LOGINJingga membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri. Dia menatap langit-langit yang terasa asing dengan sorot bingung.
‘Ini dimana?’ Ingatannya perlahan melayang ke malam sebelumnya—saat Karen, menghubunginya dan meminta bertemu untuk membicarakan perihal kesehatan Sean. Hampir dua bulan Jingga tak pernah bertemu dan tak bisa menghubungi Sean. Meski mereka tak tinggal serumah, Jingga justru sangat dekat dengan adik tirinya itu. Sean selalu baik padanya—sangat berbeda dengan Karen, kakak tiri yang manipulatif. Sesampainya di club, Karen sama sekali tak mau memberi tahu apapun tentang keadaan Sean. Setelah perdebatan panjang—Jingga kesal dan asal saja meraih gelas di atas meja dan meneguk isinya hingga tandas. Saat tubuhnya mulai terasa aneh, Karen menariknya ke lantai dansa. Jingga akhirnya berhasil keluar dari kerumunan dengan tubuh lemas, hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang pria. ‘Astaga, semalam aku sampai gelendotan sama Om-Om ganteng!’ Panik, Jingga langsung membuka selimut. Nafasnya tertahan sejenak, lalu dia menghela nafas lega. Pakaiannya masih utuh. Dengan tergesa, dia turun dari ranjang, meraih tas yang tergeletak di nakas, lalu keluar dari kamar. Sagara mengangkat alis saat melihat gadis yang membuatnya harus mandi air dingin tengah malam itu keluar dengan rambut acak-acakan. Dia tetap melanjutkan sarapannya dengan tenang. Jingga meringis, lalu berjalan mendekat sambil menggaruk kepalanya. “Hehe, Om, maaf ya. Semalam aku merepotkan.” Sagara menatapnya sekilas. “Mandi dan ganti pakaianmu dulu sebelum sarapan.” “Eh, tapi—” Tatapan Sagara yang tajam membuat Jingga langsung menutup mulut. Tanpa banyak bicara, dia berbalik dan belari ke kamar. Beberapa menit kemudian, Jingga muncul dengan wajah lebih segar. Ternyata Sagara telah menyiapkan pakaian bersih untuknya—pakaian wanita yang entah dia dapat dari mana. Jingga pun duduk di seberang Sagara dengan perasaan canggung. “Em, sebenarnya semalam aku ke club mau membicarakan keadaan Sean, adik tiriku,” ujarnya pelan. “Tapi ternyata, Karen, Kakak tiriku menipuku. Karena terlalu kesal, aku minum sembarangan tanpa mengecek dulu.” Sagara menyesap kopinya perlahan. “Kamu sangat berbahaya kalau sedang mabuk.” “Apa semalam aku melakukan hal yang aneh-aneh sama Om?” tanya Jingga sambil menahan rasa malu. Sagara bedehem cukup keras, lalu membuka kancing teratas kemejanya dan mendongakkan kepala. Kedua mata Jingga membelalak saat melihat beberapa tanda kemerahan di sana. “A-apa itu hasil perbuatanku?” tanyanya gugup. “Memangnya siapa lagi kalau bukan kamu?” jawab Sagara datar. “M-maaf, Om.” Suara Jingga semakin lirih. “Aku akan tanggung jawab.” Sagara menghela nafas panjang. “Tanggung jawab seperti apa yang kamu maksud?” tanyanya penasaran. Jingga menelan ludah, lalu duduk lebih tegak. “Aku sudah merenggut keperjakaan Om,” ujarnya. “Jadi, aku akan menikahi Om.” Sagara tersedak kopinya. Dia terbatuk keras, menepuk-nepuk dadanya yang terasa panas. Namun belum sempat dia membalas, Jingga tiba-tiba mengernyit, baru saja teringat sesuatu. “Eh, Om,” katanya ragu, “Sebelum kejadian semalam Om masih perjaka ting-ting, kan?” Kali ini Sagara benar-benar terdiam. Dia menoleh tajam, melotot galak ke arah Jingga. Semetara itu, Jingga hanya meringis polos, tak merasa jika baru saja melempar bom ke meja makan. “Kita tidak sampai melakukan hal sejauh itu semalam. Aku masih cukup waras untuk tidak melakukannya dengan gadis sepertimu,” jelas Sagara dengan kesal. Jingga menghela nafas lega. Setidaknya dia bersyukur karena tidak sampai menodai pria di depannya. “Lagipula,” Sagara mengacungkan garpunya ke arah Jingga, “seharusnya kamu yang panik karena hampir kehilangan kesucianmu, bukan malah mempertanyakan kesucianku.” Jingga menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Apa yang dikatakan Sagara memang benar. Tapi, dia keburu panik, mengira telah merugikan pria itu lebih dari yang seharusnya. “Sarapan dulu. Setelah itu, sopirku akan mengantarmu pulang.” “Gak usah, Om. Aku bisa naik taksi.” “Kamu yakin bisa menghadapi kakek dan nenekmu?” tanya Sagara. Jingga tertegun. “Om kok tahu sih?” “Semalam aku ngak sengaja dengar kakak tirimu menyuruh seseorang membawamu ke hotel. Pria itu menyebut nama kakekmu,” jelas Sagara singkat. “Aish, sialan Karen!” umpat Jingga sambil menusukkan garpu ke sosis di piringnya dengan kesal, sampai membuat Sagara bergidik ngeri melihatnya. Semalam, Sagara telah mencari tahu asal-usul dan kehidupan Jingga. Jadi, kurang lebihnya dia paham bahwa gadis di depannya bukan tipe yang lemah—sifatnya bar-bar, bahkan dia cukup pandai memilih pria yang bisa dimintai tolong saat dirinya mabuk dan berada di bawah pengaruh obat. “Terima kasih ya, Om,” ujar Jingga singkat, lalu mulai makan. Dia sama sekali tak bersikap jaim di depan Sagara. Mulutnya penuh saat mengunyah, gerakannya cepat dan apa adanya—jauh dari kesan anggun yang biasanya melekat pada gadis yang lahir dari keluarga kaya. Beberapa saat kemudian, Jingga telah menghabiskan sarapannya dan meminum susunya hingga tandas. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka kode barcode aplikasi chat miliknya. “Om, ayo tukeran whatApp. Kalau nanti ada apa-apa sama Om gara-gara aku, jangan sungkan buat menghubungiku ya.” Sagara terdiam, menatap Jingga dengan mata sedikit menyipit. ‘Gadis ini, apa semalam kepalanya sempat terbentur?’ tanyanya dalam hati. Jingga melambaikan tangannya di depan wajah Sagara yang terlihat melamun. “Om—” panggilnya. Sagara tersentak. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi sopirnya, memintanya naik untuk mengantar pulang Jingga. “Pulanglah. Aku sudah meminta sopir untuk bilang jika dia sopir keluarga temanmu. Jadi, kamu gak akan ditanya macam-macam sama kakek dan nenekmu,” ucap Sagara. “Oh—” Jingga terkejut mendengar perhatian dari pria di depannya. “Kalau begitu aku pulang ya.” “Hm,” gumam Sagara singkat sebagai jawaban. Tak lama kemudian, bel apartemen berbunyi. Sagara bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Jingga mengikuti dari belakang, membawa tas selempang serta paper bag berisi pakaian kotornya. Sopir datang menjemput. Setelah memastikan Jingga ikut keluar, Sagara meminta sopirnya segera mengantarnya pulang. Tak lama setelah pintu tertutup, dia menghela nafas panjang, menyandarkan punggungya sejenak. Sementara itu, Jingga masih diliputi kebingungan atas sikap Sagara—dingin, tapi penuh perhatian. “Silahkan, Nona,” ujar sopir ketika pintu lift terbuka. Jingga pun bergegas masuk, pikirannya masih dipenuhi sosok pria itu. Saat lift mulai turun, Jingga baru teringat bahwa dia belum tahu asal-usul pria yang telah menolongnya. Ironisnya, si penolong itu justru sudah mengetahui banyak hal tentangnya. “Ada apa, Non?” tanya sopir, heran melihat Jingga menepuk keningnya sendiri. “Apa Om ganteng sudah punya istri, pacar, atau teman dekat wanita?” tanya Jingga. Sopir itu menggeleng pelan. “Setahu saya, beliau belum punya.” Jingga menghela nafas lega sambil mengelus dadanya. “Syukurlah, tidak akan ada adegan labrak-melabrak.” “Maksudnya bagaimana, Non?” tanya sopir itu heran. Jingga meringis. “Ah, tidak apa-apa, Pak. Hehe.” ‘Ya ampun, hampir saja aku menodai perjaka ting-ting!’ seru Jingga dalam hati.“Jin, pelan-pelan! Nanti kita terpeleset di tangga!” teriak Kayla saat sahabatnya menyeretnya menuruni anak tangga. “Duh, kalau pelan-pelan, nanti bisa barengan lagi sama Om ganteng itu,” keluh Jingga. “Memangnya kamu kenal sama Om ganteng yang tadi di lift?”“Dia yang nolongin aku waktu di club.”“Hah?”Kayla langsung menghentikan langkahnya. Otomatis Jingga ikut terhenti.“Kenapa kamu malah kabur? Harusnya kamu ucapin terimakasih.”“Kay, please deh,” kata Jingga setengah putus asa. “Tiba-tiba dia ada di kampus ini. Kalau dia ternyata dosen atau anggota yayasan, bisa tamat hidupku.”Kayla menggaruk kepalanya. “Iya juga, ya.”“Makanya, ayo kita kabur. Jangan sampai ketemu Om ganteng itu lagi.”“Sayang banget, sih, pria seganteng itu harus dihindari.”Keduanya pun bergegas menuruni tangga, menuju area parkir yang berada di sebelah Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. ***“Nenek!” Jingga berteriak dari lantai dua. “Ini dress-nya ketat banget! Aku sampai susah nafas!”Nenek Resti yang
Jingga masuk ke dalam kelas dengan wajah mendung. Ranselnya dia taruh diatas meja dengan agak keras sampai beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh.“Woilah, Jin!” Kayla langsung mendekat. “Asisten pribadi Kakek Akmal kemarin telepon aku. Katanya kamu gak balik ke rumah. Duh, aku sampai gemeteran jawabnya.”Jingga—atau Jin, panggilan dari teman-temannya karena dia menganggap dirinya istri Kim Seok Jin—memasang wajah memelas. “Sialan si Karen itu. Dia berusaha menjebakku lagi. Dan aku hampir saja masuk perangkapnya.”“Kok bisa? Biasanya kamu gak pernah terpancing sama umpan kakak tirimu.”“Gara-gara dia nyebut nama Sean, aku jadi tertarik buat ketemu.”“Sean lagi, Sean lagi. Udah aku bilang, dia gak akan kenapa-napa. Sean itu anak kesayangan mamamu.”“Untung saja aku ketemu om-om baik hati yang nolongin aku waktu orang suruhan Karen mau membawaku ke hotel.”“Karen masukin obat ke minumanmu lagi?”“Hm, bodohnya aku malah menghabiskannya sampai tandas, tanpa rasa curiga.”“Ck, harusnya
Jingga membuka pintu rumah dengan perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan Kakek dan Neneknya tak menunggunya di ruang tamu. Suasana terlihat sepi. Dia pun tersenyum lega, lalu masuk dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara.Dengan langkah setenang mungkin, Jingga melangkah menuju tangga. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama ketika—“Jingga Langkana Nayara!”Tubuh Jingga membeku. Suara Nenek Resti tiba-tiba menggema dari arah taman belakang.“Sini, sarapan dulu,” ujar Nenek Resti, pelan, namun terdengar mengerikan di telinga Jingga.Jingga memejamkan mata, menghela nafas panjang, lalu membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.Dengan ceria, Jingga berjalan menuju taman belakang. Wajahnya tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, di dalam hatinya berkecamuk kecemasan karena semalam dia tidak pulang ke rumah.“Pagi, Nenek, Kakek,” sapanya ceria sambil mengecup pipi Nenek Resti dan Kakek Akmal secara bergantian. Dia kemudian duduk di ku
Jingga membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri. Dia menatap langit-langit yang terasa asing dengan sorot bingung.‘Ini dimana?’Ingatannya perlahan melayang ke malam sebelumnya—saat Karen, menghubunginya dan meminta bertemu untuk membicarakan perihal kesehatan Sean.Hampir dua bulan Jingga tak pernah bertemu dan tak bisa menghubungi Sean. Meski mereka tak tinggal serumah, Jingga justru sangat dekat dengan adik tirinya itu. Sean selalu baik padanya—sangat berbeda dengan Karen, kakak tiri yang manipulatif.Sesampainya di club, Karen sama sekali tak mau memberi tahu apapun tentang keadaan Sean. Setelah perdebatan panjang—Jingga kesal dan asal saja meraih gelas di atas meja dan meneguk isinya hingga tandas.Saat tubuhnya mulai terasa aneh, Karen menariknya ke lantai dansa. Jingga akhirnya berhasil keluar dari kerumunan dengan tubuh lemas, hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang pria.‘Astaga, semalam aku sampai gelendotan sama Om-Om ganteng!’Panik, Jingga langsung membuka s
Musik club berdentam keras, tapi Jingga hampir tak mendengarnya lagi. Kepalanya berputar, tubuhnya terasa terbakar dari dalam. Dia tersandung keluar dari kerumunan jika tak berpegangan pada dinding pasti sudah tersungkur ke lantai.“Tolong—” ujarnya pada siapa saja yang lewat.Sagara baru saja keluar dari ruang VIP ketika seorang gadis hampir jatuh ke pelukannya. Refleks, dia menangkap tubuh itu. Jingga mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca dan kedua pipinya memerah. “Panas, Om, tolong aku—”Sagara mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis mencoba menggodanya dengan pura-pura mabuk. Enggan menanggapi, dia hendak memanggil petugas keamanan club. Namun, sebelum itu terjadi, dia mendengar suara dari arah bar.“Cepat bawa dia ke hotel sebelum pengaruh obatnya hilang!”“Kamu sudah gila! Bagaimana kalau kakeknya yang kaya itu tahu? Perusahaan keluargaku bisa hancur.”“Tenang saja. Pak Akmal Langkana tidak akan tahu.”Darah Sagara mendidih. Dia menoleh tajam ke arah sumber







