Pagi itu, Aula Kesenian Kota Jakarta terasa seperti medan perang bagi Jihan Selaras. Bau pengharum ruangan beraroma melati yang terlalu menyengat berbaur dengan hawa dingin dari AC yang dipasang maksimal. Di lobi, puluhan peserta dengan setelan jas dan gaun mewah tampak mondar-mandir, ada yang komat-kamit menghafal partitur, ada pula yang jarinya menari-nari di udara.Jihan duduk di salah satu kursi sudut, meremas jemarinya yang terasa sedingin es. Gaun berwarna biru dongker yang ia kenakan terasa sedikit terlalu sesak di bagian dada, atau mungkin itu hanya perasaan sesak karena beban taruhan yang ia bawa."Han, minum dulu. Lo pucat banget, sumpah," Manda menyodorkan botol air mineral. Sahabatnya itu sudah dandan rapi, meskipun hari ini tugasnya hanya sebagai tim hore dan pemegang tas Jihan."Gue nggak apa-apa, Nda. Cuma... deg-degan aja," bohong Jihan."Deg-degan karena lomba, atau karena si 'Tuan Nol Koma Dua' belum kelihatan batang hidungnya?" Manda menggoda sambil menyenggol bahu
최신 업데이트 : 2026-01-07 더 보기