Share

Dosen Galakku, Suami Rahasiaku
Dosen Galakku, Suami Rahasiaku
Auteur: Syamwiek

Malam Panas

Auteur: Syamwiek
last update Dernière mise à jour: 2026-01-08 15:55:53

Musik club berdentam keras, tapi Jingga hampir tak mendengarnya lagi. Kepalanya berputar, tubuhnya terasa terbakar dari dalam. Dia tersandung keluar dari kerumunan jika tak berpegangan pada dinding pasti sudah tersungkur ke lantai.

“Tolong—” ujarnya pada siapa saja yang lewat.

Sagara baru saja keluar dari ruang VIP ketika seorang gadis hampir jatuh ke pelukannya. Refleks, dia menangkap tubuh itu.

Jingga mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca dan kedua pipinya memerah. “Panas, Om, tolong aku—”

Sagara mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis mencoba menggodanya dengan pura-pura mabuk. Enggan menanggapi, dia hendak memanggil petugas keamanan club. Namun, sebelum itu terjadi, dia mendengar suara dari arah bar.

“Cepat bawa dia ke hotel sebelum pengaruh obatnya hilang!”

“Kamu sudah gila! Bagaimana kalau kakeknya yang kaya itu tahu? Perusahaan keluargaku bisa hancur.”

“Tenang saja. Pak Akmal Langkana tidak akan tahu.”

Darah Sagara mendidih. Dia menoleh tajam ke arah sumber suara—seorang wanita tengah berbisik pada pria berjas. Mereka tersenyum licik sambil saling menatap.

“Sial!” dengkusnya. Tanpa pikir panjang, Sagara merangkul Jingga dan membawanya keluar dari club.

Di dalam mobil, Jingga terus meracau tak jelas. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Kamu tinggal dimana?” tanya Sagara sambil menyetir.

“Om, tolong. Rasanya panas banget! Aku gak kuat! Minta air es—” Jingga menggeliat gelisah.

Sagara mengumpat pelan. Tak ada pilihan. Dia memutar stir menuju apartemennya.

Sepanjang perjalanan, Jingga makin tak terkendali. Beberapa kali tangannya kembali meraih kemejanya sendiri, membuat Sagara terpaksa menepikan mobil di pinggir jalan.

“Kamu ini kenapa datang ke club kalau tidak biasa minum, ha?” hardiknya tertahan.

“Nenek—” rengek Jingga lirih, kepalanya terkulai.

Sagara menghela nafas panjang. Dia mengambil selimut dari jok belakang lalu membungkus tubuh Jingga agar perempuan itu behenti meronta. AC mobil dinyalakan lebih dingin agar Jingga tak semakin kepanasan.

“Dasar kakak tiri jahat!” racau Jingga sambil meringis. “Awas aja kalau ketemu lagi. Aku jambak rambutmu sampai botak!”

Sagara mendengkus kesal. “Ternyata bar-bar juga,” gumamnya pelan.

Setelah memastikan Jingga sedikit lebih tenang, dia kembali menjalankan mobil, melaju kencang menuju apartemennya.

Begitu pintu apartemen terbuka, Jingga hampir terjatuh lagi. Sagara menggendongnya masuk, berniat membaringkannya di sofa. Tapi Jingga mencengkeram kemejanya erat.

“Om, jangan tinggalin aku. Kakak tiriku yang jahat itu berencana merusakku.”

“Dengar, kamu harus—”

Sebelum Sagara sempat menyelesaikan kalimatnya, Jingga tanpa sadar menarik kemejanya dengan kasar hingga seluruh kancingnya copot dan berjatuhan ke lantai.

“Astaga, gadis ini benar-benar!”

Sagara menangkap tangan Jingga, tapi gadis itu malah menatapnya dengan mata berkabut, lalu tiba-tiba menarik tengkuknya dan mencium bibirnya.

