Jingga membuka pintu rumah dengan perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan Kakek dan Neneknya tak menunggunya di ruang tamu. Suasana terlihat sepi. Dia pun tersenyum lega, lalu masuk dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara.Dengan langkah setenang mungkin, Jingga melangkah menuju tangga. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama ketika—“Jingga Langkana Nayara!”Tubuh Jingga membeku. Suara Nenek Resti tiba-tiba menggema dari arah taman belakang.“Sini, sarapan dulu,” ujar Nenek Resti, pelan, namun terdengar mengerikan di telinga Jingga.Jingga memejamkan mata, menghela nafas panjang, lalu membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.Dengan ceria, Jingga berjalan menuju taman belakang. Wajahnya tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, di dalam hatinya berkecamuk kecemasan karena semalam dia tidak pulang ke rumah.“Pagi, Nenek, Kakek,” sapanya ceria sambil mengecup pipi Nenek Resti dan Kakek Akmal secara bergantian. Dia kemudian duduk di ku
Última actualización : 2026-01-10 Leer más