Cahaya pagi merayap perlahan melalui celah tirai. Rania menggeliat kecil di atas ranjang empuk. Untuk sesaat ia lupa di mana dirinya berada, sampai aroma masakan yang hangat menyentuh inderanya seperti aroma mentega, roti panggang, dan kopi.Ia membuka mata.Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang nyaman.Rania duduk perlahan, rambut panjangnya tergerai. Ia melirik jam di meja kecil, pukul enam pagi.“Aneh…” gumamnya.Biasanya, pagi selalu diisi oleh suara langkah pelayan. Tapi kali ini, yang terdengar justru bunyi panci kecil dan denting peralatan dapur.Rania bangkit, berjalan pelan keluar kamar.Dan langkahnya terhenti.Di dapur terbuka, Revano berdiri mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung. Rambutnya sedikit acak, wajahnya fokus mengaduk sesuatu di wajan. Uap tipis mengepul, membuat pemandangan itu terasa… domestik dan hangat.Rania terpaku.Revano… memasak?Ia melangkah lebih dekat.“Revano?”Pria itu menoleh.Begitu melihat Rania berdiri di sana denga
Dernière mise à jour : 2026-01-19 Read More