LOGINAku terpaksa menikah diam-diam dengan dosen killer yang juga pembimbing skripsiku—di kampus dia menguliti setiap kesalahanku dengan tatapan tajam, tapi suatu malam di rumah dia menahanku di meja belajar sambil berbisik rendah, “Di kelas kamu mahasiswaku… tapi di rumah, Jingga, jangan pura-pura polos kalau kamu sendiri yang membuatku kehilangan kendali.”
View MoreMusik club berdentam keras, tapi Jingga hampir tak mendengarnya lagi. Kepalanya berputar, tubuhnya terasa terbakar dari dalam. Dia tersandung keluar dari kerumunan jika tak berpegangan pada dinding pasti sudah tersungkur ke lantai.
“Tolong—” ujarnya pada siapa saja yang lewat. Sagara baru saja keluar dari ruang VIP ketika seorang gadis hampir jatuh ke pelukannya. Refleks, dia menangkap tubuh itu. Jingga mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca dan kedua pipinya memerah. “Panas, Om, tolong aku—” Sagara mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis mencoba menggodanya dengan pura-pura mabuk. Enggan menanggapi, dia hendak memanggil petugas keamanan club. Namun, sebelum itu terjadi, dia mendengar suara dari arah bar. “Cepat bawa dia ke hotel sebelum pengaruh obatnya hilang!” “Kamu sudah gila! Bagaimana kalau kakeknya yang kaya itu tahu? Perusahaan keluargaku bisa hancur.” “Tenang saja. Pak Akmal Langkana tidak akan tahu.” Darah Sagara mendidih. Dia menoleh tajam ke arah sumber suara—seorang wanita tengah berbisik pada pria berjas. Mereka tersenyum licik sambil saling menatap. “Sial!” dengkusnya. Tanpa pikir panjang, Sagara merangkul Jingga dan membawanya keluar dari club. — Di dalam mobil, Jingga terus meracau tak jelas. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. “Kamu tinggal dimana?” tanya Sagara sambil menyetir. “Om, tolong. Rasanya panas banget! Aku gak kuat! Minta air es—” Jingga menggeliat gelisah. Sagara mengumpat pelan. Tak ada pilihan. Dia memutar stir menuju apartemennya. Sepanjang perjalanan, Jingga makin tak terkendali. Beberapa kali tangannya kembali meraih kemejanya sendiri, membuat Sagara terpaksa menepikan mobil di pinggir jalan. “Kamu ini kenapa datang ke club kalau tidak biasa minum, ha?” hardiknya tertahan. “Nenek—” rengek Jingga lirih, kepalanya terkulai. Sagara menghela nafas panjang. Dia mengambil selimut dari jok belakang lalu membungkus tubuh Jingga agar perempuan itu behenti meronta. AC mobil dinyalakan lebih dingin agar Jingga tak semakin kepanasan. “Dasar kakak tiri jahat!” racau Jingga sambil meringis. “Awas aja kalau ketemu lagi. Aku jambak rambutmu sampai botak!” Sagara mendengkus kesal. “Ternyata bar-bar juga,” gumamnya pelan. Setelah memastikan Jingga sedikit lebih tenang, dia kembali menjalankan mobil, melaju kencang menuju apartemennya. Begitu pintu apartemen terbuka, Jingga hampir terjatuh lagi. Sagara menggendongnya masuk, berniat membaringkannya di sofa. Tapi Jingga mencengkeram kemejanya erat. “Om, jangan tinggalin aku. Kakak tiriku yang jahat itu berencana merusakku.” “Dengar, kamu harus—” Sebelum Sagara sempat menyelesaikan kalimatnya, Jingga tanpa sadar menarik kemejanya dengan kasar hingga seluruh kancingnya copot dan berjatuhan ke lantai. “Astaga, gadis ini benar-benar!” Sagara menangkap tangan Jingga, tapi gadis itu malah menatapnya dengan mata berkabut, lalu tiba-tiba menarik tengkuknya dan mencium bibirnya. Dia terkejut. Saat