Lampu kamar Revano redup, hanya menyisakan cahaya keemasan dari lampu meja di sudut ruangan. Tirai tertutup rapat, memisahkan mereka dari hiruk-pikuk rumah besar itu.Rania sudah berganti pakaian yang lebih pantas, sebuah gaun tidur sederhana berlengan panjang. Rambutnya terurai, masih sedikit lembap.Revano menunggunya di sisi ranjang.Tidak ada suara selain detak jam dinding.Rania duduk perlahan di tepi ranjang, menjaga jarak tipis. Udara di antara mereka terasa hangat, berbeda dari malam-malam sebelumnya.Revano memperhatikannya lama.“Kau gugup,” katanya pelan.Rania tersenyum tipis.“Sedikit.”Revano menggerakkan kursi rodanya mendekat.“Tidak perlu takut.”Ia mengangkat tangannya perlahan, seakan meminta izin. Jarinya menyentuh punggung tangan Rania lebih dulu seolah ringan, hangat, penuh kehati-hatian.Sentuhan itu membuat bahu Rania mengendur.Revano lalu menatap wajahnya.“Aku ingin lebih dekat… kalau kau mengizinkan.”Rania tidak menjawab, tapi tidak juga menjauh.Itu sudah
Dernière mise à jour : 2026-01-17 Read More