Pagi di kota itu datang tanpa kehangatan. Langit abu-abu menggantung rendah di atas gedung-gedung milik Revano. Dari lantai tertinggi kantor pusatnya, ia berdiri menghadap jendela kaca besar, tangan di saku jas, mata tajam menatap lalu lintas yang bergerak seperti tak tahu bahwa sebuah perang sunyi sedang dimulai.Di belakangnya, Bima berdiri sambil membawa map tebal.“Semua sudah siap, Tuan.”Revano tak menoleh.“Mulai.”Satu kata itu menjadi aba-aba kehancuran Raline.Ruang rapat utama penuh dengan orang-orang berjas gelap: pengacara, direktur hukum, tim keuangan, dan perwakilan imigrasi yang sudah lama bekerja sama dengan Revano.Rania duduk di sisi ruangan, lebih banyak diam. Ia masih trauma, tapi kali ini tatapannya bukan takut tetapi melainkan ingin tahu. Ia ingin melihat bagaimana suaminya melindunginya.Revano berdiri di ujung meja.“Raline Prameswari,” ucapnya dingin, “telah terlibat dalam konspirasi penculikan, pendanaan kriminal, penyalahgunaan aset perusahaan, dan pemalsua
Last Updated : 2026-01-23 Read more