Share

Rencana Kencan Buta

Auteur: Syamwiek
last update Dernière mise à jour: 2026-01-10 11:08:08

Jingga membuka pintu rumah dengan perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan Kakek dan Neneknya tak menunggunya di ruang tamu. Suasana terlihat sepi. Dia pun tersenyum lega, lalu masuk dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara.

Dengan langkah setenang mungkin, Jingga melangkah menuju tangga. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama ketika—

“Jingga Langkana Nayara!”

Tubuh Jingga membeku. Suara Nenek Resti tiba-tiba menggema dari arah taman belakang.

“Sini, sarapan dulu,” ujar Nenek Resti, pelan, namun terdengar mengerikan di telinga Jingga.

Jingga memejamkan mata, menghela nafas panjang, lalu membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.

Dengan ceria, Jingga berjalan menuju taman belakang. Wajahnya tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, di dalam hatinya berkecamuk kecemasan karena semalam dia tidak pulang ke rumah.

“Pagi, Nenek, Kakek,” sapanya ceria sambil mengecup pipi Nenek Resti dan Kakek Akmal secara bergantian.

Dia kemudian duduk di kursi dan menyelipkan paper bag kebawah meja.

Senyum lebarnya tak kunjung pudar—dia menggunakannya untuk menutupi rasa gugup.

“Aku sudah sarapan,” ujarnya cepat.

“Sarapan dimana?” tanya Nenek Resti.

“Di rumah Kayla, Nek.” Kayla adalah sahabatnya sejak TK.

Kakek Akmal menutup tabletnya dan melepas kacamata baca. Kemudian, menatap lekat cucunya.

“Jangan berbohong, Jingga,” ucap Kakek Akmal dingin.

Seperti biasa, Jingga tak pernah bisa berbohong di hadapan dua orang yang paling dia sayangi. Pecuma berpura-pura ceria, karena kakek dan neneknya tahu jika dia sedang takut akibat kesalahan yang diperbuatnya.

“Maaf, semalam aku menginap di rumah teman… gara-gara salah minum sesuatu saat di club,” cicitnya pelan.

“Kamu bertemu lagi dengan anak tiri mamamu,” tebak Nenek Resti. “Dan dia memasukkan obat ke dalam minumanmu?”

Jingga mengangguk. “Iya, Nek.”

“Sudah berapa kali Nenek bilang jangan bertemu lagi dengan orang itu. Otaknya isinya kriminal dan selalu ingin merusak nama baikmu. Tapi kamu tetap saja menemuinya,” ujar Nenek Resti dengan tatapan kecewa.

“Tapi, Nek, aku khawatir dengan keadaan Sean,” balas Jingga.

“Sean tidak akan kenapa-napa. Dia anak kesayangan mamamu dan suami barunya. Untuk apa kamu ikut memikirkannya?” bantah Nenek Resti.

“Nek,” tegur Kakek Akmal.

Nenek Resti menghela nafas kasar. “Jingga, Nenek bukannya tidak suka kamu bertemu Sean. Nenek hanya khawatir hubungan baik kalian dimanfaatkan oleh keluarganya.”

Jingga mengangguk pelan, paham sepenuhnya dengan kekhawatiran sang nenek. Telebih, Karen sudah berulang kali mencoba mencelakainya.

“Maafkan Jingga,” rengeknya sambil memeluk lengan sang nenek.

“Kamu ini hobi banget bikin Nenek gak bisa tidur nyenyak,” omel Nenek Resti, meski nada suaranya tetap lembut.

Jingga pun mengecup pipi neneknya. “Maaf ya. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi.”

“Janji yang keberapa itu, Jingga?” tanya Kakek Akmal.

Entahlah janji yang keberapa. Jingga sendiri pun sudah tak mengingatnya.

“Minum dulu susunya,” ujar Nenek Resti sambil mendorong gelas ke arah Jingga.

“Aku sudah kenyang, Nek. Tadi sempat sarapan sebelum pulang,” jawabnya jujur.

Jingga memang anak yang ceria dan ramah. Tak heran dia punya banyak teman. Karena itu, ketika dia berkata semalam menginap di rumah temannya, kakek dan neneknya tak sampai mencecar—teman yang mana.

“Kalau begitu dengarkan Nenek mau bicara serius,” ujar Nenek Resti.