hendak mendorong Jingga dan menghentikan ciuman itu, sesuatu yang tak dia pahami justru menahanya. Entah setan dari mana yang merasukinya, Sagara malah terbuai oleh kelembutan bibir gadis yang masih dalam gendongannya. Kedua kakinya refleks melangkah menuju kamar tamu. Ciuman itu terus berlanjut, diiringi suara decakan pelan yang menggema di ruangan sunyi itu. “Ahhh,” lenguhan Jingga sontak mengembalikan sedikit kesadaran Sagara. Nafasnya memburu. Dia mengangkat kepala, menatap gadis yang kini terbaring di bawah kungkungannya. “Shit!” umpat Sagara. “Om—” rengek Jingga dengan mata sayu. Namun alih-alih menjauh, Sagara kembali mengecup bibir Jingga. Ciuman itu semakin dalam, merambat ke tengkuk gadis itu, disertai gigitan dan hisapan. “Ahhh,” desah Jingga. Dia mendongakkan kepala, jari-jarinya mencengkeram rambut Sagara tanpa sadar. Tangan Sagara pun tak tinggal diam. Dia mulai menjelajah gundukan kembar milik gadis itu, sementara bibirnya terus mengecup setiap inci tengkuknya. Sagara datang ke club itu hanya untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Dia bukan tipe pria yang gemar berada di tempat seperti itu tanpa alasan penting. Malam ini pun dia sama sekali tidak menyentuh alkohol karena harus menyetir. Namun, kelakuannya sekarang justru terasa seperti seorang yang sedang mabuk berat—kehilangan kendali atas dirinya sendiri. ‘Kenapa gadis ini membuatku seperti orang gila?’ batin Sagara kalut. Dia menatap Jingga yang terbaring di hadapannya, nafas gadis itu tak beraturan, wajahnya memerah dengan mata yang setengah terpejam. Penampilan acak-acakan Jingga semakin membuat pikirannya semakin kacau, logikanya seolah terkikis habis. Sagara mengepalkan tangan, berusaha menarik diri, namun tubuh Jingga bergerak pelan, melengkung seolah mencari sandaran. Desahan lirih itu membuat dadanya sesak—antara keinginan dan kesadaran saling bertabrakan. “Brengsek!” umpatan itu terdengar seperti peringatan untuk dirinya sendiri. Jingga menarik kemeja Sagara, mengangkat kepalanya, lalu kembali mencium bibir pria itu. Tak sanggup lagi menahan godaan, Sagara langsung membalasnya. Kali ini dia tak berniat mundur. Ciuman mereka pun kian intens, penuh desakan emosi yang tak lagi terbendung. “Om–ah!” teriak Jingga saat dia merasakan sentuhan dan hisapan yang membuat tubuhnya menegang seketika. Sagara kini bertingkah seperti seseorang yang kehausan, berpindah ke kanan dan kiri, mengecap dan memberi sentuhan diselingi gigitan pelan di area itu. Dia melakukannya dengan hati-hati dan lembut, memastikan gadis yang bahkan tak dikenalnya itu tetap nyaman. “Om, aku mau di atas!” Jingga mendorong tubuh Sagara cukup kuat. Pria itu pun memberi kesempatan, membiarkannya memimpin. Dengan senang hati Sagara membalik posisinya. Jingga dengan penampilan acak-acakan justru terlihat begitu memikat di mata Sagara. Gadis itu mencium bibirnya dengan lembut, lalu semakin berani hingga menyelipkan lidahnya. Kemampuan berciuman yang amatir tiba-tiba berubah lihai, Jingga kini tahu betul apa yang dilakukannya. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Sagara satu persatu. Setelah itu, ciumannya turun ke leher Sagara, meniru apa yang sebelumnya pria itu lakukan—meninggalkan tanda merah di beberapa tempat. “Arrrgh,” desah Sagara tertahan, sementara kedua tangannya bergerak tanpa sadar, menarik Jingga semakin dekat dengan dadanya, menikmati sensasi yang membuat nafasnya kian tak beraturan. Keduanya terus saling mencumbu, masih menikmati pemanasan yang sama-sama belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Hingga tiba-tiba, suara ponsel di saku celana Sagara berdering, menjeda kegiatan panasnya. Sebelum mengambil ponselnya, Sagara mengangkat wajah Jingga yang masih berada di ceruk lehernya. Dia mengecup singkat bibir mungil yang mulai membengkak itu, lalu membaringkan kembali gadis itu sebelum beranjak dari ranjang. Jingga merengek, tak ingin ditinggal. Sagara mengangkat dan membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman, lalu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Setelah memastikan jingga tenang, dia melangkah menuju balkon. “Dimana kamu, Ga? Acara baru dimulai,” tanya sahabat Sagara, Bhargava. “Apartemen,” jawabnya singkat. “Tadi ada yang lihat kamu keluar sama cewek. Siapa dia?” “Bukan siapa-siapa. Cuma gak sengaja ketabrak,” balas Sagara datar. “Oh,” balas Gava. “Ada—” “Om,” panggil Jingga sambil memeluk Sagara dari belakang. “Panas banget. AC-nya mati ya?” “Siapa itu, Ga?! Kamu beneran bawa cewek ke apartemen?! Wah, gila. Mulai nakal kamu!” Tut… tut… Sagara langsung mematikan telepon. Dia berbalik, lalu menggendong Jingga dengan satu gerakan cepat. “Kamu yang nakal, gadis kecil. Bukan aku,” gumamnya sebelum mengecup singkat bibir Jingga.Kayla dan Bhargava baru saja selesai mandi. Hari yang panjang akhirnya berakhir juga.Setelah berganti dengan piyama couple, keduanya bersiap untuk beristirahat di kamar hotel yang telah disiapkan khusus untuk pengantin baru.Kayla lebih dulu naik ke atas ranjang. Tubuhnya langsung tenggelam di antara selimut tebal dan bantal empuk. “Akhirnya bisa rebahan juga. Capek banget—” gumamnya sambil memejamkan mata.Bhargava yang baru selesai memeriksa ponselnya ikut berbaring di samping sang istri. “Untung saja kita bisa kabur dari tempat resepsi, Hon.”Baru saja pria itu memeluk istrinya dari belakang—Tok.Tok.Tok.Suara ketukan pintu membuat keduanya mengernyit.“Siapa malam-malam begini yang berani gangguin pengantin baru?” gerutu Bhargava.“Buka aja, Bee. Siapa tahu penting,” ujar Kayla. Dengan malas, Bhargava turun dari ranjang lalu berjalan menuju pintu.Begitu pintu dibuka—Pria itu langsung membeku.Di depan sana berdiri Sagara dengan wajah kusut. Dan di pelukannya ada Rendra yang
Pintu ballroom perlahan terbuka.Kayla melangkah masuk berdampingan dengan Bhargava di tengah gemerlap cahaya dan tepuk tangan para tamu undangan. Gaun resepsi berwarna putih gading yang dirancang khusus untuknya jatuh anggun membalut tubuhnya. Detail kristal Swarovski yang menghiasi gaun berkilau indah setiap kali terkena sorot lampu.Di sampingnya, Bhargava tampil gagah dalam setelan jas hitam yang dipadukan dengan rompi dan dasi berwarna senada. Tatapannya sesekali beralih ke arah sang istri dengan senyum yang sulit disembunyikan. Hari yang selama ini dia tunggu akhirnya benar-benar tiba.Di belakang mereka berjalan para sahabat yang turut menjadi bagian penting dalam perjalanan cinta keduanya. Sagara menggandeng lengan Jingga, sementara Dante berjalan berdampingan dengan Mataya. Tak jauh di belakang, Aryan dan Senada mengikuti dengan senyum yang tak kalah bahagia.Ballroom tampak begitu megah malam ini. Ribuan tamu memenuhi hampir seluruh area yang telah dihias dengan bunga-bunga
