Jagad dan Selaras

Jagad dan Selaras

last updateLast Updated : 2026-01-09
By:  SfraufUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
11Chapters
12views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bagi Jihan Selaras, dunia adalah deretan nada yang harus harmoni. Namun, harmoninya selalu rusak oleh satu nama: Jagad Rayyan. Cowok ambisius, Ketua OSIS, kapten basket, dan si peringkat pertama yang hanya menyisakan angka 0,2 di atas nilai Jihan. Bagi Jihan, Jagad adalah rival yang harus dikalahkan. Bagi Jagad Rayyan, menjadi nomor satu bukanlah pilihan, melainkan tuntutan. Di balik ban lengan OSIS dan sorak-sorai di lapangan basket, Jagad hidup dalam ruang hampa yang didikte oleh ekspektasi ayahnya. Baginya, Jihan bukan sekadar rival, tapi satu-satunya orang yang berani menatap matanya tanpa rasa takut. Saat Jagad memangkas anggaran ruang musik demi lapangan futsal, genderang perang ditabuh. Jihan tidak tinggal diam. Namun, di antara debat panas di ruang OSIS dan latihan hingga larut malam di sekolah, mereka menemukan retakan di balik topeng masing-masing. Jagad yang kesepian di puncak, dan Jihan yang berjuang demi harga diri. Di antara denting piano dan pantulan bola basket, apakah dua dunia yang saling bertabrakan ini bisa menciptakan satu harmoni yang sama? Atau mereka selamanya akan menjadi garis paralel yang bersaing tanpa pernah bisa bersatu?

View More

Chapter 1

Bab 1: Nol Koma Dua

Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai kayu lapangan indoor SMA Cakrawala biasanya menjadi musik latar paling favorit bagi penghuni sekolah. Tapi bagi Jihan Selaras, suara itu setara dengan bunyi kuku yang menggaruk papan tulis.

Berisik. Dan sangat... Jagad Rayyan.

Jihan melirik jam tangannya, lalu kembali menatap papan mading di depan lobi. Kerumunan siswa baru saja bubar, menyisakan dirinya yang berdiri kaku menatap selembar kertas hasil Ujian Tengah Semester (UTS) Fisika yang baru saja ditempel.

1. Jagad Rayyan – 98,2 2. Jihan Selaras – 98,0

"Nol koma dua."

Jihan mendesis. Jari-jarinya yang ramping—yang biasanya menari lincah di atas tuts piano—kini mengepal kuat di samping rok abu-abunya. Cuma gara-gara dia melewatkan satu satuan di jawaban nomor terakhir, cowok tukang pamer itu kembali bertengger di atas namanya.

"Nggak usah diliatin terus. Kertasnya nggak bakal berubah jadi seratus kalau cuma lo pelototin, Han."

Suara bariton yang berat dan sedikit napas yang terengah-engah itu muncul dari belakang telinganya. Jihan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma keringat bercampur parfum citrus mahal itu sudah jadi polusi udara langganan bagi indra penciumannya.

Jagad Rayyan berdiri di sana. Masih memakai jersey basket yang basah kuyup, memegang bola di pinggang kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menyeka keringat di dahi dengan ban lengan bertuliskan 'Ketua OSIS'.

"Dua poin, Gad. Cuma dua poin," ucap Jihan tanpa menoleh, suaranya sedingin es.

Jagad terkekeh, tipe kekehan sombong yang selalu sukses memancing emosi Jihan. "Dalam basket, dua poin itu penentu kemenangan di detik terakhir. Dan dalam hidup, dua poin itu pembeda antara yang nomor satu sama yang... ya, lo tahu sendiri, peringkat dua."

Jihan akhirnya berbalik, menatap mata tajam Jagad yang selalu kelihatan tenang sekaligus menyebalkan. "Jangan senang dulu. Semester depan gue pastiin lo yang harus dongak buat liat nama gue di puncak."

Jagad maju satu langkah, membuat Jihan refleks mundur hingga punggungnya menempel di mading. Jagad menunduk sedikit, menyamakan tingginya dengan Jihan.

"Gue nggak pernah liat ke bawah, Jihan Selaras," bisik Jagad pelan, senyum miringnya muncul. "Tapi kalau lo capek jadi nomor dua terus, ruang OSIS selalu terbuka kalau lo butuh tutor. Gratis, khusus buat rival abadi gue."

"Najis," semprot Jihan, mendorong bahu Jagad dengan kasar untuk memberi jalan.

"Eh, satu lagi!" seru Jagad saat Jihan mulai melangkah pergi. "Anak-anak musik jangan latihan lewat jam lima sore. Gue butuh ketenangan buat rapat OSIS di ruang sebelah. Suara gitar lo... terlalu berisik."

Jihan berhenti, menoleh sedikit dengan tatapan membunuh. "Dan gue butuh lo berhenti dribble bola saat gue lagi main piano. Suara bola lo itu nggak punya ritme. Berantakan."

Jagad hanya mengangkat bahu sambil melempar bolanya ke udara dan menangkapnya lagi dengan satu tangan. Ia memperhatikan punggung Jihan yang menjauh menuju ruang musik. Senyum miringnya perlahan luntur, berganti dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di saku celana basketnya, ponsel Jagad bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Ayahnya:

“Papa lihat nilai Fisika kamu cuma 98,2. Kenapa bisa salah satu nomor? Jangan sampai peringkat kamu turun. Papa nggak mau dengar alasan.”

Jagad mengembuskan napas panjang, meremas ponselnya kuat-kuat. Ia menoleh kembali ke mading, ke arah nama Jihan Selaras yang berada tepat di bawah namanya.

"Lo beruntung, Han," gumamnya lirih. "Lo nomor dua karena kesalahan teknis. Gue nomor satu karena... gue nggak punya pilihan untuk jadi yang kedua."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status