“Firasatku mengatakan akan ada kabar buruk,” balas Jingga.

“Jangan usah suudzon dulu sama Nenek,” gerutu Nenek Resti.

“Ya gimana, orang Nenek itu penuh kejutan. Aku aja sampai heran—kok bisa punya banyak tenaga buat datang ke orang pintar,” balas Jingga sambil memutar bola mata malas.

“Kebanyakan ngumpul sama teman-temannya,” sahut Kakek Akmal.

Kedua mata Nenek Resti menajam ke arah sang suami. Rencananya bisa gagal jika Kakek Akmal ikut campur, dan itu tak boleh terjadi.

Jingga sudah berusia dua puluh satu tahun. Dia hanya memiliki Kakek dan Nenek yang usianya tak muda lagi dan sering jatuh sakit.

Itulah alasan Nenek Resti begitu gencar menjodohkan Jingga dengan para cucu sahabatnya—agar suatu hari nanti, jika mereka sudah tak ada, masih ada seseorang yang bisa menjaga Jingga.

“Kali ini dukun mana lagi yang Nenek datangi?” tanya Jingga sambil memutar-mutar garpu di piringnya.

“Bukan dukun tapi orang pintar,” elak Nenek Resti.

“Sama aja, Nek,” jawab Jingga. “Jangan kebanyakan bergaul sama teman yang ikut aliran sesat deh, Nek. Ntar Nenek juga ketularan sesat.”

“Jingga!” Nenek Resti mendelik ke arah cucunya.

Malas menanggapi, Jingga memilih memalingkan wajah ke arah kolam renang. Setidaknya dengan begitu, dia bisa segera kabur dari pembahasan perjodohan yang sudah direncanakan neneknya.

“Menurut ramalan weton mu,” ujar Nenek Resti lagi. “Tahun ini waktu paling baik buat kamu menikah.”

“Uhuk—” Jingga tersedak oleh ludahnya sendiri.

Kakek Akmal menyodorkan segelas air putih kepada cucunya, lalu menepuk punggung Jingga pelan.

“Nenek apa-apaan sih?! Percaya banget sama ramalan weton!” Omel Jingga.

“Kita ini orang Jawa—ya memang harus percaya warisan leluhur,” bantah Nenek Resti. “Lagian tahun depan sudah tidak ada hari baik buat kamu. Kalau dilewatkan, harus menunggu dua tahun lagi.”

Jingga menatap Neneknya lama. “Bener kan Nenek sudah masuk aliran sesat.”

“Ngawur kamu!” Nenek Resti melotot galak. “Orang pintar yang Nenek datangi rajin ibadah kok. Gak mungkin kalau dia sesat.”

“Memangnya Nenek tahu? Kalau cuman denger dari cerita, itu kan mudah dikarang,” kata Jingga, masih berusaha menarik Neneknya ke jalan yang menurutnya benar.

Kakek Akmal sudah hafal bahwa perdebatan antara istrinya dan cucunya tak akan selesai dalam waktu singkat. Karena itu, dia memilih menghabiskan sarapan sambil menonton saja.

Percuma saja dia berpendapat—istrinya pasti akan menolak mentah-mentah, dan ujung-ujungnya ngambek selama tiga hari.

“Lagipula aku kan lagi sibuk ngerjain skripsi, Nek,” lanjut Jingga. “Gak ada waktu buat ngurus suami.”

“Kamu bisa dibantu Bibi buat ngurus rumah dan suami. Gak bakalan ganggu skripsimu,” balas Nenek Resti tak mau kalah.

Jingga menarik nafas panjang. ‘Kali ini mau dijodohin sama pria kaya mana lagi sih? Heran, kok bisa Nenek dapat list para perjaka di Jawa Tengah!’

Tinggal bersama Kakek dan Neneknya sejak usia delapan tahun membuat Jingga tumbuh mandiri dan tidak manja. Dia paham, seiring waktu mereka semakin menua. Belum lagi Kakeknya harus mengambil alih lagi perusahaan keluarga setelah Papanya meninggal akibat kecelakaan mobil.

Jingga sebenarnya masih memiliki Mama, tetapi wanita itu memilih tidak merawatnya setelah menikah lagi. Anak tirinya tak suka berbagi kasih perhatian dengan Jingga.

“Pokoknya aku gak mau nikah dalam waktu dekat! Dan, aku juga gak percaya dengan ramalan weton itu!”

“Kenapa gak percaya? Banyak kok anak muda yang nonton live orang pintar itu di tok-tok.”

“Apa?! Jangan bilang Nenek ikutan nonton live dan kasih gift?”

“Memangnya kenapa kalau nonton dan kasih gift? Anggap saja hiburan sekalian sedekah.”

“Astaga, Nek. Jadi Nenek tanya ramalan weton lewat tok-tok?”

“Enggak lah! Nenek hanya menonton saja. Tanya lewat telepon langsung biar tak ada yang terlewat.”

Lalu, Nenek Resti meraih ponsel yang tergeletak di sebelah gelas teh. Dia menggeser layar, kemudian menatap Jingga.

Tak paham dengan maksud tatapan Neneknya, Jingga memicingkan mata.

“Buka email.” Titah Nenek Resti. “Baca dengan teliti!”

Dengan malas, Jingga membuka email yang baru saja dikirim Neneknya. Baru melihat tulisan capslock dan bold saja sudah cukup membuatnya terjingkat kaget.

“Nenek!” teriaknya sambil berdiri dari kursinya. “Gak mungkin aku jadi perawan tua! Cantik, pintar, dan pewaris kaya raya begini, loh.”

Penasaran dengan isi email yang dikirim istrinya hingga membuat cucunya uring-uringan, Kakek Akmal pun mengambil ponsel Jingga yang baru saja dilempar ke atas meja.

Beberapa saat kemudian, Kakek Akmal terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala, heran dengan kelakuan istrinya yang absurd.

“Kalau kamu kebanyakan pilih-pilih, kemungkinan besar bisa jadi perawan tua, Jingga,” ujar Nenek Resti. “Akhir pekan nanti, Nenek sudah mengatur pertemuan kamu dengan cucu Eyang Maya. Dia baru saja pulang dari luar negeri, kini mengambil alih perusahaan keluarga dan juga menjadi dosen. Cocok buat kamu yang pintar, mandiri dan pecicilan.”

Kalau Neneknya sudah memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa membantah.

Jingga pun kehilangan selera untuk berdebat. Dia mengambil ponselnya, memasukkannya ke dalam ransel, lalu mencium tangan Kakek dan Neneknya sebelum pamit masuk ke kamar untuk bersiap ke kampus.

“Pulang sebelum jam 4 sore! Orang dari butik langganan Nenek akan datang membawa beberapa dress untuk kamu coba,” ujar Nenek Resti sambil mengecup kedua pipi cucunya.

“Gak mau! Aku udah janji sama Kayla buat ngerjain tugas!” seru Jingga dengan bibir mencebik.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Ajakan Menikah

    “Jin, pelan-pelan! Nanti kita terpeleset di tangga!” teriak Kayla saat sahabatnya menyeretnya menuruni anak tangga. “Duh, kalau pelan-pelan, nanti bisa barengan lagi sama Om ganteng itu,” keluh Jingga. “Memangnya kamu kenal sama Om ganteng yang tadi di lift?”“Dia yang nolongin aku waktu di club.”“Hah?”Kayla langsung menghentikan langkahnya. Otomatis Jingga ikut terhenti.“Kenapa kamu malah kabur? Harusnya kamu ucapin terimakasih.”“Kay, please deh,” kata Jingga setengah putus asa. “Tiba-tiba dia ada di kampus ini. Kalau dia ternyata dosen atau anggota yayasan, bisa tamat hidupku.”Kayla menggaruk kepalanya. “Iya juga, ya.”“Makanya, ayo kita kabur. Jangan sampai ketemu Om ganteng itu lagi.”“Sayang banget, sih, pria seganteng itu harus dihindari.”Keduanya pun bergegas menuruni tangga, menuju area parkir yang berada di sebelah Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. ***“Nenek!” Jingga berteriak dari lantai dua. “Ini dress-nya ketat banget! Aku sampai susah nafas!”Nenek Resti yang

