LOGINBagi Jihan Selaras, dunia adalah deretan nada yang harus harmoni. Namun, harmoninya selalu rusak oleh satu nama: Jagad Rayyan. Cowok ambisius, Ketua OSIS, kapten basket, dan si peringkat pertama yang hanya menyisakan angka 0,2 di atas nilai Jihan. Bagi Jihan, Jagad adalah rival yang harus dikalahkan. Bagi Jagad Rayyan, menjadi nomor satu bukanlah pilihan, melainkan tuntutan. Di balik ban lengan OSIS dan sorak-sorai di lapangan basket, Jagad hidup dalam ruang hampa yang didikte oleh ekspektasi ayahnya. Baginya, Jihan bukan sekadar rival, tapi satu-satunya orang yang berani menatap matanya tanpa rasa takut. Saat Jagad memangkas anggaran ruang musik demi lapangan futsal, genderang perang ditabuh. Jihan tidak tinggal diam. Namun, di antara debat panas di ruang OSIS dan latihan hingga larut malam di sekolah, mereka menemukan retakan di balik topeng masing-masing. Jagad yang kesepian di puncak, dan Jihan yang berjuang demi harga diri. Di antara denting piano dan pantulan bola basket, apakah dua dunia yang saling bertabrakan ini bisa menciptakan satu harmoni yang sama? Atau mereka selamanya akan menjadi garis paralel yang bersaing tanpa pernah bisa bersatu?
View MoreSuara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai kayu lapangan indoor SMA Cakrawala biasanya menjadi musik latar paling favorit bagi penghuni sekolah. Tapi bagi Jihan Selaras, suara itu setara dengan bunyi kuku yang menggaruk papan tulis.
Berisik. Dan sangat... Jagad Rayyan. Jihan melirik jam tangannya, lalu kembali menatap papan mading di depan lobi. Kerumunan siswa baru saja bubar, menyisakan dirinya yang berdiri kaku menatap selembar kertas hasil Ujian Tengah Semester (UTS) Fisika yang baru saja ditempel. 1. Jagad Rayyan – 98,2 2. Jihan Selaras – 98,0 "Nol koma dua." Jihan mendesis. Jari-jarinya yang ramping—yang biasanya menari lincah di atas tuts piano—kini mengepal kuat di samping rok abu-abunya. Cuma gara-gara dia melewatkan satu satuan di jawaban nomor terakhir, cowok tukang pamer itu kembali bertengger di atas namanya. "Nggak usah diliatin terus. Kertasnya nggak bakal berubah jadi seratus kalau cuma lo pelototin, Han." Suara bariton yang berat dan sedikit napas yang terengah-engah itu muncul dari belakang telinganya. Jihan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma keringat bercampur parfum citrus mahal itu sudah jadi polusi udara langganan bagi indra penciumannya. Jagad Rayyan berdiri di sana. Masih memakai jersey basket yang basah kuyup, memegang bola di pinggang kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menyeka keringat di dahi dengan ban lengan bertuliskan 'Ketua OSIS'. "Dua poin, Gad. Cuma dua poin," ucap Jihan tanpa menoleh, suaranya sedingin es. Jagad terkekeh, tipe kekehan sombong yang selalu sukses memancing emosi Jihan. "Dalam basket, dua poin itu penentu kemenangan di detik terakhir. Dan dalam hidup, dua poin itu pembeda antara yang nomor satu sama yang... ya, lo tahu sendiri, peringkat dua." Jihan akhirnya berbalik, menatap mata tajam Jagad yang selalu kelihatan tenang sekaligus menyebalkan. "Jangan senang dulu. Semester depan gue pastiin lo yang harus dongak buat liat nama gue di puncak." Jagad maju satu langkah, membuat Jihan refleks mundur hingga punggungnya menempel di mading. Jagad menunduk sedikit, menyamakan tingginya dengan Jihan. "Gue nggak pernah liat ke bawah, Jihan Selaras," bisik Jagad pelan, senyum miringnya muncul. "Tapi kalau lo capek jadi nomor dua terus, ruang OSIS selalu terbuka kalau lo butuh tutor. Gratis, khusus buat rival abadi gue." "Najis," semprot Jihan, mendorong bahu Jagad dengan kasar untuk memberi jalan. "Eh, satu lagi!" seru Jagad saat Jihan mulai melangkah pergi. "Anak-anak musik jangan latihan lewat jam lima sore. Gue butuh ketenangan buat rapat OSIS di ruang sebelah. Suara gitar lo... terlalu berisik." Jihan berhenti, menoleh sedikit dengan tatapan membunuh. "Dan gue butuh lo berhenti dribble bola saat gue lagi main piano. Suara bola lo itu nggak punya ritme. Berantakan." Jagad hanya mengangkat bahu sambil melempar bolanya ke udara dan menangkapnya lagi dengan satu tangan. Ia memperhatikan punggung Jihan yang menjauh menuju ruang musik. Senyum miringnya perlahan luntur, berganti dengan tatapan yang sulit diartikan. Di saku celana basketnya, ponsel Jagad bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Ayahnya: “Papa lihat nilai Fisika kamu cuma 98,2. Kenapa bisa salah satu nomor? Jangan sampai peringkat kamu turun. Papa nggak mau dengar alasan.” Jagad mengembuskan napas panjang, meremas ponselnya kuat-kuat. Ia menoleh kembali ke mading, ke arah nama Jihan Selaras yang berada tepat di bawah namanya. "Lo beruntung, Han," gumamnya lirih. "Lo nomor dua karena kesalahan teknis. Gue nomor satu karena... gue nggak punya pilihan untuk jadi yang kedua."Kapal *The Melodic Wind* meluncur membelah kegelapan ruang angkasa menuju bola raksasa pijar yang menjadi sumber segala kehidupan di Tata Surya. Matahari. Dari kejauhan, ia tampak seperti kelereng emas yang tenang, namun semakin dekat mereka terbang, kenyataan mengerikan mulai terlihat. Permukaan Matahari yang biasanya bergejolak dalam harmoni nuklir kini tampak seperti luka terbuka. Bintik-bintang hitam—virus keheningan Malakor—menyebar seperti kanker di atas fotosfer, menyedot energi panas dan mengubahnya menjadi kekosongan yang dingin.Di dalam kabin, suhu mulai merangkak naik meski sistem pendingin Lyran bekerja maksimal. Udara terasa berat dan berbau seperti logam yang terbakar."Jihan, sistem perisai kita berada di kapasitas 85%," teriak Kael, keringat bercucuran dari balik kacamata datanya. "Begitu kita masuk ke korona, kita nggak bakal punya jalan pulang lewat cara konvensional. Kita bakal bergantung sepenuhnya pada aliran angin surya."Jihan berdi
Dermaga Aethelgard bergetar bukan karena mesin, melainkan karena frekuensi purba yang dilepaskan saat para teknisi Lyran memasangkan "Sayap Suara" pada lambung *The Melodic Wind*. Kapal layar kayu jati yang sebelumnya tampak antik itu kini bertransformasi. Di sisi kanan dan kirinya, terbentang layar transparan yang terbuat dari jalinan foton musik, berpendar dengan warna aurora yang terus berubah mengikuti suasana hati para penumpangnya.Jihan berdiri di ruang kemudi, menatap instrumen baru yang dipasang oleh *The First Harmonizer*. Alih-alih tuas besi, kini ada serangkaian dawai cahaya yang melayang di udara. "Kael, lo yakin kita bisa kendaliin benda ini?" tanya Jihan, suaranya sedikit gemetar saat melihat angka-angka spektrum frekuensi yang melonjak di layar hologram Clarissa.Kael menyeka keringat di dahinya, kacamata datanya memantulkan ribuan baris kode Lyran. "Secara teori, Jihan, kapal ini nggak lagi bergerak lewat ruang, tapi lewat 'Lipatan Nada'. Kita ngga
Pintu palka *The Melodic Wind* terbuka dengan desisan uap aromatik yang berbau seperti campuran kayu cendana dan ozon. Saat kaki Jihan menyentuh lantai dermaga Aethelgard, ia tidak merasakan dinginnya logam, melainkan kehangatan material organik yang terasa hidup di bawah sol sepatunya. Stasiun ini bukan sekadar pangkalan luar angkasa; ini adalah sebuah mahakarya arsitektur akustik yang dibangun dari kristal hidup yang tumbuh mengikuti harmoni bintang raksasa di pusatnya.Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk dari berbagai penjuru galaksi berlalu-lalang. Ada yang berbentuk seperti ubur-ubur cahaya yang melayang, ada pula yang menyerupai raksasa batu dengan banyak tangan. Namun, mayoritas penduduk di sini adalah ras *Lyrans*—makhluk tinggi ramping dengan kulit berwarna perak kebiruan dan jari-jari panjang yang berjumlah tujuh di setiap tangan. Mereka tidak berbicara dengan kata-kata; setiap kali mereka membuka mulut, yang terdengar adalah rangkaian nada *pentatonis* yang mer
Kehampaan ruang angkasa ternyata tidak sesunyi yang digambarkan buku-buku pelajaran di SMA Cakrawala. Di atas geladak *The Melodic Wind*, kapal layar dimensi yang kini menjadi rumah baru bagi Tim Resonansi, suara adalah napas. Kapal ini tidak digerakkan oleh pembakaran kimia, melainkan oleh tekanan radiasi suara yang ditangkap oleh layar-layar sutra peraknya. Layar itu berkibar bukan karena angin, tapi karena gelombang frekuensi sisa dari ledakan bintang di kejauhan.Jihan berdiri di haluan, jemarinya meraba ukiran kayu jati kuno yang terasa hangat. Di bawah telapak kakinya, ia bisa merasakan getaran mesin inti kapal—sebuah kotak kayu berisi pasir hitam dari pusat galaksi yang terus bergeser menciptakan nada statis yang menenangkan."Masih belum percaya kita beneran ninggalin Bumi?" suara Jagad memecah lamunan Jihan.Jagad datang sambil memantulkan bola basket kristalnya. Di gravitasi buatan kapal ini, bola itu memantul dengan irama yang sedikit lebih lamb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.