Dia terkejut. Saat hendak mendorong Jingga dan menghentikan ciuman itu, sesuatu yang tak dia pahami justru menahanya.

Entah setan dari mana yang merasukinya, Sagara malah terbuai oleh kelembutan bibir gadis yang masih dalam gendongannya.

Kedua kakinya refleks melangkah menuju kamar tamu. Ciuman itu terus berlanjut, diiringi suara decakan pelan yang menggema di ruangan sunyi itu.

“Ahhh,” lenguhan Jingga sontak mengembalikan sedikit kesadaran Sagara.

Nafasnya memburu. Dia mengangkat kepala, menatap gadis yang kini terbaring di bawah kungkungannya.

“Shit!” umpat Sagara.

“Om—” rengek Jingga dengan mata sayu.

Namun alih-alih menjauh, Sagara kembali mengecup bibir Jingga. Ciuman itu semakin dalam, merambat ke tengkuk gadis itu, disertai gigitan dan hisapan.

“Ahhh,” desah Jingga. Dia mendongakkan kepala, jari-jarinya mencengkeram rambut Sagara tanpa sadar.

Tangan Sagara pun tak tinggal diam. Dia mulai menjelajah gundukan kembar milik gadis itu, sementara bibirnya terus mengecup setiap inci tengkuknya.

Sagara datang ke club itu hanya untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Dia bukan tipe pria yang gemar berada di tempat seperti itu tanpa alasan penting.

Malam ini pun dia sama sekali tidak menyentuh alkohol karena harus menyetir. Namun, kelakuannya sekarang justru terasa seperti seorang yang sedang mabuk berat—kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

‘Kenapa gadis ini membuatku seperti orang gila?’ batin Sagara kalut.

Dia menatap Jingga yang terbaring di hadapannya, nafas gadis itu tak beraturan, wajahnya memerah dengan mata yang setengah terpejam. Penampilan acak-acakan Jingga semakin membuat pikirannya semakin kacau, logikanya seolah terkikis habis.

Sagara mengepalkan tangan, berusaha menarik diri, namun tubuh Jingga bergerak pelan, melengkung seolah mencari sandaran. Desahan lirih itu membuat dadanya sesak—antara keinginan dan kesadaran saling bertabrakan.

“Brengsek!” umpatan itu terdengar seperti peringatan untuk dirinya sendiri.

Jingga menarik kemeja Sagara, mengangkat kepalanya, lalu kembali mencium bibir pria itu.

Tak sanggup lagi menahan godaan, Sagara langsung membalasnya. Kali ini dia tak berniat mundur. Ciuman mereka pun kian intens, penuh desakan emosi yang tak lagi terbendung.

“Om–ah!” teriak Jingga saat dia merasakan sentuhan dan hisapan yang membuat tubuhnya menegang seketika.

Sagara kini bertingkah seperti seseorang yang kehausan, berpindah ke kanan dan kiri, mengecap dan memberi sentuhan diselingi gigitan pelan di area itu.

Dia melakukannya dengan hati-hati dan lembut, memastikan gadis yang bahkan tak dikenalnya itu tetap nyaman.

“Om, aku mau di atas!”

Jingga mendorong tubuh Sagara cukup kuat. Pria itu pun memberi kesempatan, membiarkannya memimpin. Dengan senang hati Sagara membalik posisinya.

Jingga dengan penampilan acak-acakan justru terlihat begitu memikat di mata Sagara. Gadis itu mencium bibirnya dengan lembut, lalu semakin berani hingga menyelipkan lidahnya. Kemampuan berciuman yang amatir tiba-tiba berubah lihai, Jingga kini tahu betul apa yang dilakukannya.

Tangannya mulai membuka kancing kemeja Sagara satu persatu. Setelah itu, ciumannya turun ke leher Sagara, meniru apa yang sebelumnya pria itu lakukan—meninggalkan tanda merah di beberapa tempat.

“Arrrgh,” desah Sagara tertahan, sementara kedua tangannya bergerak tanpa sadar, menarik Jingga semakin dekat dengan dadanya, menikmati sensasi yang membuat nafasnya kian tak beraturan.

Keduanya terus saling mencumbu, masih menikmati pemanasan yang sama-sama belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Hingga tiba-tiba, suara ponsel di saku celana Sagara berdering, menjeda kegiatan panasnya.

Sebelum mengambil ponselnya, Sagara mengangkat wajah Jingga yang masih berada di ceruk lehernya. Dia mengecup singkat bibir mungil yang mulai membengkak itu, lalu membaringkan kembali gadis itu sebelum beranjak dari ranjang.

Jingga merengek, tak ingin ditinggal. Sagara mengangkat dan membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman, lalu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Setelah memastikan jingga tenang, dia melangkah menuju balkon.

“Dimana kamu, Ga? Acara baru dimulai,” tanya sahabat Sagara, Bhargava.

“Apartemen,” jawabnya singkat.

“Tadi ada yang lihat kamu keluar sama cewek. Siapa dia?”

“Bukan siapa-siapa. Cuma gak sengaja ketabrak,” balas Sagara datar.

“Oh,” balas Gava. “Ada—”

“Om,” panggil Jingga sambil memeluk Sagara dari belakang. “Panas banget. AC-nya mati ya?”

“Siapa itu, Ga?! Kamu beneran bawa cewek ke apartemen?! Wah, gila. Mulai nakal kamu!”

Tut… tut…

Sagara langsung mematikan telepon. Dia berbalik, lalu menggendong Jingga dengan satu gerakan cepat.

“Kamu yang nakal, gadis kecil. Bukan aku,” gumamnya sebelum mengecup singkat bibir Jingga.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Ajakan Menikah

    “Jin, pelan-pelan! Nanti kita terpeleset di tangga!” teriak Kayla saat sahabatnya menyeretnya menuruni anak tangga. “Duh, kalau pelan-pelan, nanti bisa barengan lagi sama Om ganteng itu,” keluh Jingga. “Memangnya kamu kenal sama Om ganteng yang tadi di lift?”“Dia yang nolongin aku waktu di club.”“Hah?”Kayla langsung menghentikan langkahnya. Otomatis Jingga ikut terhenti.“Kenapa kamu malah kabur? Harusnya kamu ucapin terimakasih.”“Kay, please deh,” kata Jingga setengah putus asa. “Tiba-tiba dia ada di kampus ini. Kalau dia ternyata dosen atau anggota yayasan, bisa tamat hidupku.”Kayla menggaruk kepalanya. “Iya juga, ya.”“Makanya, ayo kita kabur. Jangan sampai ketemu Om ganteng itu lagi.”“Sayang banget, sih, pria seganteng itu harus dihindari.”Keduanya pun bergegas menuruni tangga, menuju area parkir yang berada di sebelah Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. ***“Nenek!” Jingga berteriak dari lantai dua. “Ini dress-nya ketat banget! Aku sampai susah nafas!”Nenek Resti yang

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Dosbing Baru

    Jingga masuk ke dalam kelas dengan wajah mendung. Ranselnya dia taruh diatas meja dengan agak keras sampai beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh.“Woilah, Jin!” Kayla langsung mendekat. “Asisten pribadi Kakek Akmal kemarin telepon aku. Katanya kamu gak balik ke rumah. Duh, aku sampai gemeteran jawabnya.”Jingga—atau Jin, panggilan dari teman-temannya karena dia menganggap dirinya istri Kim Seok Jin—memasang wajah memelas. “Sialan si Karen itu. Dia berusaha menjebakku lagi. Dan aku hampir saja masuk perangkapnya.”“Kok bisa? Biasanya kamu gak pernah terpancing sama umpan kakak tirimu.”“Gara-gara dia nyebut nama Sean, aku jadi tertarik buat ketemu.”“Sean lagi, Sean lagi. Udah aku bilang, dia gak akan kenapa-napa. Sean itu anak kesayangan mamamu.”“Untung saja aku ketemu om-om baik hati yang nolongin aku waktu orang suruhan Karen mau membawaku ke hotel.”“Karen masukin obat ke minumanmu lagi?”“Hm, bodohnya aku malah menghabiskannya sampai tandas, tanpa rasa curiga.”“Ck, harusnya

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Rencana Kencan Buta

    Jingga membuka pintu rumah dengan perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan Kakek dan Neneknya tak menunggunya di ruang tamu. Suasana terlihat sepi. Dia pun tersenyum lega, lalu masuk dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara.Dengan langkah setenang mungkin, Jingga melangkah menuju tangga. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama ketika—“Jingga Langkana Nayara!”Tubuh Jingga membeku. Suara Nenek Resti tiba-tiba menggema dari arah taman belakang.“Sini, sarapan dulu,” ujar Nenek Resti, pelan, namun terdengar mengerikan di telinga Jingga.Jingga memejamkan mata, menghela nafas panjang, lalu membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.Dengan ceria, Jingga berjalan menuju taman belakang. Wajahnya tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, di dalam hatinya berkecamuk kecemasan karena semalam dia tidak pulang ke rumah.“Pagi, Nenek, Kakek,” sapanya ceria sambil mengecup pipi Nenek Resti dan Kakek Akmal secara bergantian. Dia kemudian duduk di ku

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Hampir Saja

    Jingga membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri. Dia menatap langit-langit yang terasa asing dengan sorot bingung.‘Ini dimana?’Ingatannya perlahan melayang ke malam sebelumnya—saat Karen, menghubunginya dan meminta bertemu untuk membicarakan perihal kesehatan Sean.Hampir dua bulan Jingga tak pernah bertemu dan tak bisa menghubungi Sean. Meski mereka tak tinggal serumah, Jingga justru sangat dekat dengan adik tirinya itu. Sean selalu baik padanya—sangat berbeda dengan Karen, kakak tiri yang manipulatif.Sesampainya di club, Karen sama sekali tak mau memberi tahu apapun tentang keadaan Sean. Setelah perdebatan panjang—Jingga kesal dan asal saja meraih gelas di atas meja dan meneguk isinya hingga tandas.Saat tubuhnya mulai terasa aneh, Karen menariknya ke lantai dansa. Jingga akhirnya berhasil keluar dari kerumunan dengan tubuh lemas, hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang pria.‘Astaga, semalam aku sampai gelendotan sama Om-Om ganteng!’Panik, Jingga langsung membuka s

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Malam Panas

    Musik club berdentam keras, tapi Jingga hampir tak mendengarnya lagi. Kepalanya berputar, tubuhnya terasa terbakar dari dalam. Dia tersandung keluar dari kerumunan jika tak berpegangan pada dinding pasti sudah tersungkur ke lantai.“Tolong—” ujarnya pada siapa saja yang lewat.Sagara baru saja keluar dari ruang VIP ketika seorang gadis hampir jatuh ke pelukannya. Refleks, dia menangkap tubuh itu. Jingga mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca dan kedua pipinya memerah. “Panas, Om, tolong aku—”Sagara mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis mencoba menggodanya dengan pura-pura mabuk. Enggan menanggapi, dia hendak memanggil petugas keamanan club. Namun, sebelum itu terjadi, dia mendengar suara dari arah bar.“Cepat bawa dia ke hotel sebelum pengaruh obatnya hilang!”“Kamu sudah gila! Bagaimana kalau kakeknya yang kaya itu tahu? Perusahaan keluargaku bisa hancur.”“Tenang saja. Pak Akmal Langkana tidak akan tahu.”Darah Sagara mendidih. Dia menoleh tajam ke arah sumber

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status