LOGINAku terpaksa menikah diam-diam dengan dosen killer yang juga pembimbing skripsiku—di kampus dia menguliti setiap kesalahanku dengan tatapan tajam, tapi suatu malam di rumah dia menahanku di meja belajar sambil berbisik rendah, “Di kelas kamu mahasiswaku… tapi di rumah, Jingga, jangan pura-pura polos kalau kamu sendiri yang membuatku kehilangan kendali.”
View MoreSudah tiga hari Kayla dan Bhargava selalu bersama. Bukan karena mereka sudah bersatu… jelas bukan.Melainkan karena keduanya mendapat tugas membantu persiapan acara aqiqah si kembar.Pradipta Jayendra Zaidan dan Harendra Adinata Zaidan—dua bayi mungil yang kini berusia 36 hari—akan diaqiqahi lusa. Persiapannya pun dilakukan dengan totalitas sekali.Para saudara dan sahabat kedua orang tua mereka dilibatkan. Bahkan Sagara sampai menjuluki semuanya sebagai Tim Hore.Sore ini, Kayla tengah berada di panti asuhan. Dia datang membawa pakaian muslim untuk anak-anak yang akan ikut hadir dan memeriahkan acara Dipta serta Rendra.Tentu saja, dia tidak sendiri. Bhargava ikut menemaninya, membawa banyak makanan dan mainan untuk anak-anak panti.“Terima kasih ya, Nak Kayla,” ujar Bunda Aisyah hangat. “Malah jadi merepotkan Mbak dan Nak Gava tiap ke sini.”“Bunda jangan bilang begitu, dong,” sahut Kayla manja. “Kami justru senang bisa ketemu adik-adik di sini. Apalagi kalau lihat mereka senyum… du
Rencana Kayla untuk kabur dari Bhargava gagal total karena kini Bu Safa ikut ‘menempel’ padanya.Wanita paruh baya itu beralasan sedang bosan di rumah karena suaminya sedang ke luar kota. Jadi, dia ingin mengajak Kayla ke mall untuk berbelanja.Sementara Bhargava ikut diseret dengan alasan dijadikan asisten dadakan untuk membawa semua barang belanjaan.Tadi, Kayla sempat beralasan harus pulang cepat karena ingin menyelesaikan revisi skripsinya. Tapi, dengan santainya Bu Safa justru menelepon ibundanya dan meminta izin mengajaknya jalan-jalan, bahkan berjanji akan mengantarnya pulang tepat waktu.Alhasil, sekarang Kayla berdiri di sebuah toko tas branded.Dia berjalan di samping Bu Safa yang tampak begitu bersemangat memilihkan tas untuknya.“Buat ke kampus, ini cocok ya, Sayang,” ujar Bu Safa sambil menunjuk sebuah ransel hitam. “Atau mau yang di sebelahnya?”“Aku bulan kemarin baru beli tas, Tante. Lagipula di rumah juga sudah banyak tas dan jarang aku pakai,” jawab Kayla, mencoba me
“Apa sih, Kak! Nggak mau ngalah banget sama cewek. Dari tadi bawaannya ngajak gelut terus,” omel Kayla saat tidak kebagian menggendong salah satu anak Jingga.Sementara yang jadi tersangka justru bersikap cuek. Seolah apa yang dilakukannya itu sangat wajar.“Kamu belum bisa gendong bayi. Jadi nggak usah, daripada jatuh,” ujar Bhargava.“Eh, kok meremehkan gitu?!” Kayla tak terima. Tangannya langsung berkacak pinggang. “Gini-gini aku sering dititipin ponakan, loh, ya!”“Masak?”Nada datar itu justru membuat emosi Kayla semakin naik. Namun, dia tak bisa menjambak atau mencubit pria itu karena Bhargava sedang menggendong si adik.“Udah, gantian kan bisa,” sela Sagara yang mulai pusing mendengar keributan dua tamunya sore ini. “Lagian ada dua, masa masih kurang sih?”Tangan Kayla langsung menunjuk Bhargava. “Dia tuh, Kak! Serakah banget! Dari tadi gendong terus, nggak mau gantian.”Bhargava hanya mengedikkan bahu, tetap menimang si adek yang sudah terlelap di pelukannya. Sementara si kaka
Sagara turun dari mobil bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti. Dia langsung berlari menuju ruang perawatan dengan wajah panik.Saat menerima telepon dari Damar tentang kondisi istrinya yang akan melahirkan, dia sedang memimpin rapat. Tanpa pikir panjang, Sagara langsung menghentikan rapat saat itu juga.Sesampainya di depan ruang perawatan, dia melihat Pak Kais dan Kakek Akmal sedang berbicara dengan Dante.“Ga, cepat banget kamu datangnya,” ujar Pak Kais saat melihat putranya.Sagara mengatur nafasnya sejenak sebelum menjawab, “Gimana keadaan Jingga, Yah?”“Sudah pembukaan tiga. Dia ada di dalam ditemani Ibu dan Nenek Resti,” jawab Pak Kais, memahami betul kekhawatiran yang dirasakan Sagara.Sebelum masuk dia sempat menatap ke arah kakak sepupunya yang terlihat pucat wajahnya. Namun dia tak bertanya kenapa, pasalnya Dante memang sering mengabaikan kesehatannya demi menolong para pasiennya. Ditambah lagi, akhir-akhir ini nasibnya seperti Bhargava yang dikejar-kejar pertan
Sagara meringis menahan nyeri saat Jingga menekan luka gores di lehernya—luka akibat ulah brutal Sasya. Meskipun cara sang istri mengobatinya sama sekali tidak lembut, bagi Sagara itu sudah termasuk berkah. Setidaknya dia tidak ditendang keluar kamar dan berakhir tidur di kamar tamu.“Kok bisa sih
Jingga bangun tidur dengan tubuh terasa sangat segar. Dia berguling ke kanan, membenamkan wajahnya ke bantal sejenak, lalu meraih ponsel di atas nakas.Akhir pekan ini, dia sudah punya janji dengan ibu mertuanya untuk mencari kado ulang tahun Sagara.Rencana itu sengaja dirahasiakan dari suaminya.
Jingga kini duduk di atas pangkuan suaminya. Piyamanya sudah tergeletak di lantai, menyisakan bra putih berenda yang masih melekat di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, dengan nafas yang masih tersengal setelah ciuman panas dan panjang. Dia menatap Sagara dengan bibir mengerucut. “Aku berasa
Kedua mata Jingga menatap awas ke arah Sagara yang sedang membantu Nenek Resti memindahkan bonsai ke dalam pot yang lebih besar. Tak ada yang tampak aneh dari suaminya itu. Gerak-geriknya biasa saja… tetap tenang seperti biasa, bahkan sesekali tersenyum ketika Nenek Resti menyapa para bunganya. N






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore