LOGINAku terpaksa menikah diam-diam dengan dosen killer yang juga pembimbing skripsiku—di kampus dia menguliti setiap kesalahanku dengan tatapan tajam, tapi suatu malam di rumah dia menahanku di meja belajar sambil berbisik rendah, “Di kelas kamu mahasiswaku… tapi di rumah, Jingga, jangan pura-pura polos kalau kamu sendiri yang membuatku kehilangan kendali.”
View MoreRencana Kayla untuk kabur dari Bhargava gagal total karena kini Bu Safa ikut ‘menempel’ padanya.Wanita paruh baya itu beralasan sedang bosan di rumah karena suaminya sedang ke luar kota. Jadi, dia ingin mengajak Kayla ke mall untuk berbelanja.Sementara Bhargava ikut diseret dengan alasan dijadikan asisten dadakan untuk membawa semua barang belanjaan.Tadi, Kayla sempat beralasan harus pulang cepat karena ingin menyelesaikan revisi skripsinya. Tapi, dengan santainya Bu Safa justru menelepon ibundanya dan meminta izin mengajaknya jalan-jalan, bahkan berjanji akan mengantarnya pulang tepat waktu.Alhasil, sekarang Kayla berdiri di sebuah toko tas branded.Dia berjalan di samping Bu Safa yang tampak begitu bersemangat memilihkan tas untuknya.“Buat ke kampus, ini cocok ya, Sayang,” ujar Bu Safa sambil menunjuk sebuah ransel hitam. “Atau mau yang di sebelahnya?”“Aku bulan kemarin baru beli tas, Tante. Lagipula di rumah juga sudah banyak tas dan jarang aku pakai,” jawab Kayla, mencoba me
“Apa sih, Kak! Nggak mau ngalah banget sama cewek. Dari tadi bawaannya ngajak gelut terus,” omel Kayla saat tidak kebagian menggendong salah satu anak Jingga.Sementara yang jadi tersangka justru bersikap cuek. Seolah apa yang dilakukannya itu sangat wajar.“Kamu belum bisa gendong bayi. Jadi nggak usah, daripada jatuh,” ujar Bhargava.“Eh, kok meremehkan gitu?!” Kayla tak terima. Tangannya langsung berkacak pinggang. “Gini-gini aku sering dititipin ponakan, loh, ya!”“Masak?”Nada datar itu justru membuat emosi Kayla semakin naik. Namun, dia tak bisa menjambak atau mencubit pria itu karena Bhargava sedang menggendong si adik.“Udah, gantian kan bisa,” sela Sagara yang mulai pusing mendengar keributan dua tamunya sore ini. “Lagian ada dua, masa masih kurang sih?”Tangan Kayla langsung menunjuk Bhargava. “Dia tuh, Kak! Serakah banget! Dari tadi gendong terus, nggak mau gantian.”Bhargava hanya mengedikkan bahu, tetap menimang si adek yang sudah terlelap di pelukannya. Sementara si kaka
Sagara turun dari mobil bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti. Dia langsung berlari menuju ruang perawatan dengan wajah panik.Saat menerima telepon dari Damar tentang kondisi istrinya yang akan melahirkan, dia sedang memimpin rapat. Tanpa pikir panjang, Sagara langsung menghentikan rapat saat itu juga.Sesampainya di depan ruang perawatan, dia melihat Pak Kais dan Kakek Akmal sedang berbicara dengan Dante.“Ga, cepat banget kamu datangnya,” ujar Pak Kais saat melihat putranya.Sagara mengatur nafasnya sejenak sebelum menjawab, “Gimana keadaan Jingga, Yah?”“Sudah pembukaan tiga. Dia ada di dalam ditemani Ibu dan Nenek Resti,” jawab Pak Kais, memahami betul kekhawatiran yang dirasakan Sagara.Sebelum masuk dia sempat menatap ke arah kakak sepupunya yang terlihat pucat wajahnya. Namun dia tak bertanya kenapa, pasalnya Dante memang sering mengabaikan kesehatannya demi menolong para pasiennya. Ditambah lagi, akhir-akhir ini nasibnya seperti Bhargava yang dikejar-kejar pertan
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, usia kandungan Jingga sudah memasuki trimester terakhir. Dokter bahkan sudah mengatakan bahwa HPL-nya sangat dekat dan menyarankannya untuk mulai mengambil cuti.Namun, Jingga tetap bersikeras masuk kantor. Perusahaannya sedang mengerjakan mega proyek pertamanya sejak dia bergabung secara aktif di perusahaan keluarga Langkana.Sagara yang memahami euforia yang dirasakan istrinya, akhirnya mengalah—meski dengan berat hati. Tapi tentu saja, dia tidak melepas Jingga begitu saja. Dia terus memantau lewat Damar, yang hampir selalu berada di sisi Jingga selama di kantor.Siang ini, Jingga sempat merasakan perutnya sedikit mulas.Dia menganggap itu hanya kontraksi palsu seperti yang pernah dia rasakan sebelumnya—dan akan hilang jika dia beristirahat sejenak.Dan benar saja. Setelah berbaring sekitar lima menit di ruangannya, rasa mulas itu perlahan menghilang.Jingga menarik nafas lega, lalu bangkit. “Syukurlah sudah mereda sakitnya,” gumamnya pelan.T
Ciuman Sagara mulai turun ke tengkuk Jingga, sementara tangannya tetap berada di atas dada istrinya dengan gerakan pelan namun penuh tuntutan. Jingga refleks menahan nafas. “Mas—” tegurnya lirih, mencoba mengingatkan suaminya agar tak kelewat batas. Sagara tidak membalas… bibirnya masih sibuk
“Pelan-pelan, Jin Kamu kayak orang nggak makan tiga hari.” Kayla menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya yang makan dengan kecepatan tinggi. “Lagian kelas Prof. Sagara udah selesai, kan?”Jingga tak menjawab. Setelah menelan satu suapan, dia langsung memasukkan suapan berikutnya. Me
Dante baru saja masuk ke dalam ruang kerja Senada dan langsung dikejutkan oleh keberadaan Sagara yang tengah memangku keponakannya, Safaraz. Sementara si empunya ruangan sedang makan siang bersama sang suami, Aryan. “Bukannya kamu harus istirahat di rumah?” ujar Dante setelah duduk di sofa sebera
Suasana kediaman Eyang Maya, khususnya di bagian dapur, sangat ramai setelah kedatangan Jingga. Suara alat masak beradu, minyak panas dimasuki sesuatu, hingga terikan Bibi saat melihat gadis itu memecahkan telur hingga cangkangnya ikut trecampur.Entah menjadi berkah atau justru musibah bagi Eyang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore