, saat ia sudah berhasil, perusahaannya hampir melantai, dia berlutut di hadapanku dan melamarku. Saat itu wajahnya penuh kegembiraan.

“Mora, terima kasih sudah menemaniku melewati masa-masa sulit,” katanya.

“Maukah kamu menikah denganku? Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu dan anak kita menderita.”

Saat dia melamarku, aku terharu sampai meneteskan air mata.

Hari ini aku mengenakan gaun pengantin dan mengandung anaknya. Tapi aku justru meninggalkan tempat itu di tengah cuaca dingin.

Kenangan manis masa lalu bagaikan racun yang menusuk jantung dan menyiksaku.

Anehnya, pikiranku justru sangat tenang. Aku tahu, aku dan dia tidak mungkin kembali seperti dulu.

Prosedur pengguguran dijadwalkan esok hari. Sesampainya di rumah, aku tidak melakukan apa pun. Hanya mengucapkan selamat tinggal pada anak di perutku, lalu memaksa diri untuk tidur.

Saat tertidur, aku merasakan seseorang memegang pergelangan kakiku yang sedikit membengkak, memijatnya dengan gerakan yang terampil dan lembut.

Saat membuka mata, aku melihat Hugo yang mabuk berat berlutut di ujung ranjang sambil memegang minyak pijat, seperti biasanya, dan dengan lembut memijat kakiku.

Begitu menyadari aku terbangun, wajahnya langsung dipenuhi rasa bersalah. Ia mendekat dan membungkuk, lalu berbisik di telingaku, “Maaf, sayang.”

“Pernikahan hari ini semua salahku. Aku ceroboh sampai membiarkan masalah sebesar ini terjadi.”

“Agar nggak mempermalukan diri di depan rekan bisnisku, aku meminta Lena menemaniku memainkan sandiwara itu. Aku tahu ini keterlaluan … maaf.”

“Aku tahu kamu sudah menyiapkan banyak hal untuk pernikahan ini. Tapi jangan sedih. Nanti suamimu akan mengadakan pernikahan yang lebih mewah dari ini untukmu, ya?”

Ekspresiku tetap dingin. Aku tidak mengatakan apa-apa.

Dia tiba-tiba terlihat panik. “Kamu masih marah karena Lena?”

“Aku benar-benar tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Dia hamil di luar nikah dan tidak punya siapa pun. Makanya aku menemaninya melakukan pemeriksaan.”

“Mora, sekarang kamu adalah seorang ibu. Jangan emosi berlebihan, ya. Bisa melukai bayi yang ada di perutmu, mengerti?”

Melihat kekhawatiran di sorot matanya, aku tersenyum tipis. “Ternyata, kamu masih ingat kalau kita punya anak.”

“Apa maksudmu? Tentu saja aku ingat,” katanya cepat.

Ia lalu mengeluarkan sebuah bros bermotif giok hijau dan memberikannya padaku.

“Lihat, bros ini aku pilih khusus untukmu. Aku memilihnya setelah pernikahan kita tadi.”

“Bentuknya kacang, dan di dalamnya ada giok kecil berwarna hijau. Seperti kita dan anak kita yang belum lahir. Cantik, kan?”

“Mora, kamu dan anak kita adalah orang yang sangat berharga bagiku di dunia ini. Nggak ada yang lain.”

Ia membujukku dengan kata-kata manis.

Memang dia terlihat sangat peduli pada anak ini. Meskipun tidak menemaniku saat pemeriksaan, tapi hampir semua hal dia sendiri yang mengurusnya. Bahkan dia selalu memantau perkembangan anak di dalam perutku.

Aku tahu dia peduli, tapi aku lebih bisa merasakan kepeduliannya pada Lena.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 9

    “Mora, aku salah. Maafkan aku, ya?" "Lena sudah keluar dari perusahaan. Kita bisa memulai lagi dari awal. Kamu pernah bilang akan mencintaiku seumur hidup dan nggak akan pernah meninggalkanku.”Aku tak kuasa menahan senyum sinisku.“Kita sudah putus, Pak Hugo. Sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa. Aku harap kamu bisa menjaga batas.”Kata-kataku membuat emosinya hilang kendali.“Aku cuma berniat baik! Kenapa kamu nggak mau memaafkanku?”“Aku tahu caraku mengatasi masalah itu salah, tapi aku benar-benar nggak selingkuh!”Aku hanya menatapnya dengan tenang, sampai akhirnya sorot matanya mulai goyah.“Hugo,” kataku perlahan. “Kadang perselingkuhan nggak harus melibatkan tubuh.”“Saat kamu beralasan sibuk untuk menemani wanita lain, saat itu juga kamu sudah mengkhianati hubungan kita.”“Apa tidak ada kesempatan lagi?”Hugo menatapku lama. Matanya memerah.Padahal, dialah yang mengkhianati hubungan ini dan membuatku merasakan banyak luka.Namun di saat seperti ini, raut wajahnya justr

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 8

    Menjelang dini hari, Hugo pulang ke rumah dengan langkah gontai, pikirannya kosong.Dari kejauhan, ia melihat lampu rumah menyala. Sekilas harapan melintas di matanya.Dengan penuh harap ia membuka pintu. “Mora, sudah kuduga kamu pasti tidak akan meninggalkanku.”Namun detik berikutnya, saat ia melihat sosok Lena di hadapannya, wajahnya langsung mengeras. “Ngapain kamu di rumahku?”Di atas meja, penuh dengan hidangan. Lena tersenyum lembut.“Aku dengar Kak Mora sudah pergi. Pak Hugo pasti sibuk seharian dan belum makan, jadi aku sengaja datang untuk memasakkan makanan kesukaanmu ….”Kalimatnya belum selesai ketika Hugo melangkah mendekat dan mencengkeram lehernya.Nada suaranya rendah dan dingin. “Apa kamu nggak dengar? Aku tanya … ngapain kamu ada di rumahku?”Wajah Hugo yang kejam dan dingin membuat kaki Lena gemetar. Meski begitu, ia tetap memaksakan senyum.“Dulu waktu aku bantuin kamu ambil dokumen, aku jadi tahu kata sandi rumahmu. Aku cuma berniat baik ….”Kalimat itu justru mem

