LOGINDi layar besar aula pernikahan, foto prewed-ku menghilang. Yang muncul justru hasil pemeriksaan kehamilan milik asisten tunanganku. Pada bagian nama ayah, tertulis jelas nama pria yang seharusnya menjadi suamiku. Asisten itu tampak panik dan terisak sambil meminta maaf kepadaku. Sementara pria itu menjelaskan dengan wajah tenang, seolah tak terjadi apa-apa, “Dia hamil di luar nikah, hidupnya sangat menyedihkan. Jadi aku menemaninya saat periksa kehamilan dan menulis namaku. Ke depannya, aku akan tetap menjadi ayah asuh anak itu.” Tapi sebenarnya di hari yang sama, aku juga melakukan pemeriksaan kehamilan pertamaku. Para tamu mengira aku akan cemburu dan mengamuk. Namun aku hanya melepas kerudung pengantinku, lalu membuat janji pada dokter untuk menggugurkan kandunganku. “Wanita hamil tanpa suami memang menyedihkan,” ucapku datar. “Pernikahan ini memang seharusnya diberikan untuknya.” Aku lalu mengangkat gelas, tersenyum tipis, dan memberi selamat kepada mereka. “Selamat menempuh hidup baru. Menikah karena sudah terlanjur hamil.”
View More“Mora, aku salah. Maafkan aku, ya?" "Lena sudah keluar dari perusahaan. Kita bisa memulai lagi dari awal. Kamu pernah bilang akan mencintaiku seumur hidup dan nggak akan pernah meninggalkanku.”Aku tak kuasa menahan senyum sinisku.“Kita sudah putus, Pak Hugo. Sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa. Aku harap kamu bisa menjaga batas.”Kata-kataku membuat emosinya hilang kendali.“Aku cuma berniat baik! Kenapa kamu nggak mau memaafkanku?”“Aku tahu caraku mengatasi masalah itu salah, tapi aku benar-benar nggak selingkuh!”Aku hanya menatapnya dengan tenang, sampai akhirnya sorot matanya mulai goyah.“Hugo,” kataku perlahan. “Kadang perselingkuhan nggak harus melibatkan tubuh.”“Saat kamu beralasan sibuk untuk menemani wanita lain, saat itu juga kamu sudah mengkhianati hubungan kita.”“Apa tidak ada kesempatan lagi?”Hugo menatapku lama. Matanya memerah.Padahal, dialah yang mengkhianati hubungan ini dan membuatku merasakan banyak luka.Namun di saat seperti ini, raut wajahnya justr
Menjelang dini hari, Hugo pulang ke rumah dengan langkah gontai, pikirannya kosong.Dari kejauhan, ia melihat lampu rumah menyala. Sekilas harapan melintas di matanya.Dengan penuh harap ia membuka pintu. “Mora, sudah kuduga kamu pasti tidak akan meninggalkanku.”Namun detik berikutnya, saat ia melihat sosok Lena di hadapannya, wajahnya langsung mengeras. “Ngapain kamu di rumahku?”Di atas meja, penuh dengan hidangan. Lena tersenyum lembut.“Aku dengar Kak Mora sudah pergi. Pak Hugo pasti sibuk seharian dan belum makan, jadi aku sengaja datang untuk memasakkan makanan kesukaanmu ….”Kalimatnya belum selesai ketika Hugo melangkah mendekat dan mencengkeram lehernya.Nada suaranya rendah dan dingin. “Apa kamu nggak dengar? Aku tanya … ngapain kamu ada di rumahku?”Wajah Hugo yang kejam dan dingin membuat kaki Lena gemetar. Meski begitu, ia tetap memaksakan senyum.“Dulu waktu aku bantuin kamu ambil dokumen, aku jadi tahu kata sandi rumahmu. Aku cuma berniat baik ….”Kalimat itu justru mem
Seakan menerima pukulan bertubi-tubi, dia menggenggam erat jantungnya, hingga ia nyaris tak bisa bernapas.Saat ini, ia diliputi rasa hampa dan mati rasa. Ia berulang kali mencoba menghubungiku dengan berbagai cara. Namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tak bisa menemukan jejakku.Hugo benar-benar tidak mengerti, mengapa aku tiba-tiba memilih meninggalkannya.Ia terduduk lemas di lantai seperti anak kecil, memeluk kepalanya sendiri dan menangis tersedu-sedu.Sesaat kemudian, ia teringat sesuatu.Hugo hendak menghubungi asistennya untuk mencari tahu ke mana aku pergi.Namun sebelum panggilan itu tersambung, ponselnya lebih dulu berdering. Nama Lena tertera di layar.Dari seberang, suara Lena terdengar manja. “Pak Hugo, perutku tiba-tiba sakit sekali. Bisa temani aku ke rumah sakit sekarang?”“Pergi!”Hugo langsung memutus panggilan itu tanpa ragu.Ia pun mulai mencari sendiri keberadaanku.Seolah teringat sesuatu, Hugo berdiri dan langsung bergegas menuju rumah sakit tempat ibu sahabat
Alasannya masih sama seperti dulu: urusan pekerjaan, rapat, lembur.Namun sekarang, semua itu tidak ada artinya bagiku.Aku dan sahabatku mulai menyiapkan keberangkatan untuk studiku ke luar negeri.Besok, aku akan benar-benar meninggalkan tempat yang sudah aku tinggali lebih dari dua puluh tahun ini.Tak kusangka, malam terakhirku harus kulewati di rumah sakit.Tengah malam, pintu bangsal dibuka perlahan.Hugo mendekati tempat tidurku, menatap wajahku yang terlelap.Dengan nada penuh rasa bersalah, ia berbisik, “Mora, maafkan aku ….”Ia berdiri cukup lama di sana, seolah menungguku memberinya satu jawaban.Aku sebenarnya tidak berniat ingin berpura-pura tidur. Aku pun membuka mata dan menatapnya tenang.“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya sudah berlalu.”“Ya … semuanya sudah berlalu,” ulangnya.Ia mengira aku sudah memaafkannya. Suaranya terdengar lega, bahkan sedikit bergetar karena senang. “Mora, aku akan menebus semuanya. Aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik.”Ia masih












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.