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Dosbing Baru

    Jingga masuk ke dalam kelas dengan wajah mendung. Ranselnya dia taruh diatas meja dengan agak keras sampai beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh.“Woilah, Jin!” Kayla langsung mendekat. “Asisten pribadi Kakek Akmal kemarin telepon aku. Katanya kamu gak balik ke rumah. Duh, aku sampai gemeteran jawabnya.”Jingga—atau Jin, panggilan dari teman-temannya karena dia menganggap dirinya istri Kim Seok Jin—memasang wajah memelas. “Sialan si Karen itu. Dia berusaha menjebakku lagi. Dan aku hampir saja masuk perangkapnya.”“Kok bisa? Biasanya kamu gak pernah terpancing sama umpan kakak tirimu.”“Gara-gara dia nyebut nama Sean, aku jadi tertarik buat ketemu.”“Sean lagi, Sean lagi. Udah aku bilang, dia gak akan kenapa-napa. Sean itu anak kesayangan mamamu.”“Untung saja aku ketemu om-om baik hati yang nolongin aku waktu orang suruhan Karen mau membawaku ke hotel.”“Karen masukin obat ke minumanmu lagi?”“Hm, bodohnya aku malah menghabiskannya sampai tandas, tanpa rasa curiga.”“Ck, harusnya

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Rencana Kencan Buta

    Jingga membuka pintu rumah dengan perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan Kakek dan Neneknya tak menunggunya di ruang tamu. Suasana terlihat sepi. Dia pun tersenyum lega, lalu masuk dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara.Dengan langkah setenang mungkin, Jingga melangkah menuju tangga. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama ketika—“Jingga Langkana Nayara!”Tubuh Jingga membeku. Suara Nenek Resti tiba-tiba menggema dari arah taman belakang.“Sini, sarapan dulu,” ujar Nenek Resti, pelan, namun terdengar mengerikan di telinga Jingga.Jingga memejamkan mata, menghela nafas panjang, lalu membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.Dengan ceria, Jingga berjalan menuju taman belakang. Wajahnya tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, di dalam hatinya berkecamuk kecemasan karena semalam dia tidak pulang ke rumah.“Pagi, Nenek, Kakek,” sapanya ceria sambil mengecup pipi Nenek Resti dan Kakek Akmal secara bergantian. Dia kemudian duduk di ku

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Hampir Saja

    Jingga membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri. Dia menatap langit-langit yang terasa asing dengan sorot bingung.‘Ini dimana?’Ingatannya perlahan melayang ke malam sebelumnya—saat Karen, menghubunginya dan meminta bertemu untuk membicarakan perihal kesehatan Sean.Hampir dua bulan Jingga tak pernah bertemu dan tak bisa menghubungi Sean. Meski mereka tak tinggal serumah, Jingga justru sangat dekat dengan adik tirinya itu. Sean selalu baik padanya—sangat berbeda dengan Karen, kakak tiri yang manipulatif.Sesampainya di club, Karen sama sekali tak mau memberi tahu apapun tentang keadaan Sean. Setelah perdebatan panjang—Jingga kesal dan asal saja meraih gelas di atas meja dan meneguk isinya hingga tandas.Saat tubuhnya mulai terasa aneh, Karen menariknya ke lantai dansa. Jingga akhirnya berhasil keluar dari kerumunan dengan tubuh lemas, hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang pria.‘Astaga, semalam aku sampai gelendotan sama Om-Om ganteng!’Panik, Jingga langsung membuka s

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Malam Panas

    Musik club berdentam keras, tapi Jingga hampir tak mendengarnya lagi. Kepalanya berputar, tubuhnya terasa terbakar dari dalam. Dia tersandung keluar dari kerumunan jika tak berpegangan pada dinding pasti sudah tersungkur ke lantai.“Tolong—” ujarnya pada siapa saja yang lewat.Sagara baru saja keluar dari ruang VIP ketika seorang gadis hampir jatuh ke pelukannya. Refleks, dia menangkap tubuh itu. Jingga mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca dan kedua pipinya memerah. “Panas, Om, tolong aku—”Sagara mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis mencoba menggodanya dengan pura-pura mabuk. Enggan menanggapi, dia hendak memanggil petugas keamanan club. Namun, sebelum itu terjadi, dia mendengar suara dari arah bar.“Cepat bawa dia ke hotel sebelum pengaruh obatnya hilang!”“Kamu sudah gila! Bagaimana kalau kakeknya yang kaya itu tahu? Perusahaan keluargaku bisa hancur.”“Tenang saja. Pak Akmal Langkana tidak akan tahu.”Darah Sagara mendidih. Dia menoleh tajam ke arah sumber

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status