LOGINJingga masuk ke dalam kelas dengan wajah mendung. Ranselnya dia taruh diatas meja dengan agak keras sampai beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh.
“Woilah, Jin!” Kayla langsung mendekat. “Asisten pribadi Kakek Akmal kemarin telepon aku. Katanya kamu gak balik ke rumah. Duh, aku sampai gemeteran jawabnya.” Jingga—atau Jin, panggilan dari teman-temannya karena dia menganggap dirinya istri Kim Seok Jin—memasang wajah memelas. “Sialan si Karen itu. Dia berusaha menjebakku lagi. Dan aku hampir saja masuk perangkapnya.” “Kok bisa? Biasanya kamu gak pernah terpancing sama umpan kakak tirimu.” “Gara-gara dia nyebut nama Sean, aku jadi tertarik buat ketemu.” “Sean lagi, Sean lagi. Udah aku bilang, dia gak akan kenapa-napa. Sean itu anak kesayangan mamamu.” “Untung saja aku ketemu om-om baik hati yang nolongin aku waktu orang suruhan Karen mau membawaku ke hotel.” “Karen masukin obat ke minumanmu lagi?” “Hm, bodohnya aku malah menghabiskannya sampai tandas, tanpa rasa curiga.” “Ck, harusnya kamu ajak aku. Coba bayangkan, kalau kamu gak ketemu om-om baik itu, jadi apa kamu sekarang?” “Mungkin sudah ada berita, ‘Cucu Akmal Langkana gemar ke club dan ONS.’ dan seluruh mahasiswa di kampus ini bakal gosipin aku.” “Kampret si Karen!” geram Kayla. “Kita harus balas kelakuannya, Jin. Biar kapok dan tahu rasa!” “Nanti dulu balas kakak tiriku. Sekarang ada yang lebih gawat daripada dia.” Jingga mengacak-acak rambutnya yang semula sudah rapi, lalu menatap sahabatnya dengan wajah cemberut. Kayla sangat hafal dengan ekspresi sahabatnya itu. “Di jodohin sama pria kaya raya mana lagi sama Nenek Resti?” “Kagak tau! Nenek cuman bilang kalau ramalan wetonku mengatakan jika aku harus menikah tahun ini. Soalnya dua tahun kedepan gak ada hari baik buat aku.” “Ramalan weton?” “Hm, dan kamu tahu—Nenek kenal dukun itu dari tok-tok. Karena tertarik beliau menghubungi nomor adminnya buat tanya soal wetonku.” “Emang ada dukun yang live tok-tok? Kok aku baru tahu ya.” Tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, Kayla bergegas mengambil ponselnya dari dalam saku, lalu membuka aplikasi tok-tok dan mencari akun dukun itu. Beberapa saat kemudian… “Jin, lihat nih!” Kayla mengarahkan layar pada Jingga. “Beneran ada loh. Kalau mau tanya soal ramalan weton harus kasi gift dulu.” Jingga melihat penonton live yang berjumlah 9 orang. Firasatnya mengatakan salah satu penonton itu adalah neneknya. Dan, benar saja, “Lah, ini kan akun Nenek. Ngapain coba pagi-pagi nongkrong di livenya dukun,” omel Jingga. “Haha, gokil banget Nenek kamu.” Kayla cepat menutup mulutnya. Tak mau membuat teman-temannya kaget dengan suara tawanya. “Kayaknya mau tanya kecocokan weton kamu sama calon jodohmu.” “Nenekku makin hari makin berbahaya. Aku takut tiba-tiba dia bawa Pak Ustad buat meruqiyahku.” “Bukannya udah pernah? Pas kamu ditolak sama CEO perusahaan startup.” “Hey, bukan ditolak. Aku yang sengaja cosplay jadi pemandu karaoke buat menggagalkan perjodohan!” “Iya, iya. Intinya kamu di ruqiyah biar para setan-setan yang menempel kabur dan auramu terpancar sampai radius satu kilometer.” Kayla menepuk kepala Jingga beberapa kali. Sebenarnya dia kasihan dengan sahabatnya itu karena Neneknya tak ada lelahnya mengatur perjodohan. Meskipun niatnya baik dan pria-pria yang dipilihnya berkualitas tinggi, tetap saja tak ada satu pun yang membuat Jingga terpesona. “Terus kamu mau gimana, Jin?” “Ya cari cara supaya perjodohan gagal.” “Pasti ganteng,” tebak Kayla. “Kalau dipikir-pikir Nenek Resti punya selera yang bagus loh, Jin.” “Mau seganteng apapun, suamiku tetap Kim Seok Jin, titik!” Sebelum Kayla menjawab, pintu kelas terbuka. Rizki, komting mereka, masuk dan langsung berdiri di depan kelas. “Teman-teman, minta waktunya sebentar. Ada hal penting yang akan aku sampaikan,” katanya. Kelas yang semula ramai perlahan berubah tenang. “Aku dapat kabar dari sekretariat fakultas—kalau Bu Ratna mengalami kecelakaan tadi malam dan harus menjalani operasi.” Beberapa mahasiswa langsung berbisik-bisik pada teman sebelahnya. “Beliau harus istirahat cukup lama,” lanjut Rizki. “Kemungkinan sampai akhir semester.” Jingga membeku. “Kay, gimana nasib skripsiku?” Kayla menepuk bahunya pelan. “Tenang dulu. Dengarkan lanjutan penjelasan dari komting.” “Mahasiswa bimbingan Bu Ratna akan dialihkan ke dosen pengganti,” kata Rizki. “Ada sekitar lima belas orang. Dari kelas ini hanya Jingga, sisanya dari kelas lain.” Kepala Jingga terasa berat. Hanya dia yang sudah mengambil SKS skripsi karena ingin lulus lebih awal, sementara teman-teman sekelasnya—termasuk Kayla baru akan mengambil skripsi di semester depan. “Dosen penggantinya dosen baru,” lanjut Rizki. “Namanya Prof. Sagara.” Beberapa mahasiswa langsung berseru. Baru kali ini mereka mendapatkan dosen pembimbing S1 bergelar profesor. “Beliau baru kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan studinya,” kata Rizki lagi. “Dan kini menjabat sebagai CEO perusahaan teknologi besar.” Suasana kelas kembali riuh. “CEO?” “Yang perusahaannya sering masuk berita bisnis itu?” “Dan,” Rizki menambahkan, “keluarga beliau termasuk pemegang saham terbesar kampus ini.” Jingga mengernyitkan kening. “Prof. Sagara?” nama yang menurutnya sangat asing. Kayla menatap sahabatnya dengan prihatin. “Jingga,” Rizki bedehem. “Ada yang perlu kamu tahu. Menurut cerita para staf sekretariat, Prof. Sagara dikenal sangat ketat, teliti dan disiplin. Jadi, usahakan kalau bimbingan datang tepat waktu.” Jingga merosot dari kursinya. “Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Banyak banget perasaan cobaan buat hambamu yang cantik ini.” “Untuk lebih jelasnya nanti—Jingga, kamu setelah kelas selesai datang saja ke sekretariat fakultas,” pungkas Rizki, lalu duduk di kursinya. Tak lama kemudian, dosen datang dan suasana kelas kembali tenang untuk mengikuti perkuliahan. *** Setelah kelas berakhir. Jingga langsung membereskan bukunya dengan cepat, lalu memasukkannya ke dalam ransel. “Kay, ikut ke sekretariat yuk,” ajak Jingga sambil menggendong tasnya. “Oke, yuk,” jawab Kayla. Mereka berdua berjalan menuju ke ruang sekretariat. Melewati beberapa mahasiswa yang tengah berkumpul di koridor—membicarakan kabar tentang dosen baru yang misterius itu. “Kata Kakak sepupuku yang kerja di KTech Innovation, Prof. Sagara itu ganteng banget loh!” bisik salah satu mahasiswa kepada temannya yang berjalan di depan Jingga dan Kayla. “Masak sih?! Tapi, katanya galak.” “Galak tapi ganteng, kaya, pinter kan wort it!” “Umur berapa emangnya? Biasanya kalau dapat gelar profesor udah cukup berumur.” “Masih muda beliau. Sekitar 33-34 tahunan. Dapat gelar profesor di usia muda karena pintar. Sejak kecil sekolah di luar negeri.” “Wah, material husband ada di Prof. Sagara semua. Mau, lah, aku dijadikan pendamping hidupnya.” “Kamu pikir aku bakal nolak? Gak, lah!” Jingga memutar bola mata. “Mahasiswi jaman sekarang pada kenapa sih? Bukannya kuliah yang bener biar bisa menghasilkan uang yang banyak malah berlomba-lomba cari suami kaya dan ganteng.” “Kata orang yang nge-crush idol K-pop gara-gara ganteng dan tajir mlintir,” sindir Kayla sambil nyengir. “Itu mah beda! Jangan disamakan dong, Kay.” Jingga membela diri. “Iya deh, iya—” Kayla menahan tawa. Mereka sampai di depan pintu sekretariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Jingga mengetuk pintu sebelum