Nafas Jingga memburu dengan wajah panik saat turun dari mobil. Neneknya tiba-tiba menelpon dengan suara bergetar, membuatnya cemas. Terlebih lagi terdengar suara teriakan Bibi Hana yang samar-samar berkata ‘mati semua’ saat dia ingin bertanya sambungan telepon terputus dan tak bisa dihubungi lagi.Tidak hanya Jingga yang pulang, Kayla pun ikut serta. Keduanya sama-sama takut terjadi hal buruk pada Nenek Resti. “Nek… Nenek dimana?” teriak Jingga. Baru saja dia hendak naik tangga, suara Bibi Hana menghentikannya.“Nenek ada di belakang, Non,” ujar Bibi Hana.Kayla menatap Bibi Hana dari ujung kepala sampai kaki, lalu kedua alisnya menukik. “Habis renang, Bi?” pasalnya, sekujur tubuh wanita itu basah kuyup. “Berenang di kolam ikan, lebih tepatnya, Non Kay,” jawab Bibi Hana.“Ngapain, Bi? Lagi gabut banget apa gimana?” Jingga mendekat, lalu refleks menutup hidung saat mencium bau aneh. “Ih, kok baunya kayak campuran habbatussauda dan pelet ikan sih?”Belum sempat Bibi Hana menjawab, sua
Read more