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 7

    Seakan menerima pukulan bertubi-tubi, dia menggenggam erat jantungnya, hingga ia nyaris tak bisa bernapas.Saat ini, ia diliputi rasa hampa dan mati rasa. Ia berulang kali mencoba menghubungiku dengan berbagai cara. Namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tak bisa menemukan jejakku.Hugo benar-benar tidak mengerti, mengapa aku tiba-tiba memilih meninggalkannya.Ia terduduk lemas di lantai seperti anak kecil, memeluk kepalanya sendiri dan menangis tersedu-sedu.Sesaat kemudian, ia teringat sesuatu.Hugo hendak menghubungi asistennya untuk mencari tahu ke mana aku pergi.Namun sebelum panggilan itu tersambung, ponselnya lebih dulu berdering. Nama Lena tertera di layar.Dari seberang, suara Lena terdengar manja. “Pak Hugo, perutku tiba-tiba sakit sekali. Bisa temani aku ke rumah sakit sekarang?”“Pergi!”Hugo langsung memutus panggilan itu tanpa ragu.Ia pun mulai mencari sendiri keberadaanku.Seolah teringat sesuatu, Hugo berdiri dan langsung bergegas menuju rumah sakit tempat ibu sahabat

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 6

    Alasannya masih sama seperti dulu: urusan pekerjaan, rapat, lembur.Namun sekarang, semua itu tidak ada artinya bagiku.Aku dan sahabatku mulai menyiapkan keberangkatan untuk studiku ke luar negeri.Besok, aku akan benar-benar meninggalkan tempat yang sudah aku tinggali lebih dari dua puluh tahun ini.Tak kusangka, malam terakhirku harus kulewati di rumah sakit.Tengah malam, pintu bangsal dibuka perlahan.Hugo mendekati tempat tidurku, menatap wajahku yang terlelap.Dengan nada penuh rasa bersalah, ia berbisik, “Mora, maafkan aku ….”Ia berdiri cukup lama di sana, seolah menungguku memberinya satu jawaban.Aku sebenarnya tidak berniat ingin berpura-pura tidur. Aku pun membuka mata dan menatapnya tenang.“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah berlalu.”“Ya … semuanya sudah berlalu,” ulangnya.Ia mengira aku sudah memaafkannya. Suaranya terdengar lega, bahkan sedikit bergetar karena senang. “Mora, aku akan menebus semuanya. Aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik.”Ia masih

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 5

    Dokter yang menangani operasiku langsung dipanggil untuk tindakan darurat.Begitu melihat kondisiku, wajahnya berubah murka.“Kamu ini laki-laki atau bukan, sih!” bentaknya.“Nona Mora baru saja menjalani operasi pengguguran kandungan. Dia sama sekali tidak boleh melakukan aktivitas berat. Kamu tahu tidak?!”“Kamu memperlakukannya seperti ini, apa kamu sengaja mau menyiksanya?!”Hugo terpaku menatap darah yang bersimbah di lantai.Suara dokter yang memarahinya terdengar samar di telinganya.Ia berdiri kaku di tempat, sama sekali tidak bereaksi.Seolah menerima pukulan yang kuat, kedua tangannya mulai bergetar, wajahnya dipenuhi kepanikan.“Tidak mungkin ….”“Tadi malam anak kami masih baik-baik saja … bagaimana mungkin?”“Nggak mungkin dia setega itu menggugurkannya ….”Setelah lima jam penuh untuk menyelamatkanku ....Saat dokter mendorong ranjangku keluar dari ruang operasi, seseorang berlari menghampiri.Itu Hugo.Wajahnya dipenuhi amarah dan kebingungan. Raut wajahnya kelam dengan

  • Di Hari Pernikahan, Asisten Tunanganku Menggantikanku   Bab 4

    Perutnya menghantam lantai dengan keras.Ia langsung meringkuk kesakitan.“Lena!”Ekspresi Hugo sontak berubah drastis. Ia mendorongku kasar lalu buru-buru mengangkat Lena. Dengan wajah penuh amarah, ia membentakku, “Mora, kalau kamu mau melampiaskan amarahmu padaku, aku tidak keberatan! Tapi dia sedang hamil, sama sepertimu! Bagaimana bisa kamu tega mendorongnya?! Gimana kalau terjadi sesuatu padanya?!”Air mata memenuhi mata Lena. Ia justru membelaku dengan suara terisak, “Pak Hugo, tolong jangan salahkan kak Mora. Ini salahku karena tidak berdiri dengan benar. Kalau saja aku sedikit menjauh dari kakak, mungkin ini tidak akan terjadi.”Semakin ia menjelaskan, wajah Hugo justru semakin menggelap.“Mora, minta maaf!”“Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Dia sendiri yang pura-pura jatuh,” kataku.Aku tadi terdorong olehnya hingga oleng dan hampir terjatuh. Perutku pun terasa nyeri luar biasa pasca operasi tadi. Setelah berdiri dengan susah payah, aku melanjutkan dengan suara tertahan, “

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status