LOGINAku terpaksa menikah diam-diam dengan dosen killer yang juga pembimbing skripsiku—di kampus dia menguliti setiap kesalahanku dengan tatapan tajam, tapi suatu malam di rumah dia menahanku di meja belajar sambil berbisik rendah, “Di kelas kamu mahasiswaku… tapi di rumah, Jingga, jangan pura-pura polos kalau kamu sendiri yang membuatku kehilangan kendali.”
View MoreLampu kamar sengaja diredupkan karena Jingga mengeluh pusing setiap kali terkena cahaya terang. Suhu tubuhnya memang sudah mulai turun, tapi rasa tidak nyaman itu masih tersisa. Kayla duduk di tepi ranjang, menatap sahabatnya yang bersandar lemah pada bantal dengan wajah pucat. “Masih sakit, Jin?” tanyanya lembut, sambil merapikan anak rambut yang menempel di kening Jingga. Jingga mengangguk pelan. “Sudah agak mendingan, Kay… tapi tadi payudaraku terasa penuh banget. Sakitnya sampai bikin aku nangis.” “Kakak sama adik terakhir nyusu jam berapa?” tanya Kayla. “Setelah kamu sama Kak Gava pergi,” jawab Jingga. “Tiba-tiba saja payudaraku terasa nyeri. Disentuh sedikit saja sakit banget… jadi terpaksa si kembar minum stok ASI.” Kayla mengangguk paham. “Belum berani coba nyusuin lagi? Kata Nenek Resti, harus tetap disusui biar cepat membaik.” “Aku takut sakit, Kay—” “Aku temenin,” sahut Kayla cepat. “Nanti aku bantu pijat juga. Gimana?” Jingga terdiam sejenak, lalu akhirnya
“Non Kay, mau makan malam apa?” tanya Bibi.Kayla yang sedang menggendong Dipta berpikir sejenak. Sepertinya dia memang akan menginap di rumah sahabatnya. Tadi Nenek Resti mengirim pesan, mengatakan beliau tidak bisa kembali ke Solo malam ini karena besok masih harus menghadiri kondangan temannya di Semarang.“Samakan saja seperti biasanya, Bi,” jawab Kayla akhirnya. “Aku nggak pilih-pilih makanan, kok.”Bibi yang sedang menjaga Rendra—yang tertidur di atas sofa bed—mengangguk pelan. “Iya, Non. Tadi Den Saga minta Bibi tanya, siapa tahu Non punya makanan yang nggak disuka atau alergi.”“Aku sih nggak punya alergi makanan, Bi. Cuma alergi itu tuh—” Kayla mendongak, menunjuk ke arah Bhargava yang baru saja keluar dari lift.“Non Kayla ini—” gumam Bibi sambil menahan senyum. Dia lalu bangkit dari sofa dan pamit kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.Sebelum duduk, Bhargava menyempatkan diri mencium pipi Dipta yang sejak tadi belum juga mau tidur.Refleks, Kayla langsung memundurk
Sudah tiga hari Kayla dan Bhargava selalu bersama. Bukan karena mereka sudah bersatu… jelas bukan.Melainkan karena keduanya mendapat tugas membantu persiapan acara aqiqah si kembar.Pradipta Jayendra Zaidan dan Harendra Adinata Zaidan—dua bayi mungil yang kini berusia 36 hari—akan diaqiqahi lusa. Persiapannya pun dilakukan dengan totalitas sekali.Para saudara dan sahabat kedua orang tua mereka dilibatkan. Bahkan Sagara sampai menjuluki semuanya sebagai Tim Hore.Sore ini, Kayla tengah berada di panti asuhan. Dia datang membawa pakaian muslim untuk anak-anak yang akan ikut hadir dan memeriahkan acara Dipta serta Rendra.Tentu saja, dia tidak sendiri. Bhargava ikut menemaninya, membawa banyak makanan dan mainan untuk anak-anak panti.“Terima kasih ya, Nak Kayla,” ujar Bunda Aisyah hangat. “Malah jadi merepotkan Mbak dan Nak Gava tiap ke sini.”“Bunda jangan bilang begitu, dong,” sahut Kayla manja. “Kami justru senang bisa ketemu adik-adik di sini. Apalagi kalau lihat mereka senyum… du
Rencana Kayla untuk kabur dari Bhargava gagal total karena kini Bu Safa ikut ‘menempel’ padanya.Wanita paruh baya itu beralasan sedang bosan di rumah karena suaminya sedang ke luar kota. Jadi, dia ingin mengajak Kayla ke mall untuk berbelanja.Sementara Bhargava ikut diseret dengan alasan dijadikan asisten dadakan untuk membawa semua barang belanjaan.Tadi, Kayla sempat beralasan harus pulang cepat karena ingin menyelesaikan revisi skripsinya. Tapi, dengan santainya Bu Safa justru menelepon ibundanya dan meminta izin mengajaknya jalan-jalan, bahkan berjanji akan mengantarnya pulang tepat waktu.Alhasil, sekarang Kayla berdiri di sebuah toko tas branded.Dia berjalan di samping Bu Safa yang tampak begitu bersemangat memilihkan tas untuknya.“Buat ke kampus, ini cocok ya, Sayang,” ujar Bu Safa sambil menunjuk sebuah ransel hitam. “Atau mau yang di sebelahnya?”“Aku bulan kemarin baru beli tas, Tante. Lagipula di rumah juga sudah banyak tas dan jarang aku pakai,” jawab Kayla, mencoba me
Sagara meringis menahan nyeri saat Jingga menekan luka gores di lehernya—luka akibat ulah brutal Sasya. Meskipun cara sang istri mengobatinya sama sekali tidak lembut, bagi Sagara itu sudah termasuk berkah. Setidaknya dia tidak ditendang keluar kamar dan berakhir tidur di kamar tamu.“Kok bisa sih
Jingga bangun tidur dengan tubuh terasa sangat segar. Dia berguling ke kanan, membenamkan wajahnya ke bantal sejenak, lalu meraih ponsel di atas nakas.Akhir pekan ini, dia sudah punya janji dengan ibu mertuanya untuk mencari kado ulang tahun Sagara.Rencana itu sengaja dirahasiakan dari suaminya.
Jingga kini duduk di atas pangkuan suaminya. Piyamanya sudah tergeletak di lantai, menyisakan bra putih berenda yang masih melekat di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, dengan nafas yang masih tersengal setelah ciuman panas dan panjang. Dia menatap Sagara dengan bibir mengerucut. “Aku berasa
Kedua mata Jingga menatap awas ke arah Sagara yang sedang membantu Nenek Resti memindahkan bonsai ke dalam pot yang lebih besar. Tak ada yang tampak aneh dari suaminya itu. Gerak-geriknya biasa saja… tetap tenang seperti biasa, bahkan sesekali tersenyum ketika Nenek Resti menyapa para bunganya. N
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore