Pagi itu, Jakarta nggak cuma gerah, tapi juga kerasa tegang. Di aula besar SMA Cakrawala, kursi-kursi baris depan sudah penuh sama bapak-bapak berjas mahal dan ibu-ibu dengan tas bermerek yang harganya bisa buat beli rumah subsidi. Donatur yayasan, para penguasa di balik layar sekolah ini, sudah siap buat melihat "presentasi" formal yang biasanya membosankan.Tapi, di panggung aula sekolah itu, cuma ada satu mikrofon yang berdiri sepi.Sementara itu, dua puluh kilometer dari sana, di aula panti asuhan "Gema Hati", suasananya kayak mau perang. Kabel-kabel melintang di lantai, tiga buah kamera profesional milik teman Galang yang anak *broadcast* sudah terpasang di sudut-sudut strategis. Clarissa, yang sekarang sudah resmi jadi "manajer pemberontak", sibuk dengan tabletnya."Satu menit lagi *live streaming* naik ke YouTube sekolah dan akun pribadi Jagad!" teriak Clarissa. Rambutnya diikat *ponytail* kenceng, tangannya cekatan ngatur *mixer* audio. "Bagas, cek
Read more