“Sah?”“Sah!”Suara Pak Kais dan Pak Pandu menggema hampir bersamaan di dalam ballroom.“Sah!”“Sah!”“Sah!”Kalimat itu kembali terdengar dari berbagai penjuru ruangan.Lantang.Tegas.Dan penuh kelegaan.Dalam hitungan detik, suasana ballroom yang sebelumnya tegang berubah menjadi haru.Beberapa tamu terlihat menghembuskan nafas lega. Sebagian lainnya langsung mengangkat tangan mengucapkan syukur. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam menyeka sudut matanya.Momen yang selama ini dinantikan akhirnya tiba.Setelah perjalanan panjang yang penuh lika-liku, dua insan yang sempat dipisahkan oleh berbagai keadaan kini resmi dipersatukan dalam ikatan yang sakral.Kayla yang duduk di samping Bhargava tak lagi mampu menahan air matanya.Tangis haru perlahan jatuh membasahi pipi yang sudah dirias sempurna. Namun kali ini dia tidak peduli. Karena beberapa detik yang lalu, pria yang selama ini menggenggam tangannya dalam setiap kesulitan kini telah sah menjadi suaminya.Air mata masih membasahi pi
Dulu, Kayla tidak pernah membayangkan seperti apa hari pernikahannya akan datang. Terlalu banyak hal yang harus dia hadapi hingga membuat momen tersebut terasa begitu jauh dan hampir mustahil untuk diraih.Namun waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, hari yang selama ini hanya ada dalam bayangannya akhirnya tiba. Hari ketika dia akan mengucapkan janji seumur hidup bersama pria yang telah berjuang keras untuk mendapatkannya.Ada rasa gugup yang tidak bisa disembunyikan. Bukan karena ragu, melainkan karena semua ini terasa begitu nyata. Setelah berbagai luka, air mata, dan ketakutan yang pernah dia alami, ternyata Tuhan masih menyiapkan kebahagiaan untuknya.Dan pagi ini, saat menatap pantulan dirinya di cermin, Kayla tersenyum. Karena beberapa jam lagi, dia tidak lagi berjalan sendirian. Ada Bhargava yang akan menggenggam tangannya dan menemani setiap langkah hidupnya ke depan.Pintu kamar terbuka pelan saat Kayla sedang duduk di depan meja rias.“Bun—” Kayla langsung tersenyum ket
Sagara meringis menahan nyeri saat Jingga menekan luka gores di lehernya—luka akibat ulah brutal Sasya. Meskipun cara sang istri mengobatinya sama sekali tidak lembut, bagi Sagara itu sudah termasuk berkah. Setidaknya dia tidak ditendang keluar kamar dan berakhir tidur di kamar tamu.“Kok bisa sih
Ciuman Sagara mulai turun ke tengkuk Jingga, sementara tangannya tetap berada di atas dada istrinya dengan gerakan pelan namun penuh tuntutan. Jingga refleks menahan nafas. “Mas—” tegurnya lirih, mencoba mengingatkan suaminya agar tak kelewat batas. Sagara tidak membalas… bibirnya masih sibuk
Sagara tak habis pikir dengan kelakuan Jingga pagi ini… saat langit Kota Solo sedang gelap gulita, disertai petir yang saling bersahutan dia malah memakai kacamata hitam. Kalau syal yang melilit lehernya masih masuk akal jika dia beralasan kedinginan karena hujan turun tiga hari berturut-turut. D
“Bagaimana, Saksi?” tanya penghulu. Para saksi menjawab serempak, “SAH!” Seluruh tamu yang hadir di ballroom pun mengucap, “Alhamdulillah.” Sagara, yang baru saja resmi menjadikan Jingga sebagai istrinya, menunduk sejenak. Dia menyeka air mata yang lolos tanpa permisi. Katanya gak suka Jing






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore