Share

Ajakan Menikah

Author: Syamwiek
last update Last Updated: 2026-01-13 09:30:45

“Jin, pelan-pelan! Nanti kita terpeleset di tangga!” teriak Kayla saat sahabatnya menyeretnya menuruni anak tangga.

“Duh, kalau pelan-pelan, nanti bisa barengan lagi sama Om ganteng itu,” keluh Jingga.

“Memangnya kamu kenal sama Om ganteng yang tadi di lift?”

“Dia yang nolongin aku waktu di club.”

“Hah?”

Kayla langsung menghentikan langkahnya. Otomatis Jingga ikut terhenti.

“Kenapa kamu malah kabur? Harusnya kamu ucapin terimakasih.”

“Kay, please deh,” kata Jingga setengah putus asa. “Tiba-tiba dia ada di kampus ini. Kalau dia ternyata dosen atau anggota yayasan, bisa tamat hidupku.”

Kayla menggaruk kepalanya. “Iya juga, ya.”

“Makanya, ayo kita kabur. Jangan sampai ketemu Om ganteng itu lagi.”

“Sayang banget, sih, pria seganteng itu harus dihindari.”

Keduanya pun bergegas menuruni tangga, menuju area parkir yang berada di sebelah Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

***

“Nenek!” Jingga berteriak dari lantai dua. “Ini dress-nya ketat banget! Aku sampai susah nafas!”

Nenek Resti yang sedang duduk di ruang keluarga langsung berdiri. Berjalan cepat ke arah lift untuk menuju ke kamar cucunya.

Begitu sampai, dia langsung berkacak pinggang melihat Jingga yang berdiri di depan cermin dengan bibir mencebik. Berusaha menarik-narik dress midi putih polos yang memang terlihat ketat di bagian pinggang.

“Ketat apanya sih, Nak?! Itu kan ukuran kamu.”

“Nek, kalau dipakai gak nyaman rasanya.”

Jingga mencoba memutar badan, tapi dressnya terasa mencekik.

“Salah kamu sendiri! Kemarin Nenek kan sudah bilang, orang butik langganan Nenek mau datang jam 4 sore untuk fitting. Eh, kamu malah pulang jam berapa? Jam delapan malam! Tentu saja mereka cuma bisa mengira-ngira ukuranmu.”

“Nenek tau kan aku lagi sibuk ngerjain skripsi? Aku cari buku di perpus.”

“Sibuk skripsi atau sibuk menghindar dari acara perjodohan?”

Nenek Resti melipat tangan di dada, menatap cucunya dengan tatapan menyelidik.

Sementara Jingga terdiam. Tebakan Neneknya barusan tepat sekali.

“Nah, kan! Sudah Nenek duga.” Nenek Resti mengangguk-anggukan kepala. “Makanya Nenek sengaja gak bilang kalau hari ini kamu harus ketemu cucu sahabat Nenek. Soalnya kalau Nenek bilang kamu pasti kabur lagi.”

“Nenek—”

“Ini demi kebaikanmu, Jingga!”

Jingga menghembuskan nafas pasrah. Tak mau berdebat lagi dengan Neneknya.

“Oke, oke, aku akan temui pria yang kata Nenek… CEO, dosen mapan dan kaya raya itu.”

“Bagus! Gitu dong, kamu ini sukanya bikin kepala Nenek migrain.”

“Setelah bertemu dan ngobrol ternyata kami gak cocok perjodohan batal ya.”

“Belum ketemu sudah bilang gak cocok?”

“Ya kan aku memastikan Nenek tidak ingkar janji. Paksa aku buat nikah sama pria yang tidak aku cintai.”

Jingga belum beranjak dari tempatnya berdiri. Masih menunggu jawaban Neneknya.

“Nek,” panggilnya saat Nenek Resti tak kunjung menjawab.

“Iya, iya! Nenek janji,” katanya. “Sekarang pakai heels yang sudah Nenek siapkan. Terus rambutnya gak usah di kuncir, gerai saja, biar gak kaya kuda betina.”

“Ya ampun, Nenek. Bisa-bisanya cucunya dikatai kuda betina.” Jingga mengelus dada sambil memakai heels-nya.

“Ayo, cepat! Pak Budi sudah nungguin di mobil. Dia yang akan mengantar dan memastikan kamu sampai di restoran.”

Sepuluh menit kemudian, Jingga sudah duduk di kursi belakang mobil dengan wajah cemberut.

Pak Budi, sopir keluarga mereka yang sudah bekerja 22 tahun, melirik Jingga dari kaca spion tengan sambil terkikik geli.

“Mau kencan masak cemberut gitu sih, Non?”

“Siapa yang mau kencan, Pak?! Nenek tuh yang kurang kerjaan. Kayak aku gak laku aja.”

“Gapapa, Non. Siapa tahu kali ini beneran jodoh.”

“Pak Budi jangan ikut-ikutan Nenek dong!” protes Jingga. “Aku gak ada rencana nikah muda.”

“Sekarang memang belum, Non. Siapa tahu setelah pulang nanti rencananya sudah ada.”

Jingga memutar bola mata, menatap ke luar jendela. Mobil pun mulai melaju, meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Jingga.

Sepanjang perjalanan menuju restoran, Jingga menyusun rencana untuk menggagalkan rencana perjodohan.

Rencana baru yang Neneknya tak akan menyangka jika dia akan melakukan hal konyol itu.

Sakingnya asyiknya tenggelam dalam pikirannya sendiri, Jingga tak menyadari bahwa mobil telah berhenti di depan sebuah restoran mewah.

“Sudah sampai, Non.” Pak Budi membukakan pintu.

Jingga turun dengan perlahan, lalu menarik nafas panjang.

‘Tenang, Jingga. Kamu pasti bisa membatalkan perjodohan ini.”

Jingga melangkah masuk ke dalam restoran dengan langkah ragu. Seorang waiter langsung menyambutnya dengan ramah.

“Selamat malam, Nona. Sudah reservasi?”

“Iya, atas nama… um,” Jingga lupa bertanya pada Neneknya. “Tunggu, saya—”

“Atas nama Sagara Calvin Zaidan?” waiter itu menebak.

Jingga mengenyitkan kening. “Sagara?”

Saking tak pedulinya dengan perjodohannya—dia bahkan lupa bertanya nama pria yang akan ditemui.

Jingga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu mengambil ponselnya, baru dibuka kuncinya, langsung ada notifikasi pesan masuk dari Nenek Resti.

📩 Nenek Resti: “Reservasi atas nama Sagara Calvin Zaidan.”

Lalu Jingga menatap waiter dan berkata, “Iya, atas nama Sagara.”

“Silahkan ikut saya, Nona.”

Jingga mengikuti waiter itu melewati meja-meja restoran yang dipenuhi dengan pasangan-pasanan yang sedang makan malam romantis.

“Ini mejanya, Nona,” Waiter menarik kursi untuk Jingga.

Jingga duduk, kedua matanya menyapu sekeliling restoran. “Orangnya belum datang ya?”

“Tuan Sagara sudah reservasi meja ini, tapi belum tiba. Mungkin sebentar lagi. Nona mau pesan minuman dulu?”

“Air putih saja.”

“Baik, Nona.”

Waiter itu pergi, meninggalkan Jingga sendirian di meja bundar dengan taplak putih dan lilin di tengahnya. Jingga mengambil ponselnya dalam tas, membuka chat dengan Kayla.

📩Jingga: “Kay, kamu tau nama panjang Prof. Sagara?”

Ting…

Pesan balasan langsung muncul dalam beberapa detik.

📤Kayla: “Sagara Calvin Zaidan. Kenapa? Bukannya kamu sudah tahu?”

“Mampus kamu, Jingga!”

Jingga mengetuk-ngetukkan keningnya ke pinggiran meja dengan frustasi.

“Kok bisa sih Prof. Sagara yang dijodohkan sama aku?!”

Rasanya dia ingin kabur dari restoran sekarang juga. Sayangnya, Pak Budi pasti berjaga di depan—memastikan dia benar-benar bertemu dengan Sagara.

“Ehem!”

Jingga meringis, tak berani mengangkat wajah.

Lalu terdengar suara kursi ditarik, disusul bunyi sesuatu diletakkan di atas meja. Mungkin kunci mobil dan ponsel.

“Wajah kamu kenapa?”

Suara bariton itu membuat bulu kuduk Jingga meremang. Dia semakin takut pria yang kini duduk tepat di depannya—pria yang namanya menjadi perbincangan panas di kampus.

Dengan perlahan Jingga mengangkat kepala.

Dan detik itu juga, dia menyesal.

“Loh, kok—” Jingga terdiam, terlalu terkejut hingga kehilangan kata-kata.

“Pria yang hampir kamu renggut kesuciannya,” ujar Sagara.

Jingga tersenyum canggung. “Maaf, Om–eh, Prof. Aku khilaf.”

Ternyata, Sagara masih mengingat pertemuan pertamanya dengan gadis yang kini merona menahan malu.

“Aku tidak punya banyak waktu, jadi tidak perlu basa-basi.”

“Iya, Prof.”

“Kamu mau tunangan dulu atau langsung menikah?!”

“Eh—”

“Kenapa kaget? Bukankah tujuanmu datang ke sini memang untuk membahas itu?”

Hening sejenak.

Jingga masih mencerna pertanyaan Sagara, sementara pria itu tampak menikmati ekspresi bingung gadis di depannya.

“Tapi kita kan baru pertama bertemu, Prof?”

“Tiga kali—in case you forgot.”

“Kecepetan kalau langsung membahas pernikahan.”

“Oke, berarti kamu mau tunangan dulu,” jawab Sagara. “So, when are we looking for the ring?”

“Prof, maksudku bukan langsung tunangan juga. Tapi, kita bisa mulai dari masa pengenalan dulu.”

“Aku tidak punya waktu untuk pacaran.”

“Masak baru kenal langsung tunangan, sih?”

“Perkenalkan, aku Sagara Calvin Zaidan. Biasanya dipanggil Saga oleh keluarga dan teman dekat. Anak pertama dari dua bersaudara. Usia 33 tahun. Memiliki pekerjaan yang cukup mapan dan rumah sendiri—meskipun kecil. Aku tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol.”

Jingga terdiam melongo, kaget dengan sikap Sagara yang terlalu blak-blakan.

Bahkan dia yang sejak awal berniat menolak perjodohan justru mendadak kebingungan. Niatnya untuk menolak perlahan bergeser menjadi keinginan untuk setidaknya mengenal Sagara lebih dulu.

“Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?” Tanya Sagara. “Aku masih punya waktu lima menit sebelum meeting.”

Refleks, Jingga menggelengkan kepala. Tenggorokannya tercekat hingga tak satupun kata mampu keluar.

“Oke. Kalau begitu, aku pamit,” lanjut Sagara sambil berdiri. “Nanti aku akan menghubungimu.”

Setelah itu, Sagara melangkah menuju private room, meninggalkan Jingga yang masih mematung di tempatnya.

“Ya ampun, ngajak tunangan kayak ngajak rapat bulanan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Ajakan Menikah

    “Jin, pelan-pelan! Nanti kita terpeleset di tangga!” teriak Kayla saat sahabatnya menyeretnya menuruni anak tangga. “Duh, kalau pelan-pelan, nanti bisa barengan lagi sama Om ganteng itu,” keluh Jingga. “Memangnya kamu kenal sama Om ganteng yang tadi di lift?”“Dia yang nolongin aku waktu di club.”“Hah?”Kayla langsung menghentikan langkahnya. Otomatis Jingga ikut terhenti.“Kenapa kamu malah kabur? Harusnya kamu ucapin terimakasih.”“Kay, please deh,” kata Jingga setengah putus asa. “Tiba-tiba dia ada di kampus ini. Kalau dia ternyata dosen atau anggota yayasan, bisa tamat hidupku.”Kayla menggaruk kepalanya. “Iya juga, ya.”“Makanya, ayo kita kabur. Jangan sampai ketemu Om ganteng itu lagi.”“Sayang banget, sih, pria seganteng itu harus dihindari.”Keduanya pun bergegas menuruni tangga, menuju area parkir yang berada di sebelah Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. ***“Nenek!” Jingga berteriak dari lantai dua. “Ini dress-nya ketat banget! Aku sampai susah nafas!”Nenek Resti yang

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Dosbing Baru

    Jingga masuk ke dalam kelas dengan wajah mendung. Ranselnya dia taruh diatas meja dengan agak keras sampai beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh.“Woilah, Jin!” Kayla langsung mendekat. “Asisten pribadi Kakek Akmal kemarin telepon aku. Katanya kamu gak balik ke rumah. Duh, aku sampai gemeteran jawabnya.”Jingga—atau Jin, panggilan dari teman-temannya karena dia menganggap dirinya istri Kim Seok Jin—memasang wajah memelas. “Sialan si Karen itu. Dia berusaha menjebakku lagi. Dan aku hampir saja masuk perangkapnya.”“Kok bisa? Biasanya kamu gak pernah terpancing sama umpan kakak tirimu.”“Gara-gara dia nyebut nama Sean, aku jadi tertarik buat ketemu.”“Sean lagi, Sean lagi. Udah aku bilang, dia gak akan kenapa-napa. Sean itu anak kesayangan mamamu.”“Untung saja aku ketemu om-om baik hati yang nolongin aku waktu orang suruhan Karen mau membawaku ke hotel.”“Karen masukin obat ke minumanmu lagi?”“Hm, bodohnya aku malah menghabiskannya sampai tandas, tanpa rasa curiga.”“Ck, harusnya

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Rencana Kencan Buta

    Jingga membuka pintu rumah dengan perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan Kakek dan Neneknya tak menunggunya di ruang tamu. Suasana terlihat sepi. Dia pun tersenyum lega, lalu masuk dengan berjinjit agar tak menimbulkan suara.Dengan langkah setenang mungkin, Jingga melangkah menuju tangga. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama ketika—“Jingga Langkana Nayara!”Tubuh Jingga membeku. Suara Nenek Resti tiba-tiba menggema dari arah taman belakang.“Sini, sarapan dulu,” ujar Nenek Resti, pelan, namun terdengar mengerikan di telinga Jingga.Jingga memejamkan mata, menghela nafas panjang, lalu membalikkan badan sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.Dengan ceria, Jingga berjalan menuju taman belakang. Wajahnya tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, di dalam hatinya berkecamuk kecemasan karena semalam dia tidak pulang ke rumah.“Pagi, Nenek, Kakek,” sapanya ceria sambil mengecup pipi Nenek Resti dan Kakek Akmal secara bergantian. Dia kemudian duduk di ku

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Hampir Saja

    Jingga membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri. Dia menatap langit-langit yang terasa asing dengan sorot bingung.‘Ini dimana?’Ingatannya perlahan melayang ke malam sebelumnya—saat Karen, menghubunginya dan meminta bertemu untuk membicarakan perihal kesehatan Sean.Hampir dua bulan Jingga tak pernah bertemu dan tak bisa menghubungi Sean. Meski mereka tak tinggal serumah, Jingga justru sangat dekat dengan adik tirinya itu. Sean selalu baik padanya—sangat berbeda dengan Karen, kakak tiri yang manipulatif.Sesampainya di club, Karen sama sekali tak mau memberi tahu apapun tentang keadaan Sean. Setelah perdebatan panjang—Jingga kesal dan asal saja meraih gelas di atas meja dan meneguk isinya hingga tandas.Saat tubuhnya mulai terasa aneh, Karen menariknya ke lantai dansa. Jingga akhirnya berhasil keluar dari kerumunan dengan tubuh lemas, hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang pria.‘Astaga, semalam aku sampai gelendotan sama Om-Om ganteng!’Panik, Jingga langsung membuka s

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   Malam Panas

    Musik club berdentam keras, tapi Jingga hampir tak mendengarnya lagi. Kepalanya berputar, tubuhnya terasa terbakar dari dalam. Dia tersandung keluar dari kerumunan jika tak berpegangan pada dinding pasti sudah tersungkur ke lantai.“Tolong—” ujarnya pada siapa saja yang lewat.Sagara baru saja keluar dari ruang VIP ketika seorang gadis hampir jatuh ke pelukannya. Refleks, dia menangkap tubuh itu. Jingga mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca dan kedua pipinya memerah. “Panas, Om, tolong aku—”Sagara mengerutkan kening. Ini bukan pertama kalinya seorang gadis mencoba menggodanya dengan pura-pura mabuk. Enggan menanggapi, dia hendak memanggil petugas keamanan club. Namun, sebelum itu terjadi, dia mendengar suara dari arah bar.“Cepat bawa dia ke hotel sebelum pengaruh obatnya hilang!”“Kamu sudah gila! Bagaimana kalau kakeknya yang kaya itu tahu? Perusahaan keluargaku bisa hancur.”“Tenang saja. Pak Akmal Langkana tidak akan tahu.”Darah Sagara mendidih. Dia menoleh tajam ke arah sumber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status