masuk. “Permisi, Bu,” Jingga menyapa staf sekretariat yang sedang bertugas. “Iya, ada yang bisa saya bantu?” Staf itu mengangkat kepala, tersenyum ramah. “Oh, silahkan duduk.” Jingga dan Kayla mengangguk lalu duduk. “Tadi saya dapat informasi dari komting kalau mahasiswa bimbingan Bu Ratna di alihkan ke Prof. Sagara. Saya mau minta nomor kontak beliau untuk konfirmasi soal pengiriman draf skripsi.” Staf administrasi mengangguk paham. “Iya, benar. Kamu termasuk yang dialihkan ya?” “Iya, Bu,” jawab Jingga. “Baik tunggu sebentar ya—” Staf itu mulai mengetikkan sesuatu pada komputernya. “Hm, aneh juga ya. Biasanya dosen baru langsung kasih nomor kontaknya ke kami. Tapi ini—” Dia menggeser-geser kursor. “Kok gak ada ya?” “Nggak ada, Bu?” tanya Jingga mulai panik. “Tunggu, Saya cek email dulu,” katanya. “Ini dia! Beliau baru kirim email tadi pagi. Tapi, tidak ada nomor telepon pribadi yang dicantumkan. Hanya email dan ruang kerjanya.” “Agak ribet juga,” gumam Jingga, tapi masih dapat didengar oleh staf administrasi. “Mungkin karena beliau juga seorang CEO, jadi menjaga privasi,” ujarnya. “Beliau saat ini sedang berada di kampus. Ruang kerjanya di lantai 5, ruang 504. Kebetulan itu ruangan khusus yang diberikan oleh pihak kampus.” Kayla dan Jingga saling berpandangan. “Jadi kalau mau ketemu, harus langsung ke ruangannya?” tanya Kayla. “Iya. Atau bisa kirim email dulu untuk appointment. Emailnya ada di sini—” Staf itu menulis alamat email di selembar kertas. “Oh, iya, beliau juga bilang di emailnya, mulai hari ini beliau akan ada di ruangannya setiap hari senin sampai rabu, jam 8 pagi sampai jam 2 siang.” Jingga menerima kertas itu dan membacanya dengan teliti. “Baik, Bu. Terima kasih banyak.” Mereka keluar dari sekretariat dan berjalan menuju lift. “Kenapa kamu, Jin?” tanya Kayla saat merasa sahabatnya sedang memikirkan sesuatu. “Takut banget kalau dosbing baruku galak, secara beliau kan seorang profesor. Mana masih muda lagi,” jawab Jingga. Kayla refleks menoleh ke sekeliling mereka, memastikan tak ada seorang pun sebelum bicara. “Selain galak, biasanya bagian depan kepalanya sudah botak. Terus perutnya buncit,” bisik Kayla sambil meringis. Ting… Pintu lift terbuka. Jingga sontak membelalakkan kedua matanya. “Ha, Om? Kok bisa ada di sini?” seru Jingga terperangah.“Jin, pelan-pelan! Nanti kita terpeleset di tangga!” teriak Kayla saat sahabatnya menyeretnya menuruni anak tangga. “Duh, kalau pelan-pelan, nanti bisa barengan lagi sama Om ganteng itu,” keluh Jingga. “Memangnya kamu kenal sama Om ganteng yang tadi di lift?”“Dia yang nolongin aku waktu di club.”“Hah?”Kayla langsung menghentikan langkahnya. Otomatis Jingga ikut terhenti.“Kenapa kamu malah kabur? Harusnya kamu ucapin terimakasih.”“Kay, please deh,” kata Jingga setengah putus asa. “Tiba-tiba dia ada di kampus ini. Kalau dia ternyata dosen atau anggota yayasan, bisa tamat hidupku.”Kayla menggaruk kepalanya. “Iya juga, ya.”“Makanya, ayo kita kabur. Jangan sampai ketemu Om ganteng itu lagi.”“Sayang banget, sih, pria seganteng itu harus dihindari.”Keduanya pun bergegas menuruni tangga, menuju area parkir yang berada di sebelah Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. ***“Nenek!” Jingga berteriak dari lantai dua. “Ini dress-nya ketat banget! Aku sampai susah nafas!”Nenek Resti yang
Jingga masuk ke dalam kelas dengan wajah mendung. Ranselnya dia taruh diatas meja dengan agak keras sampai beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh.“Woilah, Jin!” Kayla langsung mendekat. “Asisten pribadi Kakek Akmal kemarin telepon aku. Katanya kamu gak balik ke rumah. Duh, aku sampai gemeteran jawabnya.”Jingga—atau Jin, panggilan dari teman-temannya karena dia menganggap dirinya istri Kim Seok Jin—memasang wajah memelas. “Sialan si Karen itu. Dia berusaha menjebakku lagi. Dan aku hampir saja masuk perangkapnya.”“Kok bisa? Biasanya kamu gak pernah terpancing sama umpan kakak tirimu.”“Gara-gara dia nyebut nama Sean, aku jadi tertarik buat ketemu.”“Sean lagi, Sean lagi. Udah aku bilang, dia gak akan kenapa-napa. Sean itu anak kesayangan mamamu.”“Untung saja aku ketemu om-om baik hati yang nolongin aku waktu orang suruhan Karen mau membawaku ke hotel.”“Karen masukin obat ke minumanmu lagi?”“Hm, bodohnya aku malah menghabiskannya sampai tandas, tanpa rasa curiga.”“Ck, harusnya
Jingga membuka pintu rumah dengan perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan Kakek dan Neneknya tak menunggunya di ruang tamu. Suasana terlihat sepi. Dia pun tersenyum lega, lalu masuk dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara.Dengan langkah setenang mungkin, Jingga melangkah menuju tangga. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama ketika—“Jingga Langkana Nayara!”Tubuh Jingga membeku. Suara Nenek Resti tiba-tiba menggema dari arah taman belakang.“Sini, sarapan dulu,” ujar Nenek Resti, pelan, namun terdengar mengerikan di telinga Jingga.Jingga memejamkan mata, menghela nafas panjang, lalu membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.Dengan ceria, Jingga berjalan menuju taman belakang. Wajahnya tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, di dalam hatinya berkecamuk kecemasan karena semalam dia tidak pulang ke rumah.“Pagi, Nenek, Kakek,” sapanya ceria sambil mengecup pipi Nenek Resti dan Kakek Akmal secara bergantian. Dia kemudian duduk di ku
Jingga membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri. Dia menatap langit-langit yang terasa asing dengan sorot bingung.‘Ini dimana?’Ingatannya perlahan melayang ke malam sebelumnya—saat Karen, menghubunginya dan meminta bertemu untuk membicarakan perihal kesehatan Sean.Hampir dua bulan Jingga tak pernah bertemu dan tak bisa menghubungi Sean. Meski mereka tak tinggal serumah, Jingga justru sangat dekat dengan adik tirinya itu. Sean selalu baik padanya—sangat berbeda dengan Karen, kakak tiri yang manipulatif.Sesampainya di club, Karen sama sekali tak mau memberi tahu apapun tentang keadaan Sean. Setelah perdebatan panjang—Jingga kesal dan asal saja meraih gelas di atas meja dan meneguk isinya hingga tandas.Saat tubuhnya mulai terasa aneh, Karen menariknya ke lantai dansa. Jingga akhirnya berhasil keluar dari kerumunan dengan tubuh lemas, hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang pria.‘Astaga, semalam aku sampai gelendotan sama Om-Om ganteng!’Panik, Jingga langsung membuka s
Musik club berdentam keras, tapi Jingga hampir tak mendengarnya lagi. Kepalanya berputar, tubuhnya terasa terbakar dari dalam. Dia tersandung keluar dari kerumunan jika tak berpegangan pada dinding pasti sudah tersungkur ke lantai.“Tolong—” ujarnya pada siapa saja yang lewat.Sagara baru saja keluar dari ruang VIP ketika seorang gadis hampir jatuh ke pelukannya. Refleks, dia menangkap tubuh itu. Jingga mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca dan kedua pipinya memerah. “Panas, Om, tolong aku—”Sagara mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis mencoba menggodanya dengan pura-pura mabuk. Enggan menanggapi, dia hendak memanggil petugas keamanan club. Namun, sebelum itu terjadi, dia mendengar suara dari arah bar.“Cepat bawa dia ke hotel sebelum pengaruh obatnya hilang!”“Kamu sudah gila! Bagaimana kalau kakeknya yang kaya itu tahu? Perusahaan keluargaku bisa hancur.”“Tenang saja. Pak Akmal Langkana tidak akan tahu.”Darah Sagara mendidih. Dia menoleh tajam ke